Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimantan Selatan I
“Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin“
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Di dalam kehidupan, tidak ada seorang pun yang terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan penyakit, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan usaha, fitnah, hutang, konflik keluarga, hingga kegelisahan hati yang tidak diketahui orang lain.
Allah telah mengingatkan:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Di zaman sekarang, tekanan hidup terasa semakin berat. Banyak orang tersenyum di depan umum, tetapi menangis saat sendirian. Banyak yang tampak sukses, namun hatinya kosong. Tidak sedikit yang kehilangan arah hidup karena terlalu bergantung kepada manusia, jabatan, atau harta.
Padahal, Allah telah memberikan satu doa yang luar biasa dahsyat melalui kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam.
Kisah Nabi Yunus: Saat Semua Jalan Terasa Tertutup
Nabi Yunus diutus kepada kaum Ninawa. Beliau mengajak mereka menyembah Allah semata, namun sebagian besar menolak dakwahnya.
Karena kecewa terhadap kaumnya, beliau meninggalkan mereka sebelum Allah mengizinkannya.
Dalam perjalanan, kapal yang beliau tumpangi diterpa badai besar. Untuk meringankan beban kapal, dilakukan undian, dan nama Nabi Yunus keluar beberapa kali.
Beliau akhirnya dilemparkan ke laut. Allah memerintahkan seekor ikan besar menelan Nabi Yunus.
Perhatikan, beliau berada dalam tiga kegelapan:
Gelapnya malam. Gelapnya dasar lautan. Gelapnya perut ikan.
Dalam keadaan seperti itu, tidak ada telepon, tidak ada manusia, tidak ada pertolongan selain Allah.
Lalu Nabi Yunus tidak menyalahkan siapa pun. Beliau tidak berkata, “Mengapa aku diuji?”
Beliau tidak menyalahkan kaumnya. Beliau tidak menyalahkan takdir.
Beliau justru mengakui kelemahannya di hadapan Allah. Beliau membaca:
لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Allah kemudian berfirman:
“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88)
Ayat ini bukan hanya menceritakan Nabi Yunus. Allah menutupnya dengan kalimat: “Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
Artinya, siapa pun yang beriman, bertobat, dan kembali kepada Allah, memiliki harapan mendapatkan pertolongan-Nya.
Mengapa Doa Ini Sangat Dahsyat?
Doa Nabi Yunus terdiri dari tiga bagian penting.
1. Tauhid
“Laa ilaaha illaa Anta.”
Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Inilah inti seluruh ajaran para nabi. Saat seseorang mengucapkannya dengan hati, ia sedang memutus ketergantungan kepada makhluk.
Ia sadar bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Allah.
2. Mensucikan Allah
“Subhaanaka.”
Maha Suci Engkau.
Artinya Allah tidak pernah zalim kepada hamba-Nya. Semua ketentuan-Nya mengandung hikmah. Walaupun manusia belum memahaminya.
3. Mengakui Kesalahan
“Innii kuntu minazh-zhaalimiin.”
Sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim. Inilah adab seorang mukmin. Tidak sibuk menyalahkan orang lain.
Tetapi lebih dahulu mengoreksi dirinya.
Orang yang mudah mengakui kesalahan lebih dekat kepada rahmat Allah dibanding orang yang selalu merasa benar.
Keutamaan Doa Nabi Yunus dalam Hadis
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika berada di dalam perut ikan: ‘Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.’ Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya untuk suatu perkara, melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Al-Hakim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan doa tersebut. Namun, doa bukanlah jaminan bahwa semua keinginan langsung dikabulkan sesuai waktu yang kita inginkan.
Allah mengabulkan dengan cara terbaik: Mengabulkan saat itu juga. Menunda demi kebaikan. Mengganti dengan yang lebih baik. Menjadi penghapus dosa. Menjadi tabungan pahala di akhirat.
Tentang Membaca 40 Kali Setelah Subuh
Di masyarakat terdapat anjuran membaca doa Nabi Yunus sebanyak 40 kali setelah salat Subuh. Sebagian ulama memang menyebutkan amalan tersebut dalam kitab-kitab fadha’il (keutamaan amal).
Namun, riwayat yang menyebut jumlah tertentu tidak berada pada tingkat hadis sahih yang paling kuat. Karena itu, yang paling penting adalah memperbanyak doa ini dengan penuh keikhlasan, kekhusyukan, dan keyakinan kepada Allah, tanpa meyakini bahwa jumlah tertentu pasti memiliki keutamaan yang ditetapkan jika tidak ada dalil yang sahih.
Pelajaran Besar untuk Kehidupan Modern
Hari ini manusia menghadapi ujian yang berbeda. Bukan lagi sekadar lapar atau perang.
Tetapi juga: Stres berkepanjangan. Depresi. Kecanduan media sosial. Persaingan kerja. Krisis ekonomi. Utang. Perceraian. Kesepian. Hilangnya keberkahan waktu.
Jauh dari Al-Qur’an.
Ironisnya, semakin canggih teknologi, belum tentu hati semakin tenang.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan tidak dibeli dengan uang. Ia hadir melalui kedekatan kepada Allah.
Jangan Putus Asa
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.”(QS. Az-Zumar: 53)
Seberapa besar dosa seseorang, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Hubungan Dzikir dengan Ikhtiar
Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha.
1. Nabi Yunus berdoa.
2. Nabi Nuh membuat kapal.
3. Nabi Musa tetap memukul laut dengan tongkat.
4. Maryam tetap menggoyangkan pohon kurma meski sedang lemah setelah melahirkan.
Artinya, doa harus disertai ikhtiar. Berobat ketika sakit. Bekerja ketika membutuhkan rezeki. Belajar ketika ingin sukses. Meminta maaf ketika berbuat salah. Berusaha memperbaiki diri setiap hari.
Adab Berdoa
Agar doa semakin baik, para ulama mengajarkan adab-adab seperti:
1. Memulai dengan memuji Allah.
2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
3. Menghadap kiblat jika memungkinkan.
4. Mengangkat kedua tangan.
5. Khusyuk dan yakin.
6. Tidak tergesa-gesa.
7. Memakan rezeki yang halal.
8. Menjauhi kezaliman kepada sesama.
9. Perbanyak Amal Saleh
Dzikir akan semakin indah jika disertai:
1. Salat tepat waktu.
2. Membaca Al-Qur’an setiap hari.
3. Bersedekah.
4. Berbakti kepada orang tua.
5. Menjaga silaturahmi.
6. Menolong orang lain.
7. Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah.
8. Memperbanyak istighfar.
9. Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Jangan Menunggu Musibah untuk Mengingat Allah
Banyak orang baru berdoa ketika sakit. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan agar mengenal Allah di waktu lapang, sehingga Allah menolong kita di waktu sempit.
Hati yang terbiasa berdzikir akan lebih kuat menghadapi badai kehidupan.
Penutup
Apa pun kesulitan yang sedang dihadapi hari ini, jangan pernah merasa sendirian. Allah mendengar air mata yang tidak dilihat manusia.
Allah mengetahui doa yang belum sempat terucap. Allah memahami luka yang disembunyikan.
Jika Nabi Yunus diselamatkan dari gelapnya perut ikan, maka tidak ada kesulitan yang terlalu besar bagi Allah untuk diatasi.
Mari jadikan doa Nabi Yunus sebagai dzikir harian:
لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.
Semoga Allah mengangkat segala kesulitan kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, menenangkan hati kita, menjaga keluarga kita, menguatkan iman kita, serta mengakhiri kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Ni’mal maula wa ni’man nashir.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






