JAKARTA — Di tengah gemerlap cahaya metropolitan yang tak pernah benar-benar terlelap, sejarah kembali dipanggil pulang ke pangkuan ingatan. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kota Jakarta ke-499 sekaligus Haul Pangeran Jayakarta II ke-449, Majelis Angke Pangeran Jayakarta II yang dipimpin Raden Irfan dan diasuh Kyai Raden Surya Agus Aljakerta Albantani menggelar haul serta silaturahmi kebangsaan di kawasan bersejarah Angke, jl. Pangeran Tubagus Angke , gang masjid RT 5 RW 5, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (21/6/2026). Sebuah perhelatan yang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ikhtiar merawat denyut peradaban yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus bangsa.
Di pelataran sejarah yang menjadi saksi perjalanan waktu, doa-doa melangit dalam balutan kekhusyukan. Nama Pangeran Jayakarta II atau Tubagus Angke kembali menggema, bukan hanya sebagai sosok yang terpatri dalam lembaran sejarah, tetapi sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan kecintaan terhadap tanah air. Dalam berbagai catatan sejarah lokal, beliau dikenang sebagai panglima Kesultanan Banten yang turut menjaga marwah Jayakarta dari ancaman kolonial Portugis. Jejak perjuangannya menjadi akar yang menopang tegaknya Jakarta hari ini, kota yang tumbuh menjadi simpul kehidupan nasional dan pergaulan dunia.
Haul tersebut mempertemukan berbagai elemen bangsa dalam satu ruang kebersamaan. Hadir Prof. KH Manarul Hidayat, Haji Hercules selaku Ketua Umum GRIB Jaya sekaligus Dewan Kehormatan Majelis Angke, Raden Aditya Damar Wijaya, Panglima Pasukan Berani Mati (PBM) Jilid II, Abah Gacon Ketua Umum Padepokan Macan Kulon, serta Raden Obit Algholib dari Kasepuhan Jayakarta II. Perjumpaan itu menghadirkan pesan yang kuat bahwa sejarah tidak boleh menjadi milik masa lalu semata, melainkan harus menjadi cahaya penuntun bagi masa depan bangsa.
Dalam sambutannya, Kyai Raden Surya Agus Aljakerta Albantani mengingatkan bahwa menghormati para pejuang bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian dari amanat kebangsaan. Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu memberikan perhatian yang lebih nyata terhadap kegiatan Haul Pangeran Jayakarta II serta pelestarian situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tubagus Angke sebagai bagian dari identitas dan jati diri Kota Jakarta.
“Jakarta yang kita saksikan hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibangun di atas pengorbanan, keberanian, dan darah juang para pendahulu. Karena itu, sudah sepantasnya kita menghormati warisan sejarah tersebut dengan menjaga situs-situsnya, merawat kisah-kisah perjuangannya, dan menanamkannya kepada generasi penerus,” ujar Kyai Raden Surya Agus Aljakerta Albantani di hadapan para jamaah dan tamu undangan, Minggu (21/6/2026).
Pesan tersebut sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan kewajiban negara dalam memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Selain itu, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya juga memberikan landasan hukum yang kuat bagi upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Sementara itu, Raden Aditya Damar Wijaya menegaskan bahwa Haul Pangeran Jayakarta II harus dimaknai lebih dari sekadar mengenang masa lalu. Menurutnya, peringatan tersebut harus menjadi sumber energi patriotik yang membangkitkan kesadaran generasi muda untuk menjaga persatuan, mempertahankan kedaulatan, dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta pengabdian nyata bagi bangsa dan negara.
“Semangat para pejuang tidak boleh berhenti di makam sejarah. Ia harus hidup di dada generasi muda sebagai api yang menerangi perjalanan Indonesia menuju masa depan.” Pungkasnya.
Malam itu, Jakarta seolah berbicara dengan bahasanya sendiri. Angin yang berembus dari tepian Angke membawa bisikan masa silam tentang keberanian para leluhur yang pernah berdiri tegak menjaga tanah ini. Dari haul yang sederhana namun sarat makna itu lahir sebuah pesan yang melampaui ruang dan waktu: bahwa kota yang besar bukanlah kota yang hanya megah oleh bangunan dan kemajuan teknologinya, melainkan kota yang mampu menghormati akar sejarahnya, memuliakan para pejuangnya, serta menjadikan warisan peradaban sebagai kompas menuju masa depan yang berdaulat, berbudaya, dan bermartabat.
(CP/red)






