Di Santunan Yatim KPU, Menag Nasaruddin Umar: Syukur Bukan Sekadar Ucapan, Harus Diwujudkan dengan Berbagi

JAKARTA – BELA RAKYAT –  Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak masyarakat memaknai rasa syukur tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga dengan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.

Pesan tersebut disampaikan saat memberikan tausiyah dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Komisi Pemilihan Umum (KPU) sekaligus Santunan Anak Yatim di Ruang Sidang Utama KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (6/11/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan yang diisi dengan santunan dan doa bersama anak-anak yatim di antaranya dari Sahabat Yatim Al Mahabbah. Pada kesempatan itu, Menag menekankan bahwa bertambahnya usia merupakan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Namun, rasa syukur seharusnya tidak berhenti pada ungkapan lisan, melainkan tercermin dalam sikap, kepedulian, dan perbuatan.

Nasaruddin didampingi Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin menjelaskan, rasa syukur memiliki tingkatan. Seseorang tidak cukup hanya mengucapkan Alhamdulillah ketika memperoleh nikmat, tetapi juga perlu menghadirkan rasa terima kasih kepada Allah dalam hati dan membuktikannya melalui tindakan.

Menurutnya, terdapat empat tahapan yang menggambarkan proses seseorang dalam memaknai syukur, mulai dari pujian yang hanya diucapkan, pengakuan atas nikmat Allah, hingga perwujudan rasa syukur melalui perbuatan dan kepedulian kepada orang lain.

“Tasyakkur adalah tingkat tertinggi: memuji sekaligus berbagi kepada orang lain,” demikian pesan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut.

Menag juga mengingatkan bahwa berbagi kepada anak yatim merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian sosial. Kehadiran anak-anak yatim dalam peringatan HUT KPU menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan keberhasilan sebuah lembaga sepatutnya turut dirasakan oleh masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan perhatian.

Sebelumnya, Nasaruddin mengawali tausiyah dengan mengingatkan kekuatan doa anak-anak yatim.

“Jika ada 40 anak yatim berdoa dalam waktu yang sama, jangan khawatir doa tidak diijabah,” ujarnya.

Pesan tersebut menghadirkan suasana khidmat di tengah peringatan hari jadi lembaga penyelenggara pemilu itu. Para pejabat dan undangan yang hadir turut menengadahkan tangan mengikuti doa bersama.

Syukur atas Nikmat dan Ujian

Dalam tausiyahnya, Nasaruddin juga menguraikan perbedaan antara mensyukuri nikmat yang menyenangkan dan menerima segala ketentuan Allah, termasuk keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia.

Ia mengingatkan bahwa syukur bukan hanya dilakukan ketika seseorang mendapatkan keberhasilan, kesehatan, rezeki, atau kemudahan hidup. Rasa syukur juga perlu dijaga ketika menghadapi kesulitan dan ujian.

Menag kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“La in syakartum la aziidannakum, wa la in kafartum inna ‘adzabii la syadiid.”

Artinya, jika manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, apabila manusia mengingkari nikmat tersebut, terdapat peringatan tentang azab Allah yang sangat pedih.

Pesan ini menjadi refleksi bahwa usia panjang, jabatan, dan keberhasilan bukan semata-mata sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

HUT KPU Diisi Santunan Anak Yatim

Peringatan HUT ke-73 KPU tahun ini diisi dengan kegiatan sosial berupa pemberian santunan dan doa bersama anak-anak yatim. Ketua KPU, M. Afifuddin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi tradisi tahunan sejak 2022 dan dilaksanakan di seluruh jajaran KPU di Indonesia.

“Sejak 2022, kami rutin melakukan ini setiap tahun, di seluruh KPU se-Indonesia,” kata Afifuddin.

Kegiatan tersebut menghadirkan suasana berbeda dari aktivitas kelembagaan KPU yang selama ini identik dengan penyelenggaraan pemilu, rapat pleno, dan proses demokrasi.

Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab lembaga publik tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas formal, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial dan kemanusiaan.

Bagi Nasaruddin Umar, berbagi merupakan salah satu cara menerjemahkan rasa syukur ke dalam kehidupan nyata. Sebab, nikmat yang dimiliki seseorang akan semakin bermakna ketika dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Peringatan HUT ke-73 KPU pun menjadi momentum refleksi bahwa perjalanan sebuah lembaga tidak semata-mata diukur dari panjangnya usia, tetapi juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam setiap pengabdiannya.

Melalui doa dan santunan anak yatim, perayaan tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur sejati bukan hanya tentang apa yang telah diterima, melainkan juga tentang apa yang dapat diberikan kepada sesama.

BELA RAKYAT: Mengabarkan Fakta, Mengawal Kepentingan Rakyat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *