Dari Potensi Menuju Nilai Tambah, Dari Usaha Rakyat Menuju Perusahaan Berdaya Saing
Oleh: Syafruddin Mualla, Pengusaha Asal Bulukumba, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Bulukumba tidak pernah kekurangan potensi. Daerah ini dianugerahi kekayaan laut yang melimpah, lahan pertanian yang subur, industri maritim yang telah mendunia melalui kapal pinisi, serta sektor pariwisata yang terus berkembang. Di atas semua itu, Bulukumba memiliki modal terbesar yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu masyarakat yang dikenal ulet bekerja dan memiliki semangat berusaha yang tinggi.
Namun, di tengah berbagai keunggulan tersebut, ada satu pertanyaan yang patut menjadi bahan renungan bersama: mengapa Bulukumba yang kaya sumber daya belum melahirkan lebih banyak perusahaan besar yang tumbuh dari putra-putri daerahnya sendiri?
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bulukumba pada tahun 2024 mencapai sekitar Rp20,22 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,60 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa roda perekonomian terus bergerak. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya berhenti pada angka statistik. Pertumbuhan harus mampu melahirkan investasi baru, memperluas kesempatan kerja, menciptakan nilai tambah, dan melahirkan perusahaan-perusahaan lokal yang kuat.
Di sisi lain, Bulukumba juga memiliki bonus demografi. Setiap tahun semakin banyak generasi muda memasuki usia produktif. Mereka membutuhkan ruang untuk berkarya dan memperoleh pekerjaan yang layak. Tanpa pertumbuhan dunia usaha yang sehat, bonus demografi dapat berubah menjadi tantangan. Karena itu, melahirkan lebih banyak pengusaha dan perusahaan lokal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan pembangunan.
Di sinilah peran pengusaha lokal menjadi sangat menentukan.
Pemerintah memiliki peran penting membangun jalan, pelabuhan, irigasi, sekolah, dan infrastruktur lainnya. Pemerintah juga menghadirkan regulasi, pelayanan publik, dan iklim investasi yang kondusif. Namun, yang menggerakkan ekonomi setiap hari adalah dunia usaha. Pengusahalah yang mengambil risiko, membuka lapangan kerja, menciptakan inovasi, mengembangkan pasar, serta mengubah potensi daerah menjadi kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, masa depan ekonomi Bulukumba tidak hanya bergantung pada besarnya APBD atau banyaknya investasi dari luar daerah. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan daerah ini melahirkan semakin banyak pengusaha lokal yang membangun perusahaan yang sehat, profesional, dan mampu bersaing.
Saatnya Naik Kelas
Salah satu kekuatan terbesar Bulukumba adalah budaya kewirausahaan yang telah tumbuh sejak lama. Dari pasar tradisional hingga usaha keluarga, ribuan pelaku usaha setiap hari menggerakkan roda perekonomian daerah. Mereka adalah fondasi ekonomi Bulukumba yang sesungguhnya.
Fondasi inilah yang harus terus diperkuat.
Tantangan pembangunan ekonomi ke depan bukan sekadar menambah jumlah pelaku usaha, tetapi mendorong semakin banyak di antaranya untuk naik kelas. Pedagang, pelaku UMKM, dan wirausahawan lokal perlu didorong agar berkembang menjadi pengusaha yang mampu membangun perusahaan dengan tata kelola yang baik, merek yang kuat, akses pasar yang luas, serta kemampuan menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan kerja.
Perjalanan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Hampir semua perusahaan besar di Indonesia berawal dari usaha kecil yang dibangun dengan kerja keras, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan membaca perubahan zaman.
Karena itu, pembangunan ekonomi Bulukumba tidak boleh mempertentangkan pedagang dengan pengusaha. Justru sebaliknya, yang harus dibangun adalah jembatan agar semakin banyak pelaku usaha bertumbuh dari usaha mikro menjadi usaha menengah, dari usaha keluarga menjadi perusahaan yang profesional, dan dari pasar lokal menuju pasar nasional bahkan internasional.
Potensi Harus Menjadi Nilai Tambah
Bulukumba memiliki keunggulan di sektor rumput laut, perikanan, pertanian, peternakan, maritim, dan pariwisata. Semua merupakan modal ekonomi yang sangat besar.
Namun, potensi akan kehilangan sebagian besar nilainya apabila hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Nilai ekonomi terbesar justru dinikmati daerah lain yang memiliki industri pengolahan.
Sudah saatnya Bulukumba membangun ekonomi berbasis nilai tambah. Rumput laut tidak cukup hanya dipanen, tetapi harus berkembang menjadi industri pangan, kosmetik, hingga bahan baku farmasi. Hasil perikanan perlu didorong menjadi produk olahan yang mampu menembus pasar ekspor. Pertanian harus berkembang menuju agroindustri modern, sementara sektor maritim, pariwisata, logistik, properti, dan ekonomi digital perlu tumbuh sebagai sumber pertumbuhan baru.
Daerah yang maju bukanlah daerah yang sekadar kaya sumber daya alam, melainkan daerah yang mampu mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tinggi, merek yang kuat, dan perusahaan yang berdaya saing.
Membangun Ekosistem Pertumbuhan
Melahirkan perusahaan besar tidak bisa dibebankan hanya kepada pelaku usaha. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perbankan, organisasi bisnis, serta masyarakat harus menjadi bagian dari ekosistem yang saling mendukung.
Kemudahan perizinan, akses pembiayaan, pendidikan kewirausahaan, pendampingan UMKM, penguatan infrastruktur, hingga promosi investasi harus berjalan beriringan. Di saat yang sama, pelaku usaha juga harus terus meningkatkan kapasitas, memperbaiki tata kelola, memanfaatkan teknologi, dan berani melakukan ekspansi usaha.
Kolaborasi seperti inilah yang akan melahirkan perusahaan-perusahaan lokal yang tangguh dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Saatnya Bulukumba Melahirkan Perusahaan Besar
Kapal pinisi adalah bukti bahwa masyarakat Bulukumba sejak dahulu memiliki keberanian, kreativitas, dan kemampuan menghasilkan karya yang diakui dunia. Semangat itu seharusnya menjadi inspirasi untuk melahirkan perusahaan-perusahaan modern yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global.
Sudah saatnya Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai daerah yang melahirkan perusahaan-perusahaan besar dari putra-putri daerahnya sendiri. Perusahaan yang menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, menarik investasi, dan menjadi kebanggaan masyarakat.
Kemajuan suatu daerah tidak semata-mata diukur dari besarnya anggaran atau melimpahnya sumber daya alam, melainkan dari kemampuan manusianya menciptakan nilai tambah. Ketika semakin banyak pelaku usaha lokal tumbuh menjadi pengusaha yang membangun perusahaan profesional, ekonomi Bulukumba akan menjadi lebih kokoh, mandiri, dan berkelanjutan.
Sejarah telah membuktikan bahwa kapal pinisi mampu mengantarkan nama Bulukumba ke panggung dunia. Kini saatnya perusahaan-perusahaan yang lahir dari putra-putri daerah mengantarkan Bulukumba menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan. Sebab masa depan Bulukumba tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya semata, tetapi oleh keberanian masyarakatnya mengubah potensi menjadi nilai tambah, lapangan kerja, dan kemakmuran. Masa depan itu ada di tangan pengusaha lokal yang terus bertumbuh.






