JAKARTA – BELA RAKYAT – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid berdiskusi bersama Staf Khusus Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital Raline Shah mengenai pentingnya membangun ruang digital yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Diskusi tersebut menyoroti kebiasaan masyarakat ketika berinteraksi di media sosial, khususnya sebelum memberikan tanda suka, menulis komentar, maupun membagikan sebuah informasi. Pesan utamanya sederhana, tetapi sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini: jangan mudah ikut arus hanya karena sesuatu terlihat keren atau sedang viral.
Raline Shah menekankan bahwa sesuatu yang terlihat menarik, populer, atau dianggap keren di media sosial belum tentu merupakan sesuatu yang benar.
“Something that is cool itu belum tentu something that is right,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi tersebut seperti dikutip Instagram pribadinya.
Menurut Raline, masyarakat perlu membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum memberikan respons di ruang digital. Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah informasi yang hendak disukai, dikomentari, atau dibagikan memang penting, benar, dan faktual.
“Apakah ini penting? Apakah ini benar? Apakah ini faktual?” menjadi pertanyaan sederhana yang dapat menjadi rem sebelum seseorang ikut menyebarkan sebuah informasi.
Jangan Sekadar Ikut Viral
Di tengah derasnya arus informasi, media sosial sering membuat seseorang terdorong untuk mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan. Tekanan sosial atau peer pressure juga dapat membuat orang ikut memberikan komentar dan membagikan konten tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.
Raline mengingatkan agar masyarakat tidak sekadar “ngikut-ngikutin doang”. Tapi perlu memiliki pemikiran cek data terlebib dahulu.
Sebab, sesuatu yang viral tidak otomatis benar. Begitu pula sesuatu yang banyak mendapatkan perhatian publik tidak selalu memiliki dasar informasi yang kuat.
Karena itu, berpikir kritis menjadi kemampuan penting dalam kehidupan digital.
Bagi Raline, kebiasaan mengambil jeda sebelum menekan tombol like, comment, atau share bukan hanya berkaitan dengan konsekuensi terhadap diri sendiri. Lebih jauh, setiap tindakan di ruang digital dapat memberikan dampak kepada masyarakat.
Informasi yang keliru, apabila terus dibagikan, dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Meutya Hafid: Kalau Ruang Digital Tercemar, Masyarakat Ikut Terdampak
Menkomdigi Meutya Hafid kemudian menegaskan bahwa persoalan informasi di ruang digital tidak berhenti pada layar telepon genggam.
Ketika hoaks dan informasi yang menyesatkan menyebar, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.
“Begitu ruang digital tercemar dengan hoaks, semuanya kena di masyarakat,” ujar Meutya dalam diskusi tersebut.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa ruang digital kini memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Apa yang muncul di media sosial dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah persoalan, membentuk opini, bahkan memengaruhi hubungan sosial di kehidupan nyata.
Karena itu, menjaga ruang digital bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, platform digital, maupun media. Pengguna media sosial juga memiliki peran penting dalam memastikan informasi yang disebarkan tidak justru memperkeruh keadaan.
Demokrasi Boleh Berbeda Pendapat, Tetapi Fakta Tetap Fakta
Dalam diskusi tersebut, Raline juga menyinggung hubungan antara ruang digital, kebebasan berpendapat, dan demokrasi.
Menurutnya, demokrasi memungkinkan adanya pendapat yang berbeda, baik positif maupun negatif. Perbedaan perspektif merupakan bagian dari dinamika demokrasi.
Namun, perbedaan pendapat tidak seharusnya menghilangkan penghormatan terhadap fakta.
“Facts is facts,” tegas Raline.
Artinya, lanjutnya, seseorang boleh memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat sebuah persoalan, tetapi informasi faktual tetap perlu ditempatkan berdasarkan data dan kebenarannya.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena media sosial memungkinkan sebuah informasi menyebar dalam waktu yang sangat cepat. Satu unggahan dapat dilihat, dikomentari, dan dibagikan oleh ribuan bahkan jutaan orang.
Jika informasi yang disebarkan ternyata keliru, efeknya pun dapat menjadi sangat luas.
“Nila Setitik Merusak Susu Sebelanga”
Raline juga menggunakan peribahasa “nila setitik merusak susu sebelanga” untuk menggambarkan betapa cepatnya dampak negatif menyebar di ruang digital.
Baginya, dua atau tiga orang saja dapat memberikan pengaruh terhadap banyak orang apabila informasi yang mereka sebarkan mendapatkan perhatian publik.
Ia juga mengibaratkan fenomena tersebut dengan istilah “tong kosong nyaring bunyinya”.
Di media sosial, suara yang paling keras belum tentu berasal dari orang yang paling memahami persoalan. Sebaliknya, orang yang memiliki pengetahuan dan substansi terkadang justru tidak selalu menjadi pihak yang paling ramai terdengar.
Karena itulah, masyarakat perlu belajar membedakan antara informasi yang sekadar ramai dengan informasi yang memang memiliki substansi.
Fakta Bisa Dipersepsikan Berbeda
Raline juga menjelaskan bahwa informasi faktual dapat dipersepsikan secara berbeda oleh masyarakat.
Satu fakta yang sama dapat dipandang positif oleh seseorang dan negatif oleh orang lain, tergantung pada perspektif maupun cara informasi tersebut dipahami.
Perbedaan persepsi merupakan sesuatu yang wajar dalam masyarakat demokratis.
Namun, perbedaan persepsi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan fakta.
Di sinilah kemampuan literasi digital dan berpikir kritis menjadi penting. Masyarakat perlu mampu memilah informasi, memahami konteks, memeriksa sumber, serta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.
Teman Diskusi Ibu Menteri yang Relevan dengan Generasi Digital
Diskusi Meutya Hafid dan Raline Shah menjadi menarik karena membicarakan persoalan digital dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya membahas teknologi dari sisi teknis, tetapi juga menyentuh perilaku manusia ketika menggunakan teknologi.
Pesannya sangat sederhana: sebelum berbicara, berpikir; sebelum membagikan, periksa; sebelum mengikuti arus, pastikan kebenarannya.
Kehadiran Raline Shah sebagai teman diskusi Meutya Hafid juga memberikan warna tersendiri. Keduanya membahas bagaimana masyarakat, khususnya generasi yang aktif menggunakan media sosial, dapat ikut membangun ekosistem digital yang lebih sehat.
Di tengah budaya viral yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi sesuatu yang penting.
1. Tidak semua yang viral harus diikuti.
2. Tidak semua yang ramai harus dipercaya.
3. Tidak semua yang terlihat keren harus dianggap benar.
4. Dan tidak semua informasi harus langsung dibagikan.
Think Before You Speak
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dari diskusi tersebut adalah pentingnya membangun kebiasaan “Think Before You Speak”—berpikir sebelum berbicara.
Dalam konteks media sosial, pesan tersebut dapat diperluas menjadi: Think Before You Like, Think Before You Comment, dan Think Before You Share.
Sebab, satu klik mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tetapi dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama.
Membangun ruang digital yang sehat membutuhkan kontribusi dari semua pihak. Pemerintah dapat membuat kebijakan, platform dapat memperkuat sistem keamanan dan moderasi, sementara masyarakat memiliki peran besar dalam menentukan informasi seperti apa yang ingin terus hidup di ruang digital.
Pada akhirnya, kualitas ruang digital juga ditentukan oleh kualitas perilaku para penggunanya.
Jangan cuma jadi bagian dari keramaian. Jadilah bagian dari kebenaran.
Berhenti sejenak. Cek faktanya. Pahami konteksnya. Baru kemudian bicara, berkomentar, atau membagikan.
Karena di era digital, jempol kita punya dampak.






