Tanpa Teman Kita Bukan Siapa-siapa: Membaca Pidato Perdana IAS Usai Pimpin Golkar Sulsel dari Perspektif Filsafat dan Sosiologi Politik

Baharuddin Hafid

Oleh : Baharuddin Hafid, Akademisi Universitas Megarezky Makassar

Kalimat pertama yang disampaikan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) setelah ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan—”Tanpa teman kita bukan siapa-siapa dan apa-apa”—bukan sekadar ungkapan rasa syukur atau kerendahan hati. Di balik kalimat sederhana itu terkandung sebuah pandangan filosofis sekaligus pesan sosiologis yang sangat mendalam tentang hakikat kekuasaan.

Dalam perspektif filsafat Aristoteles, manusia adalah zoon politikon, makhluk yang hanya dapat mencapai kesempurnaannya melalui kehidupan bersama. Tidak ada pemimpin yang lahir dari ruang hampa. Kepemimpinan selalu merupakan hasil dari relasi, kepercayaan, dan pengakuan sosial. Karena itu, ketika IAS menempatkan “teman” sebagai fondasi utama, ia sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa legitimasi politik tidak hanya berasal dari aturan organisasi, tetapi juga dari jaringan kepercayaan yang dibangun bersama para kader.

Pemikiran Martin Buber tentang relasi I and Thou juga menemukan relevansinya. Seorang pemimpin tidak boleh memandang kader sebagai alat (It), melainkan sebagai sesama subjek (Thou) yang memiliki martabat dan peran. Persahabatan politik bukanlah transaksi kekuasaan, tetapi hubungan saling menguatkan untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam sosiologi politik, pandangan ini sejalan dengan teori modal sosial Robert Putnam. Organisasi yang kuat bukan hanya ditopang oleh struktur formal, melainkan oleh kepercayaan (trust), jejaring (network), dan norma saling membantu. Modal sosial itulah yang memungkinkan organisasi bertahan menghadapi konflik maupun kompetisi.

Pierre Bourdieu juga menjelaskan bahwa modal sosial sering kali lebih menentukan dibanding modal ekonomi. Seorang pemimpin yang memiliki jaringan persahabatan yang luas akan memiliki kemampuan lebih besar dalam menggerakkan organisasi. Dengan demikian, aklamasi bukan hanya kemenangan prosedural, tetapi juga akumulasi modal sosial yang dibangun melalui perjalanan politik yang panjang.

Dari perspektif Max Weber, kekuasaan akan bertahan apabila memperoleh legitimasi dari mereka yang dipimpin. Aklamasi memang memberikan legitimasi organisasi, tetapi legitimasi moral hanya lahir ketika seorang pemimpin mampu merangkul seluruh kader, termasuk mereka yang sebelumnya memiliki pilihan politik berbeda. Karena itu, kalimat IAS dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengakhiri kompetisi dan memulai konsolidasi.

Di sisi lain, teori integrasi sosial Emile Durkheim mengingatkan bahwa solidaritas merupakan perekat utama organisasi. Setelah Musda usai, tantangan sesungguhnya bukan lagi memenangkan kontestasi internal, melainkan menjaga kohesi agar Golkar Sulawesi Selatan mampu menghadapi kompetisi politik yang lebih besar pada Pemilu 2029.

Kalimat tersebut juga mengandung kritik halus terhadap budaya politik yang terlalu bertumpu pada figur. Sehebat apa pun seorang pemimpin, ia tidak akan mampu menggerakkan organisasi tanpa dukungan kolektif. Kepemimpinan modern tidak lagi bersandar pada kultus individu, tetapi pada kemampuan membangun kolaborasi, berbagi ruang, dan mengelola keberagaman kader.

Dengan demikian, pidato pembuka IAS dapat dibaca sebagai deklarasi filosofi kepemimpinan yang menempatkan persahabatan politik sebagai fondasi organisasi. Jika pesan ini benar-benar diterjemahkan ke dalam praktik, maka Musda yang berakhir dengan aklamasi bukan sekadar menghasilkan seorang ketua baru, tetapi juga membuka babak baru kepemimpinan yang lebih inklusif, kolektif, dan berorientasi pada penguatan institusi.

Pada akhirnya, sejarah politik selalu menunjukkan satu pelajaran penting: kemenangan dapat diraih oleh seorang tokoh, tetapi kejayaan hanya dapat diwujudkan oleh kebersamaan. Sebab benar adanya, tanpa teman, seorang pemimpin mungkin memiliki jabatan, tetapi belum tentu memiliki kekuatan. Tanpa teman, organisasi mungkin tetap berdiri, tetapi sulit bergerak menuju kemenangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *