JAKARTA – Ketua Badan Amil Zakat Nasional RI, Sodik Mudjahid, menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui berbagai program pemberdayaan berkelanjutan. Menurutnya, zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sosial, tetapi juga harus menjadi instrumen transformasi ekonomi umat, termasuk bagi kalangan difabel.
Hal itu disampaikan Sodik saat menerima audiensi dari Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL) bersama sejumlah komunitas difabel di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Sodik menyoroti keberhasilan sejumlah pelaku usaha disabilitas binaan BAZNAS yang kini telah mandiri secara ekonomi, bahkan mulai menunaikan zakat sebagai muzaki.
“Hari ini kita berbahagia karena saudara-saudara difabel hadir dengan semangat baru, bukan hanya sebagai penerima bantuan tetapi juga sebagai pemberi manfaat. Ini adalah transformasi yang sangat membanggakan,” ujar Sodik.
Menurutnya, pola pendampingan yang dilakukan BAZNAS selama ini berhasil mengubah paradigma masyarakat disabilitas. Mereka tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang hanya membutuhkan bantuan, melainkan sebagai kelompok produktif yang mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Sodik menjelaskan, berbagai program pemberdayaan yang dijalankan BAZNAS telah melahirkan usaha-usaha mandiri di kalangan penyandang disabilitas. Mulai dari sektor kuliner melalui program ZChicken, jasa menjahit, jasa potong rambut, hingga produksi kaki palsu dan alat bantu lainnya.
“Beberapa pengusaha disabilitas binaan BAZNAS sekarang sudah mulai membayar zakat. Ini membuktikan bahwa pemberdayaan yang tepat mampu melahirkan kemandirian dan keberdayaan ekonomi,” katanya.
Lebih lanjut, Sodik mengungkapkan bahwa BAZNAS RI tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperluas cakupan program pemberdayaan difabel. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan teknis, serta dukungan infrastruktur usaha agar para penyandang disabilitas semakin kompetitif.
Salah satu program yang akan diperkuat adalah pelatihan bagi trainer baca Al-Qur’an Braille, termasuk dukungan alat produksi dan perluasan akses pasar bagi para perajin kaki prostetik.
“Kita akan menyusun dan mendukung beberapa program luar biasa, termasuk pelatihan trainer baca Al-Qur’an Braille serta penguatan usaha produktif difabel agar semakin berkembang,” tutur Sodik.
Ketua Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL), Sri Agustini, menyampaikan apresiasi atas dukungan konsisten BAZNAS sejak tahun 2016. Ia menyebut keberhasilan difabel yang kini mampu menjadi muzaki merupakan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mandiri dan berdaya.
“Terima kasih kepada BAZNAS yang telah memberdayakan disabilitas hingga mampu mengubah mereka dari mustahik menjadi munfiq bahkan muzaki. Semoga ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak,” ujarnya.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah perwakilan komunitas disabilitas, di antaranya Ketua Yayasan Anugrah Jaya Disabilitas Yudi Yudiana, perwakilan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Kanah Anna, perwakilan RBM Kota Bandung Warti Eryani, pelaku UMKM disabilitas Resti Rustini, pendamping Syifa, serta perwakilan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Pusat Toto bersama jajaran pendamping lainnya.






