LEGACY KETUM BAHLIL DI PARTAI GOLKAR: Menghidupkan Kembali Kaderisasi, Menyiapkan Mata Air Kepemimpinan Indonesia

Oleh: Arief Rosyid Hasan, Alumni YPL 18 Golkar Institute, Alumni ToT I Akademi Partai GOLKAR

Alhamdulillah. 6 hari mengikuti Training of Trainers (ToT) Akademi Partai GOLKAR Angkatan I memberikan saya 1 kesimpulan penting: ada sesuatu yang sedang dibangun kembali di tubuh Partai GOLKAR.

Bukan sekadar mesin pemenangan pemilu. Bukan pula hanya rutinitas organisasi. Yang sedang dibangun adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar dan memiliki dampak jangka panjang: mata air kepemimpinan.

Sebelumnya, saya pernah mengikuti Executive Education for Young Political Leaders Batch 18 Golkar Institute. Kini, ketika mengikuti ToT Akademi Partai GOLKAR, saya semakin melihat adanya satu benang merah yang kuat: partai politik tidak cukup hanya merekrut orang untuk memenangkan pemilu.

Partai harus mampu mendidik manusia, membentuk karakter, meningkatkan kompetensi, menanamkan nilai, serta menyiapkan pemimpin.

Di situlah saya melihat salah satu legacy terpenting dari kepemimpinan Ketua Umum Partai GOLKAR, Bahlil Lahadalia, sedang mulai diletakkan.

Ia memilih menghidupkan kembali kaderisasi setelah belasan tahun kehilangan denyutnya. Dalam pembukaan ToT bahkan ditegaskan bahwa kegiatan pada 3–8 Agustus 2026 menjadi momentum kebangkitan kembali sistem kaderisasi yang telah lama terhenti.

Ini bukan perkara kecil.

Di tengah politik Indonesia yang semakin pragmatis, keputusan untuk menginvestasikan energi, waktu, sumber daya, dan perhatian Ketua Umum kepada kaderisasi justru merupakan pilihan politik jangka panjang.

Hasilnya mungkin tidak seluruhnya dapat dipanen hari ini. Namun, dari proses panjang itulah masa depan sebuah partai dipersiapkan.

Dari Mesin Elektoral Menjadi Sekolah Kepemimpinan

Partai politik sering kali sangat sibuk ketika pemilu semakin dekat. Rekrutmen calon dilakukan, tim dibentuk, atribut dipasang, survei dianalisis, strategi disusun, dan mesin politik digerakkan.

Namun setelah pemilu selesai, pendidikan politik dan kaderisasi sering kali kembali kehilangan perhatian. Siklus lima tahunan akhirnya lebih dominan dibandingkan pembangunan manusia politik yang seharusnya berlangsung terus-menerus.

Ketum Bahlil Mengambil Arah yang Berbeda

Kaderisasi ditempatkan kembali sebagai salah satu pekerjaan utama partai. Dalam Pedoman Kaderisasi 2026 bahkan ditegaskan bahwa kekuatan GOLKAR tidak hanya terletak pada kemenangan elektoral, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan solusi terhadap persoalan bangsa melalui karya nyata. Karena itu, keberadaan Akademi Partai GOLKAR menjadi penting.

Akademi bukan sekadar tempat menyelenggarakan pelatihan. Ia dirancang sebagai institusi yang menjaga kesinambungan kepemimpinan. Dari sinilah proses rekrutmen, pendidikan, pembinaan, evaluasi, talent pool, hingga promosi kader mulai dibangun sebagai sebuah ekosistem.

Bahlil bahkan menyampaikan pesan yang sangat tegas: jabatan tidak boleh lahir semata-mata karena kedekatan personal ataupun kekuatan finansial.

Jabatan harus menjadi buah dari integritas, kompetensi, dan rekam jejak pengabdian. Pedoman kaderisasi kemudian menerjemahkan gagasan tersebut melalui proses kaderisasi yang terukur, objektif, berkelanjutan, serta berbasis meritokrasi.

Bagi saya, inilah perubahan yang fundamental. Dari politik kedekatan menuju politik kepantasan.

Dari kader titipan menuju kader berprestasi. Dari sekadar mencari calon menuju proses menyiapkan pemimpin.

Menghidupkan Kembali Mata Air

Saya menyebut kaderisasi sebagai mata air kepemimpinan. Sebab partai politik seharusnya tidak hanya menjadi muara tempat orang-orang yang telah memiliki kekuasaan berkumpul. Partai harus menjadi mata air tempat pemimpin-pemimpin baru dilahirkan, ditempa, dan dipersiapkan.

Analogi yang disampaikan Ketum Bahlil ketika membuka ToT sangat menarik. Ia menggunakan pohon beringin untuk menjelaskan pentingnya kaderisasi. Pohon besar hanya dapat bertahan apabila memiliki akar yang kuat.

Kaderisasi adalah proses membangun akar tersebut. Menanamkan nilai dasar sejak awal agar kader tidak tumbuh menjadi politisi yang hanya mengenal pragmatisme kekuasaan, tetapi memahami tanggung jawab, nilai, dan tujuan politik.

Beringin tidak menjadi besar dalam sehari. Akarnya tumbuh, menjalar, dan mencengkeram tanah sebelum batangnya mampu menopang cabang yang luas. Begitu pula Partai GOLKAR.

Jika ingin tetap menjadi salah satu kekuatan politik utama hingga puluhan tahun mendatang, maka yang harus diperkuat bukan hanya cabangnya, tetapi juga akarnya.

Karena itu, ToT Angkatan I menjadi sangat strategis. Sebanyak 81 peserta yang berasal dari anggota DPR RI, pengurus DPP, serta unsur organisasi pendiri dan yang didirikan GOLKAR dipersiapkan menjadi instruktur.

Mereka bukan hanya menerima materi. Mereka dipersiapkan untuk membawa standar kaderisasi yang sama ke berbagai tingkatan organisasi.

Artinya, yang sedang berlangsung bukan sekadar pelaksanaan sebuah acara. Yang sedang dibangun adalah sebuah sistem.

Akademi Partai GOLKAR

Keputusan membangun Akademi Partai GOLKAR juga bukan kebijakan personal yang berdiri di ruang kosong.

Akademi memperoleh landasan kelembagaan dan menjadi instrumen untuk menjalankan tata kelola perkaderan secara terintegrasi serta berkesinambungan. Lebih jauh, desain kaderisasi yang disusun menunjukkan ambisi yang jauh lebih besar.

Pedoman kaderisasi membagi proses menjadi kaderisasi formal, nonformal, dan informal. Mulai dari pendidikan kader tingkat dasar, menengah, dan lanjut, pendidikan khusus, hingga kaderisasi komunitas dan penugasan.

Kader juga tidak cukup hanya memahami sejarah atau ideologi partai. Mereka dituntut memiliki kompetensi ideologis, kepemimpinan, manajerial, teknokratik, sosio-kultural, elektoral, digital-media, etik, hingga geopolitik.

Ini menarik karena memperlihatkan seperti apa wajah kader GOLKAR yang hendak dilahirkan.

Kader yang berakar secara ideologis, matang secara politik, terampil secara teknokratis, kuat secara elektoral, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memiliki kemampuan memahami perubahan dunia.

Dengan demikian, Akademi Partai GOLKAR tidak boleh berhenti sebagai tempat kursus politik. Ia harus berkembang menjadi sekolah kepemimpinan politik nasional.

Dari Kaderisasi Menuju Meritokrasi

Tahap berikutnya justru menjadi bagian yang jauh lebih menentukan. Kaderisasi hanya memiliki makna apabila hasil dari proses kaderisasi tersebut memiliki hubungan dengan distribusi kesempatan di dalam partai.

Untuk apa seseorang mengikuti pendidikan berjenjang, meningkatkan kompetensi, dan membuktikan pengabdiannya apabila pada akhirnya promosi politik tidak mempertimbangkan seluruh proses tersebut?

Karena itulah gagasan talent pool menjadi sangat penting. Pedoman kaderisasi menegaskan bahwa kader harus dicatat, dievaluasi, dan dikembangkan secara sistematis. Sementara promosi kader diarahkan berdasarkan prestasi dan integritas.

Tujuannya bukan sekadar membangun mesin politik. Tujuan akhirnya adalah menjadikan GOLKAR sebagai salah satu sumber kepemimpinan nasional.

Bayangkan jika sistem ini benar-benar berjalan secara konsisten.

Seorang anak muda dapat masuk GOLKAR dari komunitasnya. Ia mengikuti kaderisasi, mendapatkan penugasan, mencatatkan prestasi, meningkatkan kompetensi, dan menjalani evaluasi.

Rekam jejaknya tercatat. Kapasitasnya dinilai. Kemudian ia masuk dalam talent pool dan memperoleh kesempatan untuk memimpin berdasarkan kapasitas serta prestasinya.

Di titik itulah kaderisasi bertemu dengan meritokrasi. Dan di titik itu pula partai politik kembali menjalankan salah satu fungsi terpentingnya dalam demokrasi: menemukan, mendidik, menguji, dan menghadirkan pemimpin terbaik kepada rakyat.

Legacy Tidak Dibangun dalam Semalam

Warisan seorang Ketua Umum tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa banyak kursi yang diperoleh dalam satu pemilu.

Kursi tentu penting. Kemenangan politik juga penting. Kekuasaan pun penting, karena melalui kekuasaan gagasan dapat diwujudkan menjadi kebijakan.

Namun, ada warisan yang usianya dapat jauh melampaui periode kepemimpinan seseorang: institusi.

Jika Akademi Partai GOLKAR bertahan, jika kaderisasi berjalan dari pusat hingga daerah, jika talent pool menjadi salah satu dasar promosi, dan jika meritokrasi benar-benar berkembang menjadi budaya organisasi, maka dampaknya mungkin baru terlihat sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun mendatang.

Kaderisasi Pekerjaan yang Sunyi

Orang menanam hari ini, tetapi mungkin orang lain yang akan menikmati buahnya.

Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir tentang apa yang akan terjadi pada dirinya setelah memimpin, tetapi juga memikirkan apa yang akan terjadi pada organisasi setelah dirinya tidak lagi memimpin.

Saya kira, di situlah ukuran sebenarnya dari sebuah legacy.

Ketum Bahlil Lahadalia, Sekjen Muhammad Sarmuji, Bendum Sari Yuliati, Ketua Bidang Kaderisasi Zulfikar Arse Sadikin, Direktur Akademi Partai GOLKAR Hajriyanto Y. Thohari, serta seluruh jajaran sedang memulai pekerjaan panjang tersebut.

Tantangannya sekarang adalah memastikan kaderisasi tidak kembali menjadi agenda musiman. Pedoman kaderisasi sendiri memberikan pesan yang sangat kuat: “Kaderisasi harus menjadi budaya organisasi, bukan sekadar program periodik.”

Bagi saya, kalimat tersebut adalah kuncinya. GOLKAR sebagai Mata Air Kepemimpinan Indonesia

Pada akhirnya, GOLKAR tidak cukup hanya bercita-cita memenangkan Pemilu 2029.

Sebagai salah satu partai dengan sejarah panjang dalam perjalanan Republik, tanggung jawabnya jauh lebih besar: memastikan Indonesia tidak pernah kekurangan stok pemimpin.

Pemimpin daerah harus dipersiapkan. Legislator harus dipersiapkan. Menteri harus dipersiapkan. Kepala daerah harus dipersiapkan.

Pemimpin organisasi, profesional, teknokrat, bahkan pemimpin nasional harus tumbuh melalui proses panjang, bukan muncul secara tiba-tiba menjelang pemilu.

Bonus demografi, transformasi digital, transisi energi, perubahan geopolitik, serta dinamika ekonomi dunia membutuhkan generasi pemimpin dengan kemampuan yang sama sekali berbeda.

Pedoman kaderisasi GOLKAR sendiri mengakui bahwa tantangan tersebut membutuhkan pemimpin yang mampu memahami ekonomi kerakyatan, pemerintahan yang bersih, diplomasi internasional, sekaligus menjembatani aspirasi generasi muda dengan pembangunan nasional.

Maka, pekerjaan besar Akademi Partai GOLKAR sesungguhnya baru saja dimulai.

ToT enam hari telah selesai. Tetapi kaderisasi tidak boleh selesai.

Akademi telah berdiri. Tetapi institusionalisasi harus terus berjalan.

Pedoman telah disusun. Tetapi budaya meritokrasi harus benar-benar diwujudkan.

Sebab kelak, ukuran keberhasilan kaderisasi bukanlah berapa banyak sertifikat yang diterbitkan oleh Akademi Partai GOLKAR.

Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak pemimpin berkualitas yang berhasil dilahirkan GOLKAR untuk Indonesia.

Jika jalan ini konsisten dilanjutkan, mungkin suatu hari orang akan mengenang masa kepemimpinan Bahlil Lahadalia bukan hanya karena kemenangan elektoral atau jabatan-jabatan politik yang berhasil diraih GOLKAR.

Orang akan mengingatnya sebagai masa ketika mata air yang lama mengering itu dialiri kembali.

Mata air kaderisasi. Mata air meritokrasi. Mata air regenerasi. Mata air kepemimpinan Partai GOLKAR untuk Indonesia.

Dan barangkali, itulah salah satu legacy terbesar Ketum Bahlil Lahadalia di Partai GOLKAR.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *