JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Hamka B Kady menyampaikan sejumlah catatan penting dalam Rapat Kerja bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo serta jajaran terkait dalam rangka evaluasi penyelenggaraan mudik Lebaran 2026.
Dalam rapat tersebut, Hamka mengawali dengan memberikan apresiasi atas kinerja pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian PU, Basarnas, BMKG hingga Korlantas Polri. Ia menilai pelaksanaan mudik tahun ini menunjukkan hasil yang baik, terutama dari sisi penurunan angka kecelakaan.
“Tidak ada kata lain selain bersyukur dan berterima kasih. Hasilnya terlihat jelas, angka kecelakaan menurun. Ini capaian yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Namun demikian, Hamka menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah. Ia mengingatkan adanya persoalan berulang yang masih terjadi, khususnya terkait kepadatan di pelabuhan penyeberangan seperti Gilimanuk, Ketapang, hingga Merak.
Menurutnya, salah satu akar persoalan adalah belum optimalnya penyediaan buffer zone atau tempat penampungan kendaraan (buffer parking) sebelum memasuki pelabuhan.
“Jangan sampai jalan raya dijadikan tempat penampungan kendaraan. Pelabuhan penyeberangan itu harus didukung buffer zone yang memadai agar tidak mengganggu arus lalu lintas umum,” tegasnya.
Hamka juga meminta Kementerian Perhubungan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pelabuhan penyeberangan, termasuk kejelasan kewenangan pengelolaan antara direktorat terkait.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya perencanaan infrastruktur jalan menjelang periode mudik. Hamka mengingatkan agar perbaikan jalan tidak dilakukan mendekati hari raya karena berpotensi mengganggu arus lalu lintas dan strategi rekayasa lalu lintas yang telah disiapkan.
“Perbaikan jalan harus dilakukan jauh hari sebelum masa mudik. Jangan mendekati hari raya, karena itu justru menghambat pergerakan masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hamka juga menyinggung perlunya peningkatan sarana pendukung keselamatan lalu lintas, termasuk penggunaan perlengkapan yang lebih terlihat seperti pembatas jalan dengan lampu penerangan, terutama untuk mendukung rekayasa lalu lintas di malam hari.
Ia menegaskan bahwa setiap strategi yang diterapkan, termasuk contraflow dan pengaturan arus, pasti memiliki risiko. Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi yang maksimal untuk meminimalisir potensi kecelakaan.
Di akhir pernyataannya, Hamka kembali memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam mengawal arus mudik, termasuk Basarnas dan BMKG yang dinilai sigap dalam memberikan informasi dan respons terhadap kondisi lapangan.
Meski angka kecelakaan menurun, Hamka mengingatkan bahwa hal tersebut bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Ia mendorong evaluasi yang lebih komprehensif agar pelaksanaan mudik ke depan semakin baik.
“Ini harus kita jadikan bahan evaluasi bersama. Supaya ke depan kita tidak lagi disibukkan dengan persoalan yang sebenarnya bisa diantisipasi lebih awal,” pungkasnya.






