Ada satu ayat Alquran. Menggambarkan betapa meliputinya Allah pada segala ruang dan waktu. Menandakan bahwa Allah tidak terikat dengan hukum penciptaan, yaitu hukum relativitas ruang dan waktu. Sedangkan manusia, terikat dengan keabsolutan ruang dan waktu. Maksudnya begini suatu peristiwa kemanusiaan, mutlak bergantung pada kondisi ruang dan waktu.
Misalnya, kemerdekaan Indonesia, tidak bisa lagi diulang peristiwanya persis seperti tahun 1945. Karena ruang dan waktu 1945 itu spesifik, baik secara geopolitik maupun dinamika domestik saat itu. Geopolitik saat itu, perang dunia ke-2 dan menyerahnya Jepang akibat dibom atom. Belanda sudah terusir oleh Jepang dari Indonesia. Masyarakat sudah memuncak tekadnya untuk merdeka dan ingin mengurusi sendiri negaranya tanpa Belanda lagi. Akibatnya, terjadilah kemerdekaan yang sekarang kita peringati kembali.
Itulah gambaran ruang dan waktu saat itu. Intinya, peristiwa kerap hadir spesifik dan tidak konstan melewati ruang dan waktu. Bagaimana pun kita menciptakan ulang peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu, tetap tidak akan bisa terjadi persis, suasananya, faktor-faktor historisnya, maupun semangat dan gegap-gempitanya.
Tetapi ternyata ada peristiwa di Indonesia yang konstan dan seperti mengatasi fenomena hukum ruang dan waktu. Dia seperti menyejarah. Tidak lekang oleh zaman. Dari waktu ke waktu, terus mengada. Terjadi dan malah makin menyala. Dia laksana fenomena objek penglihatan seorang hamba yang kasyaf, yang menyaksikan: Allah ada dimana-mana.
Memang Allah ada dimanapun, kapanpun. Bukankah Allah telah menyatakan hal itu:
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ
Artinya: … maka kemanapun kamu menghadap, di situ wajah Allah. (Surat Al-Baqarah Ayat 115)
Tapi ini bukan fenomena Allah, Sang Sembahan orang-orang beriman. Ini tentang fenomena korupsi di Indonesia.
“Kita”, kalau kata subjek ini tidak sudi digunakan atau Anda enggan dilibatkan dengan hal ini, biarlah saya katakan: saya. Saya melihat, benar-benar korupsi ada dimana-dimana. Sejak zaman lampu petromaks hingga zaman si mulut soak. Sejak zaman nenek masih ABG hingga zaman MBG. “Ainama tuwallu fatsamma korupsi (al fasad)”. Kemanapun kita mengalihkan wajah, di situ ada korupsi. Di situ ada praktik kerusakan.
Ya, korupsi memang kerusakan. Kerusakan moral kemanusiaan. Bukan sekedar risywah. Sogok atau risywah di antara segi-segi korupsi saja.
Saya pergi ke pasar, ketemu korupsi: harga cabe yang diatur naik turun oleh penguasa bisnis cabe. Saya pergi mengurus SIM, sengaja dibuat rumit dan repot agar orang bisa membeli dari calo yang sudah diatur. Saya pergi mendaftarkan anak untuk sekolah, ada kuota lewat jalur ilegal, tapi harus bayar besar. Saya pergi ke ormas keagamaan buat mengabdikan diri, di sana pun ada korupsi oleh elit-elitnya. Jumlah anggota merupakan angka yang bisa dipertukarkan dengan jabatan. Bahkan populasi anggota dimanfaatkan untuk mengeruk uang dengan tagihan tersembunyi.
Oh, bukan main negeri ini. Kemanapun kita menghadap, di sana ada korupsi. Apakah korupsi sudah membayangi status ihathah-Nya Tuhan dengan perihal kekuasaannya yang meliputi dan mengepung apa saja (muhīṭun bi-kulli syai’in / مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ) yang berarti “Maha Meliputi segala sesuatu”?
Cukup, wahai Indonesia. Cukuplah Yang Maha Meliputi hanya Allah semata. Jangan kalian jadikan korupsi laiknya Allah yang maha meliputi.
Surat Fushshilat Ayat 54
اَلَآ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطٌ
Ketahuilah, sesungguhnya Dia (Allah) Maha Meliputi segala sesuatu.
Ini, tidak. Di Indonesia, apa saja kegiatan yang melibatkan kekuasaan, praktik korupsi selalu terlibat. Tak ada korupsi, seolah urusan tak bisa beres. Tak ada korupsi, pekerjaan seperti tidak lancar. Kalau demikian terus, kalian orang Indonesia layak dikutuk seperti kaum Nabi Syu’aib, yang gemar curang, korup dan suka membegal.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku





