Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Bismillāhirrahmānirrahīm.
Sering muncul pertanyaan di tengah masyarakat:
“Katanya kalau mau sukses harus rajin sholat dan ibadah. Tapi kok ada orang yang tidak sholat justru kaya raya? Bahkan ada orang non muslim yang hidupnya terlihat sukses, punya perusahaan besar, rumah mewah, dan jabatan tinggi?”
Pertanyaan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu manusia sering tertipu oleh gemerlap dunia dan mengira bahwa banyaknya harta adalah tanda kemuliaan di sisi Allah.
Padahal dalam Islam, ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari uang, jabatan, atau kemewahan dunia. Al-Qur’an dan hadits menjelaskan bahwa dunia bisa menjadi: nikmat, ujian, bahkan istidraj (jebakan kenikmatan sebelum azab).
Allah Ta’ala berfirman:
“Jangan sekali-kali engkau tertipu oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah Jahannam.” QS. Ali ‘Imran: 196–197
Ayat ini menegaskan bahwa kesuksesan dunia bukan otomatis tanda dicintai Allah.
Dunia Bisa Diberikan Kepada Siapa Saja
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Tetapi Allah tidak memberi agama kecuali kepada orang yang Dia cintai.” HR. Ahmad
Artinya: kekayaan bukan bukti pasti seseorang mulia di sisi Allah, kemiskinan juga bukan tanda Allah membencinya, ukuran utama adalah iman dan takwa.
Banyak orang diberi kekayaan karena kerja keras, kecerdasan, disiplin, dan usaha mereka. Karena sunnatullah dunia berlaku untuk semua manusia.
Orang yang rajin belajar biasanya lebih berhasil. Orang yang disiplin biasanya lebih maju. Orang yang bekerja keras biasanya lebih kaya.
Baik dia muslim maupun non muslim. Namun keberhasilan dunia tidak otomatis berarti keselamatan akhirat.
Allah berfirman:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna… tetapi di akhirat mereka tidak memperoleh selain neraka.” QS. Hud: 15–16
Rezeki Bukan Hanya Uang
Banyak orang menyangka rezeki hanyalah: gaji besar, rumah mewah, kendaraan mahal, bisnis berkembang.
Padahal rezeki jauh lebih luas.Rezeki terbesar justru: hati yang tenang, keluarga harmonis, kesehatan, anak saleh, tidur nyenyak, hidup penuh keberkahan, iman dan hidayah.
Allah berfirman:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” QS. Thaha: 124
Yang dimaksud “kehidupan sempit” bukan sekadar miskin uang.
Tetapi bisa berupa: hati gelisah, selalu takut, hidup penuh kecemasan, rumah tangga rusak, sulit bahagia, kehilangan ketenangan.
Betapa banyak orang kaya yang: susah tidur, depresi, keluarganya hancur, anak-anaknya rusak, hidup dalam tekanan, bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.
Sebaliknya ada orang sederhana: makan seadanya, rumah kecil, penghasilan pas-pasan, tetapi: sholatnya terjaga, keluarganya hangat, hidupnya tenang, wajahnya bercahaya, dicintai masyarakat, hatinya damai. Itulah keberkahan.
Kisah Qarun: Kaya Raya Tetapi Binasa
Al-Qur’an menceritakan kisah Qarun, seorang yang sangat kaya di zaman Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Hartanya begitu melimpah hingga kunci-kunci gudangnya saja dipikul banyak orang.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” QS. Al-Qashash: 76
Orang-orang awam saat itu kagum melihat kekayaan Qarun. Mereka berkata:
“Aduhai, kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” QS. Al-Qashash: 79
Namun Qarun sombong dan merasa sukses karena dirinya sendiri. Ia berkata:
“Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” QS. Al-Qashash: 78
Lalu Allah membinasakannya dengan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi. Kisah ini mengajarkan: kesuksesan dunia tanpa iman dapat menjadi sebab kehancuran.
Kisah Nabi Sulaiman: Kaya dan Taat
Sebaliknya, Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam diberi kerajaan luar biasa: kekuasaan besar, tentara, kekayaan, bahkan kemampuan menundukkan angin dan jin.
Namun beliau tetap tawadhu dan bersyukur. Beliau berkata:
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” QS. An-Naml: 40
Artinya: harta dan kekuasaan hanyalah ujian. Kalau membuat seseorang makin taat, itu nikmat. Kalau membuat lalai dan sombong, itu musibah.
Para Sahabat yang Kaya Tetapi Bertakwa
Islam tidak melarang kaya. Banyak sahabat Nabi yang sangat kaya: Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Namun kekayaan mereka dipakai untuk: sedekah, membantu dakwah, membebaskan budak, menolong kaum miskin, membela Islam.
Utsman bin Affan pernah membeli sumur Raumah untuk kaum muslimin dan membiayai pasukan perang Tabuk dengan hartanya sendiri. Mereka kaya, tetapi hati mereka tidak diperbudak dunia.
Sholat Bukan Sekadar “Cara Cepat Kaya”
Kadang ada orang berpikir:
“Kalau saya sholat rajin, berarti Allah harus membuat saya kaya.” Ini pemahaman yang keliru. Sholat bukan transaksi bisnis dengan Allah.
Sholat adalah: bentuk penghambaan, kebutuhan ruh, sumber ketenangan, jalan keberkahan, sebab datangnya pertolongan Allah.
Allah berfirman:
“Perintahkan keluargamu untuk sholat dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” QS. Thaha: 132
Sholat menjaga manusia dari kehinaan hidup. Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” QS. Al-‘Ankabut: 45
Karena itu, orang yang menjaga sholat sejatinya sedang menjaga: hati, akhlak, hidup, dan akhiratnya.
Fenomena Zaman Sekarang
Hari ini kita melihat banyak tokoh dunia: miliarder, artis terkenal, pengusaha besar, pejabat, influencer, yang terlihat sangat sukses.
Namun tidak sedikit dari mereka: mengalami depresi, kecanduan narkoba, perceraian, konflik keluarga, kesepian, bahkan bunuh diri.
Ini membuktikan: uang tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan. Sebaliknya kita juga sering menemukan: pedagang kecil, guru ngaji, petani sederhana, tukang becak, marbot masjid, yang hidup sederhana tetapi wajahnya tenang dan dicintai masyarakat. Karena ketenangan adalah rezeki terbesar.
Hakikat Kesuksesan Menurut Islam
Kesuksesan sejati bukan sekadar: mobil mewah, rumah besar, jabatan tinggi, saldo rekening. Tetapi: iman yang terjaga, hati yang tenang, keluarga yang sakinah, hidup penuh keberkahan, dan husnul khatimah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” HR. Bukhari dan Muslim
Maka jangan iri kepada orang yang tampak sukses tetapi jauh dari Allah. Boleh jadi: itu hanya kesenangan sementara, ujian, atau istidraj.
Dan jangan rendah diri bila hidup sederhana namun dekat dengan Allah. Karena bisa jadi engkau mulia di sisi-Nya.
Penutup
Mari kita luruskan cara pandang tentang sukses. Ibadah bukan sekadar jalan mencari uang. Sholat bukan alat transaksi dunia. Tetapi ibadah adalah: jalan keselamatan, sumber keberkahan, penenang hati, cahaya hidup, dan bekal menuju akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita: hamba yang bersyukur ketika diberi, sabar ketika diuji, istiqamah dalam sholat, dan sukses dunia akhirat.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. Wallāhu a‘lam bish shawāb.






