Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya pada bidang ekonomi. Kemajuan internet dan penggunaan smartphone mendorong masyarakat untuk beralih dari transaksi konvensional ke transaksi digital.
Di Indonesia, perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya penggunaan e-commerce sebagai sarana jual beli yang menawarkan proses transaksi lebih praktis, cepat, dan efisien. Kehadiran e-commerce tidak hanya mempermudah konsumen dalam memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar tanpa terbatas oleh lokasi.
E-commerce merupakan aktivitas perdagangan barang maupun jasa yang dilakukan melalui media elektronik, terutama internet. Seluruh proses transaksi, mulai dari pencarian informasi produk hingga pembayaran, dapat dilakukan secara online tanpa harus bertemu secara langsung.
Perkembangan e-commerce di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mengubah kebiasaan masyarakat menjadi lebih terbiasa berbelanja secara digital. Kemudahan akses, banyaknya promosi, pengaruh media sosial, serta meningkatnya penggunaan teknologi menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut (Kotler & Keller, 2016).
Salah satu bentuk pemanfaatan e-commerce adalah belanja online. Melalui platform digital, konsumen dapat membeli berbagai kebutuhan kapan saja dan di mana saja. Sistem pembayaran yang beragam, seperti transfer bank, dompet digital, e-banking, maupun Cash on Delivery (COD), semakin memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi.
Selain menawarkan efisiensi waktu, belanja online juga memberikan kemudahan bagi konsumen untuk membandingkan harga, kualitas, serta ulasan produk sebelum melakukan pembelian.
Mahasiswa merupakan salah satu kelompok masyarakat yang aktif memanfaatkan e-commerce. Sebagai bagian dari Generasi Z, mereka memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi. Padatnya aktivitas perkuliahan membuat mahasiswa lebih memilih metode belanja yang praktis dan fleksibel. Berbagai promo, potongan harga, serta kemudahan dalam memperoleh informasi produk turut meningkatkan minat mahasiswa untuk berbelanja secara online (Santrock, 2018).
Perubahan perilaku konsumen juga berdampak pada perkembangan industri fashion. Saat ini, masyarakat tidak lagi hanya mempertimbangkan merek atau kondisi baru suatu produk, tetapi juga mulai memperhatikan harga, keunikan, dan aspek keberlanjutan. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya popularitas produk thrift sebagai alternatif fashion yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. (Kementerian Perdagangan RI, 2023).
Produk thrift merupakan barang bekas yang masih layak digunakan dan dijual kembali dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan produk baru. Produk yang dipasarkan tidak hanya berupa pakaian, tetapi juga sepatu, tas, serta berbagai aksesori. Meningkatnya minat terhadap produk thrift mendorong banyak pelaku usaha memanfaatkan e-commerce sebagai media pemasaran karena mampu menjangkau konsumen yang lebih luas (Kotler & Keller, 2016).
Dalam menjalankan bisnis thrift, e-commerce memberikan berbagai keuntungan, seperti kemudahan mengelola stok, memperluas pasar, serta mempermudah proses transaksi. Selain itu, media sosial juga berperan penting sebagai sarana promosi dan komunikasi dengan konsumen. Melalui foto produk yang menarik, ulasan pelanggan, serta konten promosi yang konsisten, penjual dapat meningkatkan kepercayaan sekaligus memperkuat citra merek di mata konsumen.
Di kalangan mahasiswa, produk thrift semakin diminati karena menawarkan harga yang terjangkau sekaligus model yang unik. Konsumen juga dapat menemukan berbagai pilihan produk dari berbagai daerah melalui platform e-commerce tanpa harus datang langsung ke toko. Kemudahan tersebut membuat aktivitas mencari, membandingkan, hingga membeli produk menjadi lebih efisien.
Perilaku pembelian setiap mahasiswa dipengaruhi oleh karakteristik yang berbeda-beda, seperti kondisi ekonomi, gaya hidup, kebutuhan, dan preferensi pribadi. Menurut Kotler (2000) dalam Simamora (2002), keputusan pembelian dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada faktor pribadi dan psikologis karena keduanya berkaitan langsung dengan gaya hidup serta sikap konsumen dalam mengambil keputusan pembelian (Kotler & Keller, 2016).
Untuk menjelaskan perilaku tersebut, penelitian menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat atau minat untuk melakukan suatu tindakan. Dalam konteks penelitian ini, kemudahan penggunaan e-commerce diperkirakan dapat meningkatkan minat mahasiswa untuk membeli produk thrift secara online.
Kemudahan penggunaan e-commerce menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat mahasiswa dalam membeli produk thrift secara online. Kemudahan tersebut terlihat dari proses pencarian produk yang lebih cepat, akses yang dapat dilakukan kapan saja, serta sistem pembayaran yang praktis. Berbagai fitur yang tersedia pada platform e-commerce juga membantu konsumen memperoleh informasi secara lebih lengkap sebelum melakukan transaksi. Kondisi ini membuat proses pembelian menjadi lebih efisien dibandingkan berbelanja secara langsung, terutama bagi mahasiswa yang memiliki aktivitas akademik dan organisasi yang cukup padat.
Fenomena tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi digital yang telah mengubah perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Aktivitas berbelanja tidak lagi bergantung pada keterbatasan ruang dan waktu karena seluruh proses transaksi dapat dilakukan melalui satu platform. Konsumen dapat mencari berbagai alternatif produk, membandingkan harga dari beberapa penjual, membaca ulasan pembeli lain, hingga menyelesaikan pembayaran tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari. Semakin mudah suatu platform digunakan, semakin besar pula kemungkinan konsumen menjadikannya sebagai pilihan utama dalam melakukan pembelian. (Kotler & Keller, 2016).
Kemudahan penggunaan platform juga dapat dijelaskan melalui Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen. Dalam teori ini, niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan dipengaruhi oleh keyakinan bahwa tindakan tersebut memberikan manfaat dan mudah dilakukan. Ketika konsumen merasa bahwa e-commerce mampu mempermudah proses pembelian, persepsi positif tersebut akan meningkatkan minat untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, pengalaman menggunakan platform yang sederhana, cepat, dan nyaman akan mendorong terbentuknya niat membeli serta meningkatkan peluang terjadinya pembelian secara berulang.
Selain kemudahan penggunaan, harga menjadi faktor yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian produk thrift. Sebagai mahasiswa, sebagian besar responden masih memiliki keterbatasan dalam daya beli sehingga cenderung memilih produk yang mampu memenuhi kebutuhan dengan biaya yang lebih rendah. Produk thrift menawarkan alternatif tersebut karena memiliki harga yang relatif terjangkau dibandingkan produk baru, namun masih memiliki fungsi dan kualitas yang layak digunakan. Oleh karena itu, pertimbangan ekonomi menjadi salah satu alasan utama konsumen memilih produk thrift melalui e-commerce.
Temuan ini mendukung teori perilaku konsumen yang dikemukakan oleh Kotler, yang menyatakan bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor pribadi. Kondisi ekonomi, gaya hidup, serta kebutuhan individu akan membentuk preferensi konsumen terhadap suatu produk. Pada konteks penelitian ini, keterbatasan anggaran yang dimiliki mahasiswa mendorong mereka untuk mencari alternatif produk yang lebih ekonomis tanpa harus mengurangi nilai guna maupun penampilan. Dengan demikian, produk thrift menjadi pilihan yang sesuai dengan karakteristik konsumen mahasiswa (Kotler & Keller, 2016).
Di samping harga, keunikan produk juga menjadi daya tarik yang kuat dalam mendorong minat beli. Produk thrift umumnya memiliki model, motif, maupun merek yang beragam dan tidak diproduksi secara massal, sehingga memberikan kesan eksklusif bagi penggunanya. Keunikan tersebut menjadi nilai tambah karena memungkinkan konsumen memperoleh produk yang berbeda dari produk fashion yang banyak beredar di pasaran. Bagi sebagian mahasiswa, penggunaan produk thrift tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan berpakaian, tetapi juga menjadi bagian dari cara mengekspresikan identitas dan gaya berpakaian yang lebih personal.
Meningkatnya minat terhadap produk thrift juga tidak terlepas dari berkembangnya kesadaran masyarakat mengenai konsumsi yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan kembali pakaian yang masih layak pakai dinilai dapat mengurangi limbah tekstil sekaligus memperpanjang siklus penggunaan suatu produk. Dengan demikian, keputusan membeli produk thrift tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga oleh meningkatnya kepedulian terhadap isu lingkungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi masyarakat mulai bergeser dari orientasi pada produk baru menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab (United Nations Environment Programme, 2023).
Walaupun menawarkan berbagai kemudahan, pembelian produk thrift melalui e-commerce masih menghadapi beberapa kendala. Ketidaksesuaian antara kondisi barang dengan foto atau deskripsi menjadi permasalahan yang paling sering ditemui.
Selain itu, ukuran produk yang kurang sesuai, kualitas barang yang berada di bawah ekspektasi, serta biaya pengiriman yang relatif tinggi juga dapat memengaruhi kepuasan konsumen. Kendala tersebut muncul karena konsumen tidak dapat memeriksa kondisi barang secara langsung sebelum melakukan pembelian, sehingga keputusan yang diambil sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh penjual (Kementerian Kesehatan RI, 2022).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan aspek penting dalam transaksi e-commerce, khususnya pada penjualan produk thrift yang memiliki karakteristik berbeda pada setiap barang. Berbeda dengan produk baru yang memiliki standar kualitas yang relatif seragam, setiap produk thrift memiliki kondisi yang unik sehingga membutuhkan informasi yang lebih rinci. Oleh sebab itu, penyediaan foto asli, deskripsi produk yang lengkap, informasi mengenai kekurangan barang, serta komunikasi yang responsif dari penjual menjadi faktor yang mampu meningkatkan kepercayaan konsumen dan mengurangi ketidakpastian dalam proses pembelian.
Peran platform e-commerce juga tidak kalah penting dalam membangun rasa aman bagi konsumen. Sistem verifikasi penjual, fitur ulasan pelanggan, penilaian toko, hingga jaminan keamanan transaksi dapat membantu calon pembeli menilai kredibilitas penjual sebelum melakukan transaksi.
Semakin baik kualitas layanan yang diberikan platform, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan konsumen untuk melakukan pembelian. Sebaliknya, pengalaman negatif selama bertransaksi dapat menurunkan minat konsumen untuk melakukan pembelian kembali meskipun produk yang ditawarkan memiliki harga yang menarik.
Secara keseluruhan, minat membeli produk thrift melalui e-commerce terbentuk melalui kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan. Kemudahan penggunaan platform memberikan pengalaman berbelanja yang lebih praktis, harga yang terjangkau memenuhi kebutuhan ekonomi mahasiswa, keunikan produk memberikan nilai tambah dari sisi gaya hidup, sedangkan kepercayaan terhadap penjual dan platform menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pembelian.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas layanan, transparansi informasi produk, serta keamanan transaksi perlu terus dilakukan agar pengalaman berbelanja menjadi lebih baik dan minat konsumen terhadap produk thrift melalui e-commerce dapat terus meningkat (Solomon, 2020).
Kemudahan penggunaan e-commerce berperan penting dalam meningkatkan minat mahasiswa untuk membeli produk thrift secara online. Akses platform yang mudah, proses pencarian produk yang cepat, kemudahan membandingkan harga, serta sistem pembayaran yang praktis memberikan pengalaman berbelanja yang lebih efisien. Selain itu, harga yang terjangkau dan keunikan produk turut menjadi faktor yang mendorong mahasiswa memilih produk thrift sebagai alternatif dalam memenuhi kebutuhan fashion.
Di sisi lain, keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan platform, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan terhadap penjual. Ketidaksesuaian antara kondisi barang dengan foto atau deskripsi masih menjadi kendala yang dapat menurunkan minat beli konsumen. Oleh karena itu, transparansi informasi produk, kualitas layanan, dan keamanan transaksi menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih baik.
Platform e-commerce diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas layanan melalui penyediaan informasi produk yang lebih lengkap, sistem verifikasi penjual yang lebih optimal, serta fitur ulasan yang mampu memberikan informasi secara akurat kepada konsumen. Upaya tersebut dapat meningkatkan kepercayaan pengguna sekaligus mendorong minat pembelian produk thrift secara online.
Bagi penjual produk thrift, penyampaian informasi mengenai kondisi barang secara jujur, disertai foto asli dan deskripsi yang rinci, perlu menjadi perhatian utama agar ekspektasi konsumen sesuai dengan produk yang diterima. Sementara itu, penelitian selanjutnya disarankan melibatkan jumlah responden yang lebih besar dan berasal dari berbagai program studi atau perguruan tinggi sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat beli produk thrift melalui e-commerce.
Disusun oleh Mahasiswa Universitas Jakarta (UNJ) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Pemasaran Digital
kelompok 1:
Caila Bianca Yusuf
Anabell Davina Makailla
Mutiara Athillah
Dosen pengampu :
Erfi Firmansyah






