BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Kepulangan Sopian, S.E., usai dilantik Bupati Bekasi sebagai Kepala Desa Tridaya Sakti pada Rabu, 4 November 2026 siang disambut dengan pergelaran seni budaya yang sarat makna. Digagas Den Cupank, Sekretaris Jenderal Rumah Hebat Nusantara, penyambutan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan pesan bahwa pembangunan desa harus berjalan beriringan dengan pelestarian kebudayaan.
Lima unsur seni Nusantara, yakni tari, lukis, sastra atau puisi, musik qasidah, dan seni bela diri pencak silat, ditampilkan dalam satu kesatuan rangkaian acara. Mulai dari tarian penyambutan, atraksi pencak silat Paguron Sinar Pusaka Pagar Banten dan Perguruan Silat Tenaga Dasar (PSTD) Indonesia diiringi dengan orasi budaya ke-Bekasian oleh sesepuh Bekasi Raden Faried Natawiraguna, live mural, tari Betawi, hingga lantunan qasidah ibu-ibu Sobat Sopian. Perpaduan tersebut menjadi gambaran bahwa kekayaan budaya dapat menjadi kekuatan pemersatu masyarakat Tridaya Sakti.
Bagi warga, penyambutan tersebut bukan hanya tontonan, melainkan pesan tentang arah pembangunan desa yang tidak boleh tercerabut dari akar kebudayaannya. Ayulativa, warga RT 06 RW 007 Desa Tridaya Sakt mengapresiasi kepedulian kepala desa yang baru terhadap seni budaya Nusantara.
“Saya merasa bangga, kini Desa Tridaya Sakti memiliki kepala desa yang peduli terhadap seni dan budaya Nusantara. Harapan saya, Pak Sopian senantiasa menggali potensi putra-putri Tridaya Sakti melalui seni budaya warisan bangsa, agar generasi muda memiliki ruang untuk berkarya dan melestarikan kebudayaan,” ungkapnya kepada awak media, Rabu (4/11/2026).
Sementara itu, Lukman Hakim, Sekretaris Desa (Sekdes) Tridaya Sakti yang baru, menegaskan komitmennya mendampingi kepemimpinan Sopian.
“Saya akan selalu menemani dan mendukung Kepala Desa dalam menjalankan amanah serta bersama-sama memakmurkan Desa Tridaya Sakti. Sebab, kemajuan desa membutuhkan kebersamaan, kekompakan, dan kerja nyata seluruh perangkat pemerintahan,” tegas Lukman.
Menurutnya, “Jabatan bukan sekadar struktur administratif, melainkan amanah yang menuntut kerja sama, kesungguhan, dan tanggung jawab. Sinergi antara kepala desa, perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, serta warga menjadi fondasi penting agar setiap program pembangunan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutur Lukman.
Dalam sambutan pamungkasnya, Sopian, S.E., menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Den Cupank atas gagasan penyambutan yang mengangkat lima unsur seni. Ia secara khusus mengapresiasi keberanian menghadirkan lima unsur seni sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap kepemimpinan yang baru diembannya.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Den Cupank, Sekjen Rumah Hebat Nusantara, yang telah menghadirkan lima unsur seni, yaitu tari, lukis, sastra atau puisi, musik, dan pencak silat dalam menyambut saya setelah dilantik sebagai Kepala Desa Tridaya Sakti. Ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus kepedulian terhadap seni dan budaya Nusantara,” ungkap Sopian.
Masih menurut Sopian, “Penyambutan bernuansa budaya tersebut sejalan dengan Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Semangat itu juga relevan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024, yang memberikan ruang bagi desa untuk mengembangkan potensi lokal dan prakarsa masyarakat. Artinya, pelestarian budaya bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan bagian dari pembangunan desa yang berkarakter.” Pungkasnya.
Kini, harapan masyarakat tertuju pada kepemimpinan Sopian agar kepedulian terhadap kebudayaan tidak berhenti di panggung penyambutan. Sebab, desa yang maju bukan hanya memiliki infrastruktur yang kokoh, tetapi juga generasi yang berdaya, tradisi yang terpelihara, dan ruang berkarya yang terbuka. Dari Tridaya Sakti, sebuah pesan ditegaskan: membangun desa berarti membangun manusia, merawat budaya, dan menyiapkan peradaban.
(CP/red)






