DENPASAR – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar mampu bersaing di pasar global, khususnya di kawasan Eropa yang kini membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing.
Dalam keterangannya di Denpasar, seperti dikutip di Instagram milik Mukhtarudin menyebut Kementerian P2MI tengah menjajaki sejumlah negara di Benua Biru sebagai tujuan baru penempatan PMI. Negara-negara seperti Turki, Italia, Jerman, Slovakia, hingga kawasan Eropa Timur menjadi fokus perluasan pasar tenaga kerja.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di Eropa tidak lepas dari fenomena aging population atau penuaan penduduk yang mendorong tingginya permintaan tenaga kerja, terutama di sektor perawatan lansia (caregiver) dan perhotelan (hospitality).
“Mereka membutuhkan tenaga perawat lansia serta pekerja di sektor hospitality. Seperti halnya di Bali, PMI kita tidak hanya bekerja di hotel, tetapi juga banyak yang terserap di kapal pesiar,” ujar Mukhtarudin.
Ia menambahkan, selama ini penempatan PMI masih didominasi negara-negara Asia Timur seperti Taiwan, Hong Kong, dan Jepang. Namun, di kawasan Eropa, Bulgaria mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja Indonesia.
Target 15.000 Perawat di Turki dan Malaysia
Mukhtarudin mengungkapkan bahwa pemerintah telah memetakan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara, termasuk Turki dan Malaysia, yang diperkirakan membutuhkan hingga 15.000 tenaga perawat dalam tiga tahun ke depan.
“Kami fokus pada persiapan tenaga kerja profesional. Peluang besar tidak hanya ada di Asia, tetapi juga di Eropa, termasuk Eropa Timur,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian P2MI telah memberangkatkan sekitar 300 pekerja terampil ke Korea Selatan dan Jepang untuk memenuhi kebutuhan sektor industri manufaktur.
Tantangan Kompetensi dan Bahasa
Meski peluang terbuka lebar, Mukhtarudin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait kompetensi tenaga kerja. Ia menilai lulusan SMK dan perguruan tinggi di Indonesia belum sepenuhnya selaras dengan standar kebutuhan negara tujuan.
Selain itu, kemampuan bahasa asing juga menjadi kendala utama yang perlu diperkuat melalui pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
“Tidak semua lulusan SMK atau Poltekkes dapat langsung memenuhi standar kompetensi global. Karena itu, diperlukan pendidikan vokasi tambahan agar mereka siap bersaing di pasar internasional,” jelasnya.
Optimalkan Bonus Demografi
Upaya peningkatan kualitas PMI ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memanfaatkan bonus demografi Indonesia. Pemerintah berharap peluang kerja di luar negeri dapat dimaksimalkan untuk mengurangi pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan fokus pada sektor formal dan profesional, pemerintah menargetkan PMI tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga tenaga kerja unggul yang memiliki daya saing global di tengah kebutuhan dunia yang terus berkembang.






