Bahlil Ajak Kampus ‘Uji’ Kebijakan ESDM, Tekankan Riset untuk Percepat Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA: BELA RAKYAT – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memanfaatkan forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 sebagai ruang dialog terbuka dengan kalangan akademisi. Di hadapan ratusan rektor, guru besar, dan dekan perguruan tinggi, Bahlil memaparkan arah kebijakan sektor energi sekaligus meminta berbagai masukan berbasis riset demi memperkuat kebijakan pemerintah.

Menurut Bahlil, diskusi bersama para akademisi memiliki nilai strategis karena menjadi sarana untuk menguji sekaligus mengevaluasi kebijakan negara dari sudut pandang ilmiah. Ia bahkan mengibaratkan forum tersebut sebagai proses fit and proper test terhadap kebijakan Kementerian ESDM.

Bacaan Lainnya

Bahlil: Forum Akademik Jadi Ruang Menguji Kebijakan Negara

Usai menjadi pembicara dalam KSTI 2026, Bahlil mengaku senang dapat berdiskusi secara terbuka dengan para pemimpin perguruan tinggi. Baginya, kritik dan masukan dari sivitas akademika merupakan bagian penting dalam penyempurnaan kebijakan publik.

“Hari ini saya merasa berbahagia bisa melakukan sharing terbuka dengan rektor, profesor, dekan, kaum-kaum intelektual. Saya senang karena tadi seperti kita sedang melakukan fit and proper tentang kebijakan negara di sektor ESDM yang dinilai oleh orang-orang yang luar biasa semuanya,” ujar Bahlil.

Ia menilai kebijakan energi nasional tidak cukup hanya disusun pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan kajian ilmiah agar implementasinya lebih tepat sasaran serta mampu menjawab tantangan global yang terus berkembang.

Paparkan Strategi Ketahanan Energi Nasional

Dalam pemaparannya, Bahlil menjelaskan sejumlah program prioritas pemerintah di sektor energi. Salah satunya adalah upaya meningkatkan lifting minyak dan gas bumi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain peningkatan produksi migas, pemerintah juga terus mengoptimalkan bauran energi agar Indonesia memiliki sumber energi yang lebih beragam serta tidak terlalu bergantung pada energi impor.

Bahlil menegaskan, situasi geopolitik dunia yang belum stabil tidak mengganggu ketahanan pasokan energi nasional. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mempertahankan harga BBM bersubsidi.

“Di tengah geopolitik yang tidak menentu, alhamdulillah Indonesia masih bisa mengamankan cadangan BBM kita dengan harga subsidi yang tidak naik. Dan sekarang standar pasokan kita di atas standar minimal nasional,” jelasnya.

Dorong CNG Kurangi Ketergantungan Impor LPG

Selain menjaga pasokan BBM, pemerintah juga terus memperluas pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG impor.

Langkah tersebut dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap energi dari luar negeri sekaligus meningkatkan pemanfaatan gas bumi yang tersedia di dalam negeri. Program ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Hilirisasi Jadi Kunci Pengembangan Industri Kendaraan Listrik

Bahlil juga kembali menegaskan komitmen pemerintah mempercepat hilirisasi sektor pertambangan. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi fondasi dalam membangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional.

Melalui pengolahan mineral, khususnya nikel, Indonesia diharapkan mampu menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik secara mandiri sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

Brian Yuliarto: Kampus Siap Percepat Target Presiden Lewat Riset

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan kesiapan perguruan tinggi untuk mendukung berbagai program strategis pemerintah melalui riset, inovasi, dan pengembangan teknologi.

Brian mengatakan tantangan di sektor energi dan sumber daya mineral tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Peran akademisi menjadi faktor penting untuk mempercepat pencapaian target nasional.

“Tadi Bapak Menteri ESDM sudah menyampaikan di depan para rektor, guru besar, dan dekan bagaimana tantangan ke depan. Para pemikir dan peneliti diajak berperan sehingga target-target yang diinginkan Bapak Presiden melalui Bapak Menteri ESDM bisa dilakukan percepatan, karena tanpa teknologi dan tanpa riset hal-hal tersebut akan membutuhkan waktu yang lebih lama,” kata Brian.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi kunci agar inovasi teknologi mampu mempercepat pembangunan sektor energi sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Kolaborasi Pemerintah dan Akademisi Dinilai Semakin Strategis

Pertemuan antara Kementerian ESDM dengan para rektor, guru besar, dan dekan dalam KSTI 2026 menunjukkan semakin besarnya peran perguruan tinggi dalam proses penyusunan maupun evaluasi kebijakan publik. Pemerintah berharap berbagai hasil riset yang dihasilkan kampus dapat menjadi dasar pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi tantangan transisi energi, ketahanan energi nasional, serta pengembangan industri berbasis hilirisasi di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *