Menjaga Api Sejarah, Menyalakan Masa Depan

Jakarta – Seusai pelaksanaan Pleno X DPP AMPI, Muh. Arman Alwi menyampaikan pandangannya mengenai amanah baru yang diterimanya sebagai Wakil Ketua Umum DPP AMPI sekaligus Ketua POKJA AD/ART AMPI.

Amanah tersebut, menurut Arman, harus dijalankan sebagai bagian dari konsolidasi organisasi di bawah kepemimpinan PLT Ketua Umum DPP AMPI Mafa Uswanas, Sekretaris Jenderal DPP AMPI Robi Anugrah Marpaung dan Bendum DPP AMPI, khususnya dalam mempersiapkan AMPI menuju Rapimnas dan MUNAS.

“Saya melihat amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab untuk bekerja mengikuti arah dan kebijakan Pimpinan DPP AMPI. Bung Mafa sebagai PLT Ketua Umum dan Bung Robi sebagai Sekjend telah memberikan arah agar organisasi berjalan semakin tertib, solid, dan konstitusional. POKJA AD/ART harus menjadi bagian dari ikhtiar tersebut,” ujar Arman selaku ikhtiar Pembaharuan Metodologi AMPI di Bawah Arah Kepemimpinan Mafa Uswanas, Robi Anugrah Marpaung dan Bendum DPP AMPI dalam keterangannya, Sabtu (15/8/26).

Menurut Wakil Ketua Umum DPP AMPI ini, pembaharuan AD/ART harus dimulai dari kesadaran bahwa konstitusi organisasi bukan milik kelompok tertentu.

“AD/ART adalah milik seluruh keluarga besar AMPI. Karena itu, proses penyusunannya harus mendengar suara struktur yang memiliki mandat dan hak suara, yaitu DPD AMPI se-Indonesia,” tegasnya.

Ketua POKJA AD/ART AMPI ini menilai, DPD tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek dalam proses pembaharuan organisasi. Mereka harus menjadi bagian dari sumber gagasan dan aspirasi.

Karena itu, POKJA AD/ART akan diarahkan untuk membuka ruang komunikasi dan penjaringan masukan dari seluruh DPD AMPI sebagai bahan kajian sebelum penyusunan draft.

Namun, Arman menegaskan bahwa pembaharuan AD/ART bukan berarti mengubah jati diri AMPI.

“Spirit Deklarasi Pandaan tetap menjadi ruh AMPI. Substansinya kita pertahankan, tetapi metodologinya harus kita perbaharui. Kita tidak boleh kehilangan sejarah, tetapi juga tidak boleh terjebak dalam cara-cara lama ketika zaman sudah berubah,” terangnya.

Baginya, organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang memiliki kemampuan untuk menjaga nilai sekaligus memperbaharui metode.

Perubahan generasi, teknologi, pola komunikasi, dinamika sosial, ekonomi, dan politik membutuhkan tata kelola organisasi yang lebih adaptif.

Karena itu, ada tiga fondasi yang menurut Arman perlu diperkuat : aturan main, administrasi, dan etika organisasi.

Aturan main harus memberikan kepastian. Administrasi harus memberikan ketertiban. Etika harus menjaga marwah organisasi.

“Kita ingin AMPI menjadi organisasi yang kuat secara konstitusi, tertib secara administrasi, dewasa secara etika, dan adaptif menghadapi zaman,” imbuhnya.

Arman juga menegaskan bahwa POKJA AD/ART tidak memiliki kewenangan untuk mengesahkan perubahan konstitusi organisasi.

“POKJA bekerja menyerap aspirasi, melakukan kajian, dan menyusun rumusan. Hasilnya menjadi bahan pembahasan menuju Rapimnas dan MUNAS. Kewenangan pengesahan AD/ART tetap berada pada MUNAS sesuai mekanisme konstitusi organisasi,” jelasnya.

Ia menggambarkan prinsip kerja tersebut secara sederhana :

DPD menyampaikan aspirasi.
POKJA mengolah dan merumuskan.
DPP mengarahkan dan mengawal.
Rapimnas membahas sesuai kewenangannya.
MUNAS mengambil keputusan konstitusional.

Bagi Arman, inilah cara menjaga agar pembaharuan AMPI tidak menjadi proyek segelintir orang, melainkan menjadi agenda bersama seluruh struktur AMPI.

“Saya ingin POKJA ini bekerja dengan kepala dingin, hati terbuka, dan pijakan konstitusi. Kita tidak sedang membuat AMPI yang baru. Kita sedang mencari cara baru agar AMPI tetap menjadi AMPI,” bebernya.

Dalam konteks tersebut, ia menempatkan kepemimpinan Mafa Uswanas, Robi Anugrah Marpaung dan Bendum DPP AMPI sebagai bagian penting dalam menjaga ritme konsolidasi organisasi.

“Saya percaya kepemimpinan Bung Mafa, Bung Robi dan Bendum, membutuhkan kerja kolektif seluruh jajaran DPP AMPI. Tugas kita adalah menerjemahkan arah pimpinan ke dalam kerja organisasi yang konkret, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Pada akhirnya, Arman melihat agenda menuju Rapimnas dan MUNAS bukan hanya sebagai agenda rutin organisasi, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat kembali fondasi AMPI.

“Kita ingin membawa spirit Pandaan ke generasi baru. Ruhnya tetap, identitasnya tetap, tetapi cara bergeraknya kita perbaharui,” tandasnya.

Merawat sejarah.
Menata konstitusi.
Memperbaharui metodologi.
Dan menyiapkan AMPI untuk masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *