JAKARTA – BELA RAKYAT – Perjalanan politik seseorang tidak selalu dimulai dari ambisi menduduki jabatan. Bagi Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jakarta Timur, Sardy Wahab, politik justru berawal dari keinginan sederhana untuk membangun pertemanan, memperluas jaringan sosial, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sejak bergabung dengan Partai Golkar pada 1983, Sardy telah melewati perjalanan panjang dalam dunia organisasi dan politik. Lebih dari empat dekade bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan komitmen dalam sebuah organisasi politik. Namun, bagi dirinya, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang posisi, kekuasaan, ataupun jabatan, melainkan bagaimana kehadirannya dapat memberikan arti bagi orang lain.
Sardy mengawali kiprah organisasinya melalui Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), organisasi kepemudaan yang menjadi salah satu wadah kaderisasi Partai Golkar. Sekitar sepuluh tahun aktif di AMPI, ia pernah terlibat dalam bidang nelayan dan perikanan serta mengikuti berbagai kegiatan organisasi hingga ke sejumlah daerah.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan bermasyarakat. Melalui organisasi, ia belajar membangun komunikasi, memperluas persaudaraan, serta memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saya ’83 masuk Golkar. Jadi posisi masuk Golkar itu tidak punya kepentingan dan tidak punya tujuan. Tujuan saya hanya ingin banyak teman,” ungkap Sardy.
Politik Bukan Sekadar Jabatan, tetapi Jalan Pengabdian
Sebelum menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, aktivitas Sardy lebih banyak diwarnai kegiatan sosial dan upaya membantu masyarakat. Melalui posisinya sebagai pimpinan perusahaan, ia berusaha menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar, terutama masyarakat kurang mampu.
Menariknya, perjalanan menuju parlemen bukanlah sesuatu yang sejak awal direncanakannya. Ia mengaku tidak pernah memiliki ambisi khusus untuk menjadi anggota legislatif. Keputusan masuk ke parlemen justru berawal dari dorongan sejumlah pengurus partai dan kesempatan politik yang kemudian mengantarkannya terpilih sebagai wakil rakyat.
Namun, ketika mendapatkan amanah tersebut, Sardy memandang jabatan legislatif sebagai ruang pengabdian yang lebih luas.
Baginya, menjadi anggota dewan bukan berarti hanya menghadiri rapat, mengikuti agenda kelembagaan, atau menjalankan fungsi formal parlemen. Seorang wakil rakyat harus memahami kehidupan masyarakat secara langsung dan mengetahui persoalan yang membutuhkan perhatian.
“Kembali kepada nawaitu awal, tidak punya pikiran, enggak punya rencana jadi anggota DPR. Tapi karena pengurus partai masuk dan kebetulan jadi, tapi nawaitunya lebih kepada ibadah,” tuturnya.
Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 6 Jakarta.
Memilih Hadir di Tengah Warga, Bukan Hanya Saat Pemilu
Salah satu hal yang menjadi perhatian Sardy adalah menjaga kedekatan dengan masyarakat. Ia mengaku hampir setiap hari menyempatkan diri mendatangi lingkungan warga setelah menyelesaikan pekerjaan.
Baginya, persoalan masyarakat tidak selalu harus menunggu menjadi persoalan besar untuk mendapatkan perhatian. Kebutuhan sederhana di tingkat RT dan RW pun layak diperhatikan karena menyangkut kenyamanan dan aktivitas sehari-hari warga.
Ia mencontohkan sejumlah persoalan yang ditemuinya secara langsung, mulai dari kebutuhan kamera pengawas atau CCTV untuk membantu keamanan lingkungan, pendingin ruangan di kantor kelurahan maupun RW, hingga kursi untuk menunjang kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Ketika menemukan kebutuhan tersebut dan memiliki kemampuan untuk membantu, Sardy berupaya memberikan solusi secara langsung.
“Ya kalau bisa misalnya kayak saya di dapilku, Dapil 6, hampir setiap hari pulang saya kerja enggak pernah ke rumah, nongkrong di RW. Apa kendalanya? Banyak maling, saya beli CCTV. Rapat di kantor lurah, apa RW, belum ada AC, saya beli. Lihat di PAUD enggak ada kursi, saya beli,” ujarnya.
Kebiasaan turun langsung tersebut memperlihatkan pendekatan politik yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ia tidak ingin aspirasi warga hanya berhenti sebagai catatan dalam pertemuan, tetapi harus diupayakan agar menghasilkan penyelesaian yang nyata.
Menurut Sardy, kepercayaan masyarakat tidak cukup dibangun melalui komunikasi menjelang pemilihan umum. Kepercayaan harus dirawat melalui kehadiran, kepedulian, dan konsistensi membantu masyarakat.
Memaknai Suara Rakyat, Suara Golkar
Dalam menjalankan aktivitas politiknya, Sardy menjadikan slogan Partai Golkar, “Suara Rakyat, Suara Golkar”, sebagai salah satu prinsip perjuangan.
Ia berpandangan bahwa partai politik harus memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat. Dukungan rakyat bukan sekadar modal untuk memenangkan kontestasi politik, melainkan amanah yang harus dijaga melalui kerja nyata.
Menurutnya, anggota legislatif memiliki tanggung jawab menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat dan pemerintah. Aspirasi warga harus diperjuangkan agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, program, maupun dukungan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Jadi rakyat punya suara, inilah usulan daripada rakyat inilah yang diperjuangkan,” katanya.
Sardy bahkan menyebut kebutuhan pengadaan berbagai perlengkapan yang disampaikan warga di tingkat RT dan RW dapat mencapai lebih dari Rp40 juta setiap bulan.
Di luar aktivitas politik dan sosial, ia juga memberikan perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan yang berkaitan dengan UMKM. Salah satunya melalui aktivitas pembelian minyak goreng yang turut membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat di lapangan.
Ia menilai kegiatan pemberdayaan tidak harus selalu berorientasi pada keuntungan finansial. Ada aktivitas yang menghasilkan keuntungan, tetapi ada pula yang dijalankan sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi sosial.
Bagi Sardy, keberadaan Partai Golkar tidak dapat dipisahkan dari dukungan masyarakat. Karena itu, kader partai harus terus menjaga hubungan dengan rakyat dan memastikan aspirasi mereka menjadi bagian dari perjuangan politik.
Memimpin Golkar Jakarta Timur dan Menyiapkan Kader Menuju 2029
Selain menjalankan tanggung jawab sebagai Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Sardy kini juga dipercaya memimpin Partai Golkar Jakarta Timur.
Posisi tersebut menghadirkan tanggung jawab yang lebih luas, terutama dalam menjaga konsolidasi organisasi, memperkuat struktur kepartaian, dan menyiapkan kader menghadapi Pemilu 2029.
Sardy memahami bahwa membangun kekuatan politik tidak cukup hanya dengan mengandalkan popularitas atau keinginan seseorang untuk menjadi calon anggota legislatif. Dibutuhkan kesiapan yang menyeluruh, mulai dari kapasitas personal, kemampuan finansial, jaringan sosial, hingga kedekatan dengan masyarakat.
Karena itu, ia berupaya mempersiapkan kader-kader Golkar Jakarta Timur yang memiliki keseriusan dan kesiapan untuk berjuang dalam kontestasi politik mendatang.
Meskipun regulasi pemilu berikutnya masih menunggu kepastian, persiapan organisasi tetap menjadi pekerjaan penting yang tidak dapat ditunda.
“Tentu saya sebagai Pimpinan Golkar Jakarta Timur, saya menyiapkan kader-kader saya yang siap berjuang untuk merebut kursi 2029,” ungkapnya.
Persiapan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar. Organisasi politik, menurut semangat yang diperlihatkannya, harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya siap bertarung dalam pemilu, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Empat Dekade Perjalanan, Satu Komitmen Pengabdian
Jika menengok kembali perjalanan Sardy Wahab sejak 1983, ada satu benang merah yang menghubungkan seluruh aktivitasnya: keinginan untuk membangun hubungan dengan masyarakat dan memberikan manfaat melalui ruang pengabdian yang dimilikinya.
Dari aktivis AMPI, penggerak kegiatan sosial, hingga menjadi pimpinan partai dan wakil rakyat di DPRD DKI Jakarta, perjalanan tersebut menggambarkan bagaimana aktivitas organisasi dapat berkembang menjadi tanggung jawab politik yang lebih besar.
Bagi Sardy, politik idealnya tidak berhenti pada perebutan kursi dan kekuasaan. Politik harus mampu menghadirkan kebermanfaatan, menjawab kebutuhan masyarakat, serta memastikan rakyat merasakan kehadiran wakilnya.
Ia meyakini bahwa pengabdian sejati tidak selalu membutuhkan instruksi, jabatan, ataupun sorotan publik. Kepedulian harus tumbuh dari kesadaran dan ketulusan untuk membantu sesama.
“Kalau niat kita beribadah tentu tanpa instruksi, dengan sendirinya hati bergerak untuk membantu rakyat,” pungkasnya.
Empat dekade bersama Golkar menjadi perjalanan panjang Sardy Wahab. Namun, baginya, ukuran keberhasilan politik bukan semata-mata berapa lama seseorang berada dalam organisasi atau jabatan yang pernah diduduki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.






