Saat Akhlak Menjadi Cahaya: Jalan Menuju Kehidupan yang Indah di Dunia dan Akhirat

Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimatan Selatan I

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, keluarga, serta kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah hingga hari kiamat.

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian. Ada saatnya seseorang dipuji, ada pula saatnya dicela. Ada masa lapang dan ada masa sempit. Ada ketika dicintai, namun tak sedikit pula yang harus menghadapi kebencian, fitnah, atau perlakuan yang tidak menyenangkan.

Di tengah berbagai ujian tersebut, Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang begitu lengkap. Hadis-hadis beliau bukan sekadar nasihat, melainkan cahaya yang mampu menuntun manusia menuju kehidupan yang penuh ketenangan, kasih sayang, kehormatan, dan keberkahan.

Jika kita memperhatikan hadis-hadis yang disebutkan di atas, semuanya saling berkaitan. Ada pelajaran tentang kelembutan, menjaga lisan, memaafkan, menyambung silaturahmi, tanggung jawab keluarga, keseimbangan dunia dan akhirat, kecintaan kepada majelis zikir, hingga pentingnya tidak menghina orang yang telah meninggal.

Semuanya berpadu membentuk karakter seorang mukmin yang sejati.

1. Lemah Lembut Adalah Perhiasan Seorang Mukmin

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila sifat lemah lembut ada pada sesuatu maka akan menghiasinya dan bila hilang maka akan mengotorinya.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan kelembutan bukanlah kelemahan. Justru kelembutan adalah kekuatan yang paling indah.

Orang yang lembut tidak berarti tidak memiliki keberanian. Ia hanya memilih cara terbaik dalam menyampaikan kebenaran.

Seorang ayah yang lembut akan lebih mudah didengar anak-anaknya.

Seorang ibu yang lembut akan menghadirkan ketenangan dalam rumah.

Seorang guru yang lembut akan lebih dicintai muridnya.

Seorang pemimpin yang lembut akan lebih dihormati rakyatnya.

Bahkan dalam berdakwah pun Allah memerintahkan kelembutan.

Sering kali konflik dalam keluarga, organisasi, hingga masyarakat bukan disebabkan oleh perbedaan pendapat, tetapi karena kerasnya ucapan.

Kata-kata yang kasar dapat melukai hati bertahun-tahun lamanya, sementara satu kalimat lembut mampu memperbaiki hubungan yang hampir putus.

2. Jangan Sibuk Mengorek Kesalahan Orang

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengorek-orek keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengorek-orek keburukannya.” (HR. Ahmad)

Ini adalah peringatan yang sangat keras. Betapa mudahnya manusia mencari aib orang lain.

Di era media sosial, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas kesalahan orang lain. Padahal setiap manusia memiliki kekurangan.

Orang yang sibuk membuka aib orang lain sering kali lupa memperbaiki dirinya sendiri. Islam mengajarkan agar kita menjadi penutup aib, bukan penyebarnya.

Semakin seseorang menjaga kehormatan saudaranya, semakin Allah menjaga kehormatannya.

3. Mengapa Banyak Orang Miskin Masuk Surga?

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku berdiri di pintu surga, kebanyakan yang memasukinya orang-orang miskin dan yang kaya atau berkedudukan masih tertahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan berarti Islam memusuhi kekayaan. Islam justru mendorong umatnya bekerja keras.

Namun kekayaan membawa amanah yang besar. Setiap rupiah akan ditanya.

Dari mana diperoleh? Untuk apa digunakan? Apakah digunakan membantu fakir miskin? Apakah dipakai untuk kemaksiatan?

Semakin besar nikmat, semakin besar pula pertanggungjawabannya. Karena itu orang kaya hendaknya bersyukur, dermawan, sederhana, dan tidak sombong.

4. Tetap Berbuat Baik Walaupun Disakiti

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila kerabatmu jahat terhadapmu, berbuat baiklah selalu kepadanya, maka Allah senantiasa menolongmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah akhlak yang paling sulit. Membalas kebaikan dengan kebaikan sangat mudah.

Namun membalas keburukan dengan kebaikan membutuhkan hati yang besar. Silaturahmi bukan hanya ketika hubungan sedang baik.

Silaturahmi justru diuji ketika terjadi perselisihan. Selama tidak mengandung maksiat, seorang mukmin tetap berusaha menjaga hubungan dengan keluarganya.

Karena pertolongan Allah jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah pertengkaran.

5. Allah Itu Indah dan Mencintai Keindahan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan, kerapian, dan keindahan. Keindahan bukan hanya pakaian.

Keindahan juga ada pada hati. Ada pada tutur kata. Ada pada senyum. Ada pada akhlak.

Selanjutnya, rumah yang bersih adalah keindahan. Masjid yang terawat adalah keindahan.

Dan lingkungan yang hijau adalah keindahan. Serta Akhlak yang mulia adalah keindahan yang paling tinggi.

6. Sambunglah Silaturahmi Walaupun Diputus

Rasulullah ﷺ bersabda: “Hubungilah orang yang telah memutuskan engkau, berilah kebaikan kepada yang telah berbuat jahat kepadamu, dan katakanlah yang benar walaupun terhadap dirimu sendiri.” (Riwayat Ibnu Najjar)

Silaturahmi bukan sekadar saling mengunjungi ketika ada kepentingan. Silaturahmi adalah ibadah.

Kadang kita merasa lelah karena selalu menjadi pihak yang memulai. Namun Allah melihat setiap langkah yang kita lakukan.

Orang yang menyambung hubungan yang putus memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.

7. Seimbang Antara Dunia dan Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah orang yang paling baik daripadamu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya…” (Riwayat Ibnu ‘Asakir)

Islam mengajarkan keseimbangan. Bekerjalah. Belajarlah. Berusahalah. Namun jangan lupa salat.

Tak hanya itu, jangan lupa membaca Al-Qur’an. Jangan lupa bersedekah. Jangan lupa membantu sesama. Dunia hanyalah kendaraan menuju akhirat.

Karena itu seorang mukmin bekerja dengan sungguh-sungguh, namun tetap menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

8. Hikmah Masa Berkabung

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa wanita yang ditinggal wafat suaminya menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari. Syariat ini mengandung banyak hikmah.

Di antaranya menjaga kehormatan, memastikan nasab, serta memberikan waktu untuk berduka dan menata kehidupan setelah kehilangan pasangan.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kemuliaan perempuan.

9. Keutamaan Majelis Zikir

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila malaikat Allah mendapati majelis zikir, mereka duduk bersama dan mengelilinginya dengan sayap-sayap mereka hingga memenuhi langit.” (HR. Muslim)

Betapa mulianya majelis ilmu dan zikir.

Ketika manusia berkumpul mengingat Allah, membaca Al-Qur’an, mempelajari agama, atau saling menasihati dalam kebaikan, para malaikat ikut menghadirinya.

Majelis seperti inilah yang menghadirkan ketenangan, rahmat, dan ampunan Allah.

10. Pemimpin Pertama Adalah Kepala Keluarga

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang lelaki adalah pemelihara keluarganya dan bertanggung jawab atas semua anggota keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap ayah memiliki amanah besar. Bukan hanya mencari nafkah. Tetapi juga mendidik akhlak. Mengajarkan salat.

Lebih lanjut, kita perlu menanamkan kejujuran. Menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan. Rumah yang dipenuhi iman akan melahirkan generasi yang kuat.

11. Jangan Mencela Orang yang Telah Wafat

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan mencaci orang yang telah meninggal, karena mereka telah sampai kepada apa yang mereka kerjakan.” (HR. Bukhari)

Islam mengajarkan adab yang tinggi. Ketika seseorang telah meninggal, urusannya berada di tangan Allah.

Tugas kita adalah mengambil pelajaran, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin yang telah wafat, dan memperbaiki diri sebelum giliran kita tiba.

Penutup

Seluruh hadis di atas mengajarkan satu pesan besar: seorang mukmin yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga indah akhlaknya.

Ia lembut dalam berbicara, tidak membuka aib orang lain, menjaga silaturahmi, memaafkan, bertanggung jawab kepada keluarga, mencintai majelis ilmu, menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, serta menjaga lisannya dari mencela orang yang telah meninggal.

Apabila nilai-nilai ini benar-benar kita amalkan, insya Allah kehidupan akan dipenuhi keberkahan. Keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi damai, persaudaraan semakin kuat, dan hati semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki akhlak mulia, menjaga lisan, menyebarkan kasih sayang, mencintai majelis ilmu, menunaikan amanah keluarga, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *