Catatan atas Buku Tri Hita Bencana karya I Ngurah Suryawan
Oleh; I Nyoman Parta,Anggota DPR RI / F-PDI Perjuangan / Dapil Bali
Ada kalanya sebuah buku tidak hadir untuk membuat pembacanya nyaman. Buku seperti itu justru hadir untuk mengusik, menggugat, bahkan memaksa kita bercermin. Tri Hita Bencana karya I Ngurah Suryawan adalah salah satu buku semacam itu.
Sebagai orang Bali yang sehari-hari bergelut dalam ruang politik, kebudayaan, dan persoalan masyarakat akar rumput, saya membaca buku ini bukan hanya sebagai kumpulan esai kebudayaan. Buku ini adalah rangkaian kegelisahan tentang Bali yang sedang berubah sangat cepat.
Perubahan itu nyata. Kita melihat sawah berubah menjadi villa, desa menjadi destinasi wisata, ruang-ruang komunal makin terdesak, biaya hidup meningkat, persoalan sampah dan air semakin terasa, sementara ketimpangan sosial juga tumbuh pelan-pelan di balik gemerlap pariwisata.
Dalam situasi seperti itu, I Ngurah Suryawan tampil sebagai intelektual yang memilih berdiri di posisi kritis. Ia tidak sedang menulis untuk menyenangkan banyak pihak. Ia justru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sering dihindari.
Melalui tulisan-tulisannya, ia membahas soal rasisme, pecalang, elit adat, politik identitas, militerisasi kampus, dominasi modal, hingga relasi antara pariwisata dan trauma sejarah Bali pasca 1965. Semua dibaca dalam kerangka ekonomi politik dan relasi kuasa. Pembaca bisa merasakan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan yang mendalam terhadap arah Bali modern. Namun di titik itulah buku ini sekaligus menjadi penting dan menantang.
Selama bertahun-tahun Bali sering dibaca dalam citra yang indah: pulau damai, harmonis, spiritual, penuh budaya luhur, dan masyarakat yang ramah. Narasi itu tentu tidak sepenuhnya salah. Bali memang memiliki kekayaan budaya dan sistem sosial yang luar biasa.
Tetapi Suryawan mengingatkan bahwa di balik citra tersebut, ada persoalan-persoalan yang tidak boleh diabaikan. Ia melihat adanya ketimpangan sosial, eksploitasi ruang hidup, dominasi investasi, munculnya elit-elit lokal baru, hingga kecenderungan masyarakat yang terlalu takut berbeda pendapat demi menjaga citra harmoni.
Dalam beberapa tulisan, kritiknya terasa sangat tajam. Bahkan kadang terlalu keras. Namun sebagai pembaca, saya melihat keberanian seperti ini tetap penting dalam masyarakat demokratis. Bali tidak boleh hanya dipenuhi pujian tanpa ruang refleksi. Kritik juga bagian dari cinta kepada daerah sendiri.
Saya kira, kegelisahan utama Suryawan sebenarnya sederhana: ia takut Bali kehilangan jiwanya sendiri.
*Catatan untuk Adat dan Budaya*
Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasannya tentang desa adat, pecalang, dan kebangkitan identitas budaya Bali. Suryawan mengingatkan bahwa adat tidak boleh hanya dijadikan simbol atau alat legitimasi kekuasaan. Ia mengkritik kemungkinan munculnya elit-elit adat yang terlalu dekat dengan kepentingan ekonomi dan politik.
Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi Bali, saya memahami kegelisahan itu. Namun pada saat yang sama, saya juga merasa perlu menempatkan persoalan ini secara lebih seimbang.
Desa adat, pecalang, dan berbagai lembaga tradisional Bali pada kenyataannya masih menjadi benteng sosial masyarakat Bali hingga hari ini. Mereka menjaga ritual, solidaritas sosial, keamanan lingkungan, dan identitas budaya Bali dalam situasi perubahan yang sangat cepat.
Tentu kita tidak bisa menutup mata bahwa di sana-sini bisa muncul penyimpangan, penyalahgunaan kewenangan, atau kepentingan politik. Tetapi kita juga tidak bisa menyederhanakan seluruh dinamika adat hanya sebagai arena perebutan kuasa.
Saya percaya adat Bali memiliki daya koreksi dari dalam dirinya sendiri. Yang diperlukan adalah penguatan nilai moral, transparansi, dan keterlibatan generasi muda agar adat tetap menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar ruang kepentingan.
Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya mengkritik model pembangunan Bali yang terlalu bertumpu pada pariwisata. Ini adalah diskusi penting. Kita tidak bisa menutup mata bahwa pariwisata telah membawa manfaat besar bagi Bali. Banyak keluarga hidup dari sektor ini. Pendidikan anak-anak, ekonomi masyarakat, hingga perkembangan infrastruktur banyak ditopang oleh pariwisata.
Tetapi benar juga bahwa kita tidak boleh menyerahkan seluruh masa depan Bali hanya kepada logika pasar dan investasi. Pembangunan harus tetap memperhatikan:
• ruang hidup masyarakat,
• keberlanjutan lingkungan,
• akses air (bersih),
• lahan pertanian,
• serta keseimbangan sosial budaya.
Kritik Suryawan terhadap eksploitasi ruang dan dominasi modal patut menjadi bahan renungan bersama. Bali tidak boleh kehilangan tanahnya sendiri.
*Kritik yang Kerap Terlalu Gelap*
Meski demikian, sebagai pembaca saya juga memiliki catatan terhadap buku ini. Dalam beberapa bagian, Bali terasa digambarkan terlalu gelap. Seolah-olah seluruh simbol budaya selalu berujung menjadi alat kekuasaan. Seolah-olah harmoni hanyalah topeng sosial. Saya kira kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di tengah berbagai persoalan yang ada, masyarakat Bali masih memiliki banyak kekuatan:
• solidaritas sosial,
• gotong royong,
• semangat ngayah,
• tradisi spiritual,
• dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan.
Generasi muda Bali hari ini juga tidak sedikit yang mulai sadar terhadap persoalan lingkungan, budaya, dan ruang hidup mereka.
Karena itu, saya melihat Bali tidak hanya sedang mengalami krisis, tetapi juga sedang mencari bentuk baru. Dan pencarian itu tidak cukup hanya dengan kritik. Ia juga membutuhkan keteladanan, dialog, dan kerja nyata.
Pentingnya Ruang Dialog
Saya menghargai buku ini karena membuka ruang diskusi yang penting tentang arah Bali ke depan. Buku seperti ini penting dibaca bukan untuk ditelan mentah-mentah, tetapi untuk memancing percakapan yang lebih jujur.
Kita memerlukan intelektual yang berani mengkritik. Kita juga memerlukan tokoh budaya yang menjaga akar tradisi. Kita membutuhkan pemerintah yang mendengar. Dan yang tidak kalah penting, kita membutuhkan masyarakat yang tidak kehilangan akal sehat dalam menghadapi perubahan.
Bali tidak bisa hanya hidup dari nostalgia masa lalu. Tetapi Bali juga tidak boleh kehilangan nilai-nilai dasarnya demi mengejar pembangunan semata. Di situlah menurut saya buku Tri Hita Bencana menemukan relevansinya. Ia mungkin tidak selalu menyenangkan. Ia mungkin tidak selalu disetujui. Tetapi ia mengingatkan kita bahwa Bali tidak boleh berhenti bercermin.
Dan mungkin, kegelisahan seperti itulah yang justru diperlukan agar Bali tetap hidup sebagai peradaban, bukan sekadar etalase pariwisata.
Pagi hari perjalanan menuju Jakarta, 12 Mei 2026






