BUMN Ramah Wanita, Prioritaskan Pelayanan Bukan Keuntungan, Sediakan Passenger Gate agar Penumpang Tak Terjatuh

Hingga detik ini, Indonesia masih mengenang duka atas peristiwa nahas yang menimpa 15 wanita korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Ada banyak asumsi yang beredar mengenai penyebab kecelakaan tersebut, entah itu dari kecelakaan pertama yang terjadi antara KRL arah Cikarang-Jakarta dengan sebuah taksi yang tiba-tiba mogok di tengah rel, sinyal blok dalam Stasiun Bekasi Timur yang diduga mengalami eror sebelum kejadian, hingga masinis dari KA Argo Bromo Anggrek yang dituding terlambat dalam melakukan rem sehingga tabrakan dengan KRL arah sebaliknya harus terjadi. Namun, terlepas dari semua asumsi penyebab kecelakaan tersebut, satu yang kita bisa simpulkan penyebabnya tidaklah tunggal.

Bacaan Lainnya

PT KAI jelas-jelas harus bertanggung jawab terhadap tragedi mengerikan tersebut, apalagi kejadiannya harus menimpa gerbong khusus perempuan. Ini menjadi catatan keseluruhan bagi BUMN yang menaungi, bukan hanya PT KAI saja tapi BUMN dengan sektor pelayanan masyarakat lainnya, untuk memberikan layanan yang ramah bagi kaum perempuan, tentunya dengan tidak mengorbankan gender lainnya.

Seyogianya, BUMN harus menerapkan prinsip utamakan kualitas pelayanan ketimbang hanya meraup keuntungan semata. Jika kita fokus pada pelayanan PT KAI sejalan dengan insiden tragis yang terjadi, kita bisa melihat bahwa masih banyak hal yang harus ditingkatkan dari BUMN yang satu ini khususnya dalam melayani penumpang.

Kita sering sekali melihat penumpang jatuh ke dalam jalur rel kereta, hal itu tentu sangatlah berbahaya dan bisa memakan korban, kita mengetahui bahwa belum semua stasiun kereta di Indonesia memiliki passanger gate yang mencegah penumpang terperosok masuk ke ceruk rel. Kemudian pemeriksaan mengenai keaktifan sinyal blok di dalam stasiun untuk mengecek status keberadaan kereta di sebuah stasiun. Bagi kenyamanan dan keselamatan penumpang, PT KAI juga sebaiknya memperbanyak pembangunan eskalator atau lift atau elevator selain tangga disebabkan banyaknya penumpang yang bertumpuk dan berdesakan saat akan menuju lantai berikutnya atau arah sebaliknya.

Berikut adalah berbagai alat canggih pendeteksi kereta api di dunia yang belum dimiliki KAI:

*Sistem LiDAR (Light Detection and Ranging) Berbasis AI*
Menggunakan laser untuk mendeteksi posisi kereta, menghitung jarak secara real-time, dan mengenali rintangan (seperti kendaraan macet di perlintasan atau tanah longsor) di depan rangkaian. Sistem ini sangat akurat meski dalam kondisi gelap, berkabut, atau hujan lebat.

*Kamera Termal dan Radar Gelombang Milimeter (mmWave Radar)*
Kamera inframerah dan radar yang dipasang pada lokomotif untuk mendeteksi suhu tubuh manusia, hewan, atau benda asing di rel. Alat ini berfungsi sebagai asisten masinis untuk memberikan peringatan dini dari jarak jauh.

*Sensor Vision-Based Track Monitoring*
Kamera cerdas yang ditenagai oleh kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi kerusakan rel (seperti keretakan atau baut hilang) secara otomatis dengan memindai jalur dari rangkaian kereta yang sedang melintas.

*FRMCS (Future Railway Mobile Communication System)*
Komunikasi jaringan nirkabel dan satelit generasi baru. Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan sensor di jalur tetap (wayside), FRMCS memungkinkan pemantauan posisi kereta real-time yang lebih akurat dengan jangkauan lebih luas untuk mendukung sistem otomasi.

*Sistem ATP (Automatic Train Protection) Tingkat Lanjut*
Meskipun KAI mulai merencanakan penerapannya, teknologi otomasi jarak jauh ini menggunakan komputer terintegrasi untuk menghentikan kereta secara otomatis. Kereta akan berhenti sendiri apabila melewati batas sinyal atau jika ada kereta di depannya, bahkan jika masinis tertidur atau tidak merespons.

Pelayanan KAI yang ramah wanita seperti disediakannya ruang khusus bagi Ibu Menyusui di stasiun, ruangan khusus tanpa asap rokok, gerbong perempuan yang berada di tengah gerbong campuran dan berbagai layanan lain yang tadi sudah disebutkan. Ada rate standar khusus bagi pelayanan perempuan dan perlindungan pekerja perempuan di dalamnya. bukan hanya PT KAI tapi bagi BUMN keseluruhan.

Oleh: Ratu Tiara, Pemerhati Isu Perempuan Anak (KOWANI), Pengurus AMPG Pusat,
Staf Ahli Komisi VI DPR RI (2021), Produser Hendropriyono

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *