Filsafat adalah induk semua ilmu. Artinya, ilmu-ilmu yang lain, seperti Matematika, Fisika, Kimia, Sastra, Ekonomi hingga Antropologi dan sebagainya, hanyalah merupakan anakan dari filsafat.
Sayangnya, di Indonesia ilmu anakan ini justru yang dipelajari terlebih dahulu. Bahkan di tingkat SD hingga Sekolah Menengah, ilmu indukan ini (fiksafat) sama sekali tidak dikenalkan. Akibatnya wajar, cara berpikir orang Indonesia kebanyakan, tidak mendalam, tidak analitis, tidak kritis dan hanya berfokus pada hal-hal teknis dan permukaan.
Maka sudah waktunya diajarkan filsafat, atau ilmu cara bernalar logis, analitis, radikal dan kritis sejak SD. Anak SD sudah sepantasnya tahu apa itu filsafat, sejarahnya, tokoh-tokohnya, hingga mazhab-mazhabnya. Apa ganjilnya? Tak ada sama sekali. Dan justru membantu pertumbuhan penalaran anak-anak di usia semacam itu. Bukankah tidak ada bedanya mengajarkan sejarah nasional dengan pelajaran filsafat yang bersifat elementer semacam itu?
Mengapa hal ini penting? Sekali lagi, saya pikir ini merupakan langkah sistematis memecahkan masalah berpikir dangkal dan teknis yang mendominasi masyarakat umum. Dan ini juga berfaedah menyuburkan dorongan selalu ingin tahu (kuriositas) pada masyarakat dan selalu memulai pangkal berpikir, yaitu dengan pertanyaan “kenapa” ketimbang pertanyaan “apa”. Orang yang memulai berpikir dengan pertanyaan “apa” cenderung mudah dimanipulasi dan didefinisikan sepihak oleh otoritas ketimbang orang selalui memulai pikiran dengan “kenapa”. Dan filsafat, memang melatih orang untuk bertanya dan menjawab pertanyaan “kenapa”. Kenapa aku ada? Kenapa manusia ada? Dari kenapa dengan mudah berkembang penalaran kepada usaha menjawab: “bagaimana”? Dan “apa”? Barulah menyusul: “kapan”, “dimana” dan “oleh siapa”?
Jadi, bagi penyelanggara Sekolah Dasar, sudah waktunya mengisi kurikulum dengan pelajaran filsafat yang tentu disesuaikan dengan usia mental SD. Jangan sudah tua, baru belajar pertanyaan-pertanyaan mendasar dan radikal. Itu sudah terlambat dan tidak mendewasakan. Lagi pula ini penting untuk situasi masyarakat Indonesia yang suka ikut-ikutan tanpa memahami mengapa dia ikut-ikutan.
Saya pikir dalam hal ini relevan untuk dikemukakan, mengapa masyarakat Iran secara intelektual dan mental cukup maju, karena ada hubungannya dengan kelaziman dan keakraban mereka dengan pelajaran filsafat.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku Ilmu Berpikir





