ALLAH Memberi Dua Mata untuk Koreksi Diri: Melihat Kebaikan Orang Lain, Melihat Kekurangan Diri Sendiri

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI F-PKS/ Kalimantan Selatan I

“Gunakan kedua matamu dengan baik. Mata kananmu gunakan untuk melihat kebaikan orang lain, dan mata kirimu gunakan untuk melihat kekurangan dirimu sendiri.”

Kalimat tersebut bukanlah hadits Nabi Muhammad SAW dan tidak ditemukan sebagai lafaz dalam Al-Qur’an. Namun, maknanya selaras dengan banyak ajaran Islam tentang pentingnya muhasabah (introspeksi diri), husnuzan (berbaik sangka), tawadhu’ (rendah hati), serta larangan merendahkan dan mudah menghakimi orang lain.

Di zaman sekarang, ketika media sosial membuat seseorang begitu mudah mengomentari, mencela, bahkan menghakimi orang lain hanya dari potongan informasi, pesan seperti ini menjadi sangat relevan. Allah memberikan manusia dua mata bukan sekadar untuk melihat dunia, tetapi juga agar kita mampu melihat diri sendiri sebelum sibuk melihat kesalahan orang lain.

Mata Adalah Nikmat yang Akan Dipertanggungjawabkan

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini mengingatkan bahwa mata bukan sekadar alat melihat. Mata adalah amanah. Apa yang kita lihat, bagaimana kita memandang seseorang, bagaimana kita menggunakan penglihatan untuk mencari kebaikan atau justru mencari-cari keburukan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Betapa banyak dosa bermula dari mata. Mata melihat dengan iri. Mata melihat dengan dengki. Mata melihat untuk mencari aib. Mata melihat untuk menghina.

Padahal mata seharusnya menjadi jalan menuju hidayah. Jalan menuju ridha Allah dan surga.

Muhasabah: Kebiasaan Orang-Orang Bertakwa

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini merupakan salah satu dasar terkuat tentang pentingnya muhasabah.

Para ulama menjelaskan bahwa setiap mukmin hendaknya setiap hari bertanya kepada dirinya:

1. Apa yang sudah aku lakukan hari ini?

2. Siapa yang telah aku sakiti?

3. Sudahkah aku shalat dengan khusyuk?

4. Sudahkah aku bersyukur?

5. Sudahkah aku membantu orang lain?

Orang yang sibuk memperbaiki dirinya tidak akan memiliki banyak waktu untuk membicarakan kekurangan orang lain.

Umar bin Khattab Mengajarkan Muhasabah

Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”

Kalimat ini menjadi prinsip besar dalam kehidupan seorang muslim. Muhasabah bukan berarti merasa diri paling buruk sehingga putus asa.

Muhasabah adalah keberanian mengakui kekurangan agar bisa memperbaikinya. Kemudian, kita menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Mengapa Kita Lebih Mudah Melihat Kesalahan Orang?

Inilah penyakit yang sering tidak disadari. Kita mampu melihat kesalahan orang dari jarak puluhan meter.

Tetapi tidak mampu melihat kesalahan sendiri yang melekat setiap hari. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita tidak mudah mencela sesama.

Beliau bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya.” (HR. Muslim)

Bahkan dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Betapa indah Islam. Islam tidak mengajarkan budaya membuka aib. Islam mengajarkan budaya memperbaiki.

Jangan Sibuk Menghakimi

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan menggunjing satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini sangat lengkap.

Larangan: Berprasangka buruk. Mencari-cari kesalahan. Menggunjing.

Ketiga hal tersebut sering terjadi dalam kehidupan modern. Media sosial dipenuhi komentar negatif.

Berita sering dibaca hanya dari judul. Video dipotong beberapa detik lalu dijadikan bahan hujatan.

Padahal Allah melarang kita mencari-cari kesalahan orang lain.

Mata yang Melihat Kebaikan

Setiap manusia memiliki kekurangan. Namun setiap manusia juga memiliki kelebihan.

Orang yang hatinya bersih akan lebih mudah melihat kebaikan orang lain.

Ia berkata: “Mungkin dia pernah salah, tetapi dia juga banyak bersedekah.”

“Mungkin dia kurang ramah, tetapi dia sangat sayang kepada orang tuanya.”

“Mungkin dia belum sempurna berhijrah, tetapi dia terus belajar.”

Inilah cara pandang seorang mukmin. Melihat sisi baik sebelum mencari sisi buruk.

Jangan Merasa Diri Paling Suci

Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ayat ini sangat dalam. Sering kali seseorang merasa dirinya paling benar. Paling alim. Paling suci. Paling ikhlas.

Padahal hanya Allah yang mengetahui isi hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, biasanya semakin rendah hatinya. Karena ia sadar bahwa ilmu Allah tidak terbatas.

Rasulullah SAW Teladan Kerendahan Hati

Padahal Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Namun beliau tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari, bahkan dalam riwayat lain lebih dari 100 kali.

Mengapa? Bukan karena beliau banyak dosa. Tetapi sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.

Jika Nabi saja terus beristighfar, bagaimana dengan kita?

Bahaya Sibuk Mengurus Kesalahan Orang

Ketika seseorang sibuk membicarakan keburukan orang lain, biasanya ia lupa memperbaiki dirinya.

Lidahnya aktif. Jarinya aktif mengetik komentar. Namun shalatnya lalai.

Kemudian, sedekahnya sedikit. Istighfarnya jarang. Muhasabahnya tidak pernah. Padahal kesalahan diri sendiri jauh lebih penting untuk diperbaiki.

Akhlak Para Salaf

Para ulama terdahulu sangat takut terhadap dosa mereka sendiri. Mereka lebih banyak menangisi kekurangan diri daripada membicarakan kekurangan orang lain.

Imam Hasan Al-Bashri pernah mengatakan bahwa seorang mukmin selalu menuduh dirinya sendiri, sedangkan orang munafik selalu merasa dirinya benar.

Inilah perbedaan besar antara hati yang hidup dan hati yang keras.

Terapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Bayangkan jika setiap pagi kita berdoa: “Ya Allah, tunjukkan kekuranganku agar aku bisa memperbaikinya.”

Kemudian setiap bertemu orang kita berkata dalam hati: “Pasti ada kebaikan yang Allah titipkan pada dirinya.”

Betapa damainya kehidupan. Rumah tangga akan lebih harmonis. Tetangga lebih rukun.

Dan, Tempat kerja lebih nyaman. Media sosial lebih santun. Persaudaraan lebih kuat.

Langkah-langkah Muhasabah Harian

Agar introspeksi diri menjadi kebiasaan, lakukan beberapa amalan sederhana:

1. Beristighfar setiap selesai shalat.

2. Membaca Al-Qur’an setiap hari meskipun sedikit.

3. Menulis kesalahan diri sebelum tidur.

4. Memohon maaf jika melakukan kesalahan.

5. Menghindari membicarakan keburukan orang.

6. Mendoakan orang yang pernah menyakiti kita.

7. Bersyukur atas nikmat Allah setiap hari.

8. Memperbanyak sedekah secara sembunyi-sembunyi.

9. Memperbaiki hubungan dengan keluarga.

10. Berdoa agar diberi hati yang bersih.

Hikmah Dua Mata

Jika diibaratkan secara maknawi:

1. Satu mata melihat nikmat Allah pada orang lain agar kita belajar bersyukur, bukan iri.

2. Satu mata melihat kekurangan diri agar kita terus memperbaiki diri, bukan merasa paling benar.

3. Bukan berarti benar-benar menggunakan mata kanan dan kiri secara harfiah, tetapi sebagai pengingat agar keseimbangan hidup tetap terjaga.

Penutup

Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mencari kesalahan orang lain.

Setiap manusia memiliki kekurangan. Setiap manusia pernah berbuat salah.

Yang membedakan adalah siapa yang mau memperbaiki diri.

Mari kita jadikan mata sebagai jalan menuju ketakwaan, bukan menuju dosa. Jadikan penglihatan kita sebagai sarana menemukan hikmah, bukan mencari aib. Perbanyak muhasabah, kurangi menghakimi. Perbanyak istighfar, kurangi merasa paling benar. Perbanyak melihat kebaikan orang lain, sambil terus memperbaiki kekurangan diri sendiri.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang lembut hatinya, tajam dalam melihat kekurangan diri sendiri, lapang dalam memaafkan orang lain, serta istiqamah dalam memperbaiki akhlak hingga akhir hayat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *