Mengapa Nabi Ibrahim Memerintahkan Nabi Ismail Menceraikan Istrinya?

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Ada sebuah kisah dalam Sahih al-Bukhari yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran besar tentang syukur dan fondasi sebuah rumah tangga.

Bacaan Lainnya

Suatu hari, Nabi Ibrahim AS datang ke Makkah untuk menemui putranya, Nabi Ismail AS. Namun, Ismail sedang keluar mencari nafkah. Di rumah, beliau hanya bertemu dengan menantunya.

Nabi Ibrahim bertanya, “Di manakah suamimu?”
Ia menjawab, “Ia sedang mencari nafkah.”
Beliau kembali bertanya, “Bagaimana keadaan hidup kalian?”
Perempuan itu menjawab dengan penuh keluhan, “Kami hidup susah, sempit, dan penuh kekurangan.”

Nabi Ibrahim tidak membantah ataupun menasihatinya. Sebelum pergi, beliau hanya berpesan, “Sampaikan salamku kepada suamimu, dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya.”

Ketika Nabi Ismail pulang dan mendengar pesan itu, beliau langsung memahami maksud ayahnya. “Itu ayahku. Yang dimaksud palang pintu rumah adalah engkau. Beliau memerintahkanku untuk menceraikanmu.”

Setelah itu Nabi Ismail menikah dengan perempuan lain. Beberapa waktu kemudian, Nabi Ibrahim kembali berkunjung. Kali ini beliau bertemu dengan istri kedua Nabi Ismail.

“Bagaimana keadaan hidup kalian?” tanya beliau.
Perempuan itu menjawab dengan wajah tenang, “Alhamdulillah, kami berada dalam kebaikan. Allah telah melimpahkan banyak nikmat kepada kami.”
Padahal kehidupan mereka tetap sederhana. Makanan mereka hanya daging hasil buruan dan air. Namun, hatinya dipenuhi rasa syukur.
Mendengar jawaban itu, Nabi Ibrahim berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ
“Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air.”

Sebelum pulang, beliau berpesan, “Sampaikan salamku kepada suamimu dan katakan agar ia mempertahankan palang pintu rumahnya.”

Ketika Nabi Ismail mendengar pesan itu, beliau berkata, “Itu ayahku. Beliau memerintahkanku untuk tetap mempertahankanmu sebagai istriku.”

Kisah ini mengajarkan bahwa Nabi Ibrahim tidak menilai seorang istri dari kecantikan, keturunan, ataupun hartanya. Beliau melihat kualitas hati. Hati yang dipenuhi syukur akan menghadirkan ketenangan dan keberkahan, sedangkan hati yang dipenuhi keluhan perlahan akan mengikis kebahagiaan rumah tangga.

Syukur bukan berarti hidup tanpa kesulitan, tetapi kemampuan melihat nikmat Allah di tengah keterbatasan. Orang yang bersyukur tidak menutup mata terhadap ujian, tetapi juga tidak membiarkan ujian menutup matanya dari karunia Allah.

Allah SWT berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Rumah yang paling kokoh bukanlah rumah yang paling mewah, tetapi rumah yang dihuni oleh hati-hati yang pandai bersyukur, saling menguatkan, dan menjadikan “Alhamdulillah” sebagai tiang utama dalam setiap keadaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *