Tausyiah Prof Muhammad ‘Pro Istri’ di Acara Takziah Anak Tamsil Linrung Almarhumah Azizah Nurul Izzah

​Semua yang terjadi di muka bumi ini dalam catatan takdir Allah.

​Saya juga sebenarnya tidak dipersiapkan untuk ceramah.

Bacaan Lainnya

​Jadi, sahabat saya Dr. Musakir ini terlalu baik sangka sama saya Ustaz. ​Tapi karena beliau menyebut ini arahan dari Pak Ustaz Tamsil, sami’na wa ‘atha’na. Saya tidak berani menyalahi apa yang menjadi perintah dari orang tua saya. Jadi maafkan saya, saya harus disclaimer dulu, saya bukan ustaz lah.

​Tapi karena perintah guru saya, perintah orang tua saya, Ustaz Tamsil, Kiai Tamsil, maka saya sami’na wa ‘atha’na. Tugas kita adalah watawashau bil-haqqi watawashau bis-shabr.

​Sebelum kita watawashau bil-haqqi watawashau bis-shabr tentang al-mawt, mari kita doakan ananda tercinta Azizah Nurul Izza binti Tamsil Linrung. Semoga insya Allah kuburnya adalah kubur raudhah min riyadhil jannah. Amin.

​Allah angkat semua kesalahannya, Allah maafkan semua kesalahannya, dan Allah tempatkan di surga yang tertinggi karena dalam keridaan suami dan ayah ibunya.

​Bapak, Ibu, jamaah takziah yang dimuliakan Allah.

​Kita semua bisa menghindar dari pintu-pintu yang Allah ciptakan atau situasi yang Allah ciptakan di bumi ini. Tapi ada satu pintu yang Allah sudah menegaskan, ya, yaitu al-mawt. Iza ja’a ajaluhum la yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun.

​Allah menegaskan bahwa setiap hamba kalau sudah kontrak hidupnya selesai, itu tidak bisa maju walau sesaat atau mundur walau sesaat.

​Jadi Ananda Azizah Nurul Izza itu memang sudah dalam genggaman takdir-Nya.

​Kita semua tentu tidak ingin kehilangan orang-orang kesayangan kita. Ayah tidak mau kehilangan putra-putrinya, harapannya begitu. Suami berharap tidak kehilangan istrinya, demikian sebaliknya, istri berharap tidak kehilangan suami. Anak berharap tidak kehilangan ayah ibunya, apalagi ayah ibu berharap tidak kehilangan putra-putrinya.

​Tetapi Allah sudah menetapkan sesuatu atas takdir setiap hamba-Nya. Dan takdir itu sudah digenggam oleh sang bayi ketika dia berada dalam rahim ibunya.

​Sebelum kita semua keluar ke alam dunia, kita kontrak sama Allah, kita genggam kita punya takdir. Usia kita sekian, jatah makan kita sekian, rezeki kita sekian, jodoh kita sekian.

​Kalau kita tidak setuju dengan penetapan Allah, maka Allah tidak memperpanjang usia kita keluar ke bumi. Makanya ada kajian, orang-orang yang tidak rida dengan keputusan Allah, itu sama Allah tidak dilanjutkan lahir ke bumi. Oh, selesai. Walaupun ada kajian yang lain.

​Ananda Azizah Nurul Izza yang kita kenal, masya Allah, adalah ananda yang mendapat rida ayah dan suaminya.

​Kepada sahabat saya, saudara saya, Dr. Andi Iwan. Dalam hadis sahih, apabila seorang perempuan atau seorang istri itu meninggal dan ada rida suaminya, jaminan surga. Walaupun ibadahnya tidak banyak. Masya Allah, ini Ibu-ibu, bonus nih, oleh-oleh dari Nabi.

​Ada satu ketika sahabat bertanya. Jadi sahabat perempuan ini datang sama Nabi, “Ya Rasulullah, kita ini kepengin seperti sahabatmu dari golongan laki-laki. Jihad, masya Allah, surga. Laki-laki di masjid, afdhalu. Banyak sekali amalan-amalan laki-laki yang kita cemburu,” cemburu yang positif, kata sahabat Nabi yang perempuan.

“Kita juga kepengin ikut perang sama kamu ya Nabi, karena siapa yang meninggal membela agama Allah itu jihad fi sabilillah. Laisa jaza’un illal jannah, tidak ada balasan kecuali surga.”

​Jadi Nabi bertanya kepada sang perempuan tadi, “Kamu punya suami?” “Na’am, ya Rasulullah.” “Kamu kembali, kamu perhatikan, kamu bakti kepada suamimu, pahalanya seperti dengan seorang laki-laki yang jihad fi sabilillah.”

​Ananda Azizah dari cerita ayahanda beliau, guru kita Ustaz Tamsil, adalah orang yang taat sama suaminya, masya Allah. Kewajiban istri tidak pernah dilalaikan.

​Saya juga banyak mendengar cerita beliau dari sahabat saya Dr. Musakir tentang almarhumah. Bagaimana dengan kesibukannya yang luar biasa, tapi sama suaminya kewajibannya tidak pernah dilupakan. Beda dengan sebagian perempuan, kalau sudah alasan sibuk, kadang-kadang banyak laki-laki yang jadi korban.

​Gak terurus lah anaknya, gak terurus makannya, tidak terurus pakaiannya. Tapi almarhumah saya dengar dari sahabat saya, dari beberapa orang yang mengenal beliau, beliau masya Allah, karier, mengurus anak, ya bahkan beliau ketua komite sekolah, pengurus masalah-maslahat umat, memperhatikan orang-orang yang tidak mampu, tapi juga baktinya kepada suaminya tidak berkurang.

​Nah, orang-orang seperti ini hisabnya sangat-sangat ringan. Dan hadis sahih, kalau seorang perempuan meninggal dan di dalamnya ada rida suaminya, sekali lagi Malaikat Ridwan tidak punya alasan untuk tidak menyegerakan dia ke jannah.

​Jadi Ibu-ibu, ini yang ngomong Nabi Muhammad, bukan Muhammad. Seorang perempuan, ini harus disclaimer dulu, yang ngomong ini Nabi Muhammad dari lisannya hamba Allah yang lemah, Muhammad. Seorang perempuan yang melaksanakan salat fardu, puasa Ramadan, kemudian berbakti kepada suaminya, maka dia bisa memilih pintu surga.

​Ulama berpendapat, pintu surga itu ada yang mengatakan delapan, ada yang mengatakan lebih. Yang ahli puasa, laki-laki ahli puasa insya Allah masuk ke Bab Rayyan. Yang ahli tahajud masuk ke Bab Tahajud. Yang ahli sedekah masuk ke Bab Sedekah. Jadi pintu surga itu ada nama-namanya semua, seperti Masjidil Haram yang pernah, alhamdulillah, insya Allah kita semua kembali ke Masjidil Haram, ada pintu-pintunya.

​Nah, perempuan salihah yang meninggal dalam rida suaminya dan dalam rida ayah ibunya, maka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala diberi tiket jalan tol untuk memilih semua pintu surga. Dari jalan mana, dari pintu mana perempuan tersebut mau memasuki surga.

​Kita berharap insya Allah, Ananda Azizah yang meninggal dalam rida suaminya dan dalam rida ayah ibunya, insya Allah jaminan surga, kita tidak ragu.

​Apalagi sebelum meninggal beliau diuji oleh Allah dengan sakit. Dalam hadis yang lain, siapa hamba Allah, muslimin-muslimat, yang meninggalkannya didahului oleh sakit, maka seluruh dosanya diampuni oleh Allah. Sama dengan pembersihan, tidak ada manusia yang tidak pernah khilaf, illal rasul.

​Kita semua pasti ada salah. Sebagai manusia yang lemah kita punya kelemahan, kita punya dosa kepada Allah. Maka sakit itu, kata Nabi Muhammad, adalah cara Allah menyucikan seorang hamba Allah sebelum dijemput oleh Allah dalam ruh yang suci. Ananda Azizah beberapa hari sebelum meninggal, Allah uji dia, Allah sucikan dia, Allah bersihkan dia dengan beberapa hari sakit.

​Saya sangat terharu mendengar cerita Ustaz Tamsil tadi di ruang tengah, menjelaskan bahwa dalam kondisi sakit, beliau masih menunjukkan wajah yang tersenyum padahal kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

​Tidak ada alasan dalam keyakinan kita berdasarkan hadis Nabi, bahwa Ananda Azizah adalah ahli surga, insya Allah, amin Allahumma amin.

​Yang kedua, Bapak, Ibu, jamaah takziah yang dimuliakan Allah. Kita tentu yakin bahwa suami yang meridhoi istrinya… Istri juga dalam生活nya ketika dia berinteraksi, ya sama dengan istri-istri kita rata-rata tuh. Kadang-kadang kan ada sesuatu yang suaminya membuat dia tidak nyaman, tidak senang mungkin karena capek lah atau karena banyak alasan, kadang-kadang suami itu mendapatkan satu situasi atau satu keadaan atau satu sikap istrinya yang membuat suaminya tidak nyaman.

​Kalau sahabat saya, saudara saya Andi Iwan menyabarkan itu dan memaafkan istrinya, maka semua dihapus oleh Allah diganti dengan ampunan yang besar.

​Karena kalau kita tidak maafkan istri kita Pak, tiap hari istri kita berdosa, Pak.

​Makanya istri saya bilang begini, Pak. Karena mungkin dia sudah pernah dengar ini hadisnya. Siapa seorang perempuan yang tidur malam tidak mendapat rida suaminya, maka sepanjang malam malaikat mengutuk.

​Makanya Sayyidah Fatimah binti Rasulillah, putri tercinta Rasulullah, dalam riwayat itu tidak tidur sebelum minta rida dan maaf dari suaminya. Bahkan Fatimah az-Zahra, ya dalam kisahnya kita lihat, itu tidak pernah membelakangi suaminya selama dia hidup. Ah ini Ibu-ibu nih, penutup nih, ini kita contoh Fatimah binti Rasulillah.

Jadi Fatimah binti Rasulillah, kalau dia tidur, itu wajahnya menghadap kepada wajahnya Sayyidina Ali. Ia izin terlebih dahulu.

​Nah, kalau istri-istri kita, waduh masya Allah. Tahu sudah ada ke mana sudah, ya? Itu kalau kita tidak maafkan, Pak (Ustaz Mulis), selesai urusannya. Ya, tahu?

​Nah, salah satu contoh yang baik. Kalau Ibu-ibu memang terpaksa harus membelakangi suami karena mungkin capek atau alasan kesehatan, tolong minta izin. “Suamiku yang tersayang, izinkan saya menghadap ke sebelah dulu.”

Nah, ini baru Anda bebas dari hukum istri salihah. Nah, kalau tidak minta izin, saya takut itu bagian daripada bukti bahwa seorang istri tidak berbakti kepada suaminya. Saya bukan menakut-nakuti, kita belajar dari Sayyidatu Fatimah az-Zahra binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi kalau dia mau balik, Ibu-ibu, misalnya suaminya apa… lagi terbaring, dia minta izin, “A’, saya izin, Pak, ya, hadap ke sana dulu, Pak.” Dan insya Allah kalau sudah suaminya izinkan, Ibu sudah masuk kategori istri yang salihah. Jangan seenaknya balik. Jangan seenaknya balik. Berat ya, Bu? Berat ya, Bu, ya? Iya.

​Setiap hari, kita tahu perempuan salihah itu bagaimana tugasnya menyenangkan suaminya. Karena tidak sulit bagi perempuan itu memilih pintu surga tadi. Kalau laki-laki banyak pertanyaan, Pak. Itu duit dibawa ke keluarga, nafkah dari mana? Kalau perempuan ini tidak banyak pertanyaan.

​Bahkan, minta maaf, kalau suami Ibu panggil tiga kali, Ibu lagi salat sunah—jangan kaget ya, minta maaf ini jangan kaget—kalau suami panggil tiga kali Ibu lagi salat sunah, batalkan salat sunahnya. Yang biasa kita dengar riwayatnya, anak yang dipanggil Ibunya. Pernah dengar, kan? Kalau itu sudah sering kita dengar. Seorang anak lagi salat sunah, dipanggil oleh ibunya, “Ya Muhammad.” Ibunya gak tahu kalau Muhammad lagi salat sunah. Satu kali, “Ya Muhammad, sini, Nak.” Saya masih terus salat sunah. “Ya Muhammad”, dua kali. Kalau tiga kali saya dipanggil, menurut pendapat Imam Syafi’i, saya batalkan salat sunah saya, labbaik ya ummi. Saya datang memenuhi panggilan… ibu saya.

​Nah, sekarang kita lihat dalam konteks suami istri. Jangan kaget, Ibu. Ibu, kalau lagi salat sunah, dipanggil oleh suami, dan suami tidak tahu kalau Ibu lagi salat sunah, panggilan ketiga persis anak kepada ibunya, batalkan salat sunahnya, labbaik wahai zauji. Saya datang wahai suamiku, apa keperluannya? Baru habis itu, lanjutkan salat sunahnya.

​Ibu-ibu, ini salat sunah. Puasa sunah saja, Senin-Kamis, puasa Daud, suami lagi musafir, datang kepengin sama istrinya, batalkan puasa sunah. Ah, itu istri saya protes, Pak Kiai. Dia bilang, “Ini… ini minta maaf ini, Abang ini selalu bawa tentang kelebihan suami.” Saya bilang, “Bukan saya, hadis.” “Kan sekali-kali beri pelajaran tentang kelebihan istri.” Saya bilang, “Ada waktunya. Ada waktunya.” Nah, begitu, ya. Jadi Ibu-ibu jangan protes dulu. Artinya ini… itu tadi kan di awalnya saya sudah mengingatkan.

Pintu surga bagi seorang perempuan muslimah sangat gampang. Lima waktu, salat, puasa Ramadan, bakti sama suami, selesai. Tidak perlu terlalu banyak ibadah sunah. Saya tidak mengatakan jangan ibadah sunah, tapi bagi seorang perempuan salihah, dia sudah mendapat rida suaminya, maka dia sekali lagi bisa memilih pintu surga.

​Bapak, Ibu, jamaah takziah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Almarhumah Ananda Azizah meninggalkan berapa putri? Tiga. Dalam hadis, siapa orang tua yang punya dua anak perempuan—disebut oleh Nabi, dua anak perempuan—dipelihara dengan baik, diberi nafkah yang baik, yang halal, dijaga kehormatannya sehingga sampai balig, Nabi mengajukan tangan, tempatnya di surga seperti saya seperti ini, dua… dua jari.

Saya ulangi Ibu-ibu, ini bonus luar biasa, ini bom bonus. Siapa seorang ibu mempunyai dua anak perempuan, dipelihara, dijaga kehormatannya, diberi nafkah yang baik, yang halal, sampai dia balig, maka Rasulullah ketika menyampaikan ini, hadis ini, beliau mengangkat tangannya, “Nanti tempatnya sang perempuan ibu tadi seperti saya di surga, dekat sekali.”

​Alhamdulillah, Almarhumah Ananda Azizah punya anak tiga perempuan. Dan beliau sangat sayang, dipelihara, dijaga kehormatannya, pendidikannya diperhatikan bersama suaminya, Andi Iwan. Jadi secara zahir, saya sebagai orang yang tidak tahu secara mendalam kehidupan beliau, dari beberapa informasi yang kita dapat dari keluarga, kita haqul yakin insya Allah Ananda ahli jannah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

​Sekarang untuk yang ditinggal. Kepada saudara saya Andi Iwan, tadi saya sangat… yakin bahwa keridaan Anda kepada Almarhumah pasti, karena dia masya Allah selama hidupnya istri yang salihah. Itu cukup sebenarnya tiket buat Almarhumah menghadap Allah. Nanti, insya Allah, mudah-mudahan Allah Ta’ala panjangkan umur kita fi tha’atillah, amin, fil kitab, istri-istri yang meninggal, duluan meninggal daripada suaminya, itu nanti ditanya oleh Malaikat Ridwan. Kenal Malaikat Ridwan, Pak? Udah pernah ketemu? Kalau saya sih kepengin ketemu, tapi Malaikat Malik mudah-mudahan saya gak minta ketemu.

​Ibu-ibu, ini bonus yang banyak buat Ibu-ibu ini karena masya Allah yang meninggal kitabnya Almarhumah Ananda. Bonus. Istri yang meninggal duluan dari suaminya, nanti ketika menuju surga, itu di… di pintu surga ditanya oleh Malaikat Ridwan, “Man bil bab? Siapa di balik pintu surga?” Allah, Allah, Ibu-ibu, ini tolong direkam nih.

Saya tidak berdoa Ibu duluan meninggal dari suaminya, enggak. Enggak. Saya mau kasih kabar gembira berkaitan dengan meninggalnya ananda tercinta duluan daripada suaminya. Jadi insya Allah setelah hisab selesai, “Man bil bab?” kata Malaikat Ridwan. “Siapa yang mengetuk pintu surga?”

Maka menjawablah dengan lisanim fashih istri-istri salihah yang meninggal dengan rida suaminya. Dia bilang, “Ana Azizah binti Tamsil.” Lalu Malaikat Ridwan bertanya, “Kamu siapa?” “Saya adalah istri yang meninggal dalam rida suami saya.” Maka Malaikat Ridwan mengatakan, “Kamu termasuk golongan yang Allah mengatakan, ‘Jangan kau buka pintu sebelum istri-istri yang ditinggal… yang meninggal dalam rida suaminya duluan masuk surga.’”

Masya Allah. Itu lebih duluan daripada, minta maaf, perempuan yang suaminya duluan meninggal. Bapak-bapak mau meninggal duluan? Enggak. Paham ya? Saya ulangi. Jadi istri-istri yang meninggal duluan dalam rida suaminya, itu akan dapat pertanyaan dari Malaikat Ridwan, “Man bil bab? Siapa yang mengetuk pintu surga?”

Maka semua istri yang meninggal dalam rida suaminya dengan lantang menjawab, “Ana Azizah binti Tamsil, saya meninggal dalam rida suami saya.” Maka Malaikat Ridwan mengatakan, “Masuklah, kamu orang golongan yang ditunggu di surga.” Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

​Saya khawatir kalau terlalu panjang nanti Bapak/Ibu… nanti kita mendengarkan juga tetua, tua dari guru kita, orang tua kita Pak Tamsil.

Terakhir, Bapak/Ibu. Sedih, manusiawi. Itu Rasulullah waktu meninggal… waktu apa namanya, meninggal dia punya putra-putri, Rasulullah juga menangis. Ada riwayat meneteskan air mata. Tapi Rasulullah mengatakan setelah kehilangan putra-putrinya, ini bukan menasihati guru saya Prof. Tamsil, ya—Nabi juga pernah mengalami situasi di mana guru kita mengalami, kehilangan putra-putrinya.

Tapi Nabi mendapat… sesuatu yang kabar gembira melalui Jibril. Di waktu Qasim meninggal, putranya Nabi, putranya Nabi yang kecil, itu meninggal, itu Nabi sedih. Sedih, bahkan dalam riwayat yang kuat, sempat meneteskan air mata, ini Nabi saja, Pak. Jadi kalau orang tua menangis ditinggalkan putra-putri tersayang, itu manusiawi, ya. Nabi saja sedih. Tapi Nabi segera mendapat kabar gembira oleh Jibril. Ini belum dikuburkan Qasim, Qasim itu salah satu putra Nabi disebut Abul Qasim, bapaknya Qasim. Kata Jibril,

“Ya Muhammad, jangan bersedih. Ketahuilah bahwa Allah sudah mengampuni anakmu karena kamu rida atas ketetapan Allah.” Jadi guru kita sudah rida kepergian putri tersayang, maka semua dosanya hilangnya ketika dia dikandung, ketika dia dipelihara, ketika dia dibesarkan oleh bapak ibunya, oleh Pak Tamsil, Allah sudah maafkan karena ridanya bapaknya. Ini riwayat sangat kuat. Nabi lantas tersenyum. Tadinya sedih Nabi kehilangan putranya, ketika Jibril datang mengabarkan bahwa dengan keridaanmu maka Allah ampuni semua kau punya kesalahan… kau punya putri/putra yang meninggal, maka Nabi kemudian tersenyum.

​Bapak, Ibu yang saya mulyakan, mudah-mudahan insya Allah kematian ini cukup sebagai pelajaran. Setiap hari kita dengar keluarga kita meninggal, ayah kita, kerabat kita, kemudian kita mengatakan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bersedih silakan, tapi jangan larut. Yang kita patut sedihkan, kalau kita sudah sekian hari, sekian menit, sekian detik dapat kabar-kabar meninggalnya orang-orang dekat kita, tapi kita tidak mempersiapkan diri. Orang cerdas kata Al-Qur’an adalah orang yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan dirinya.

Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Oleh: Prof Muhammad, Mantan Ketua Bawaslu RI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *