Kepala Suku Kanum Minta Pengembangan Pertanian Merauke Diikuti Pendampingan Petani Lokal

MERAUKE – BELA RAKYAT  – Kepala Suku Kanum, Yeremias K. Ndimar, berharap pengembangan pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, disertai pelatihan dan pendampingan bagi masyarakat lokal. Kebutuhan tersebut mengemuka karena sebagian warga Kanum masih baru mengenal budidaya padi, sementara hasil pangan tradisional yang selama ini mereka kelola memiliki akses pasar yang terbatas.

Harapan itu disampaikan Yeremias dalam pertemuan bersama Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Kalai Anim (IMPKA), serta pegiat budaya dan lingkungan Agustinus Mahuze di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Senin (26/10/2026).

Yeremias menjelaskan bahwa pengembangan pertanian dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan. Ia mendukung kegiatan tersebut karena hasilnya diharapkan membantu memenuhi kebutuhan keluarga, terutama membiayai pendidikan anak-anak.

Namun, pengembangan lahan masih berlangsung dan sebagian warga belum memiliki pengalaman memadai dalam budidaya padi. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan perhatian pemerintah agar masyarakat memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pertanian.

“Pembinaan kepada masyarakat lokal ini harus dilakukan,” ujar Yeremias.

Ia berharap instansi teknis pemerintah memberikan pendampingan secara rutin sejak tahap awal pengembangan pertanian. Pembinaan diperlukan agar masyarakat memahami kegiatan budidaya dan mampu mengelola hasil produksi secara mandiri.

Selain kemampuan bertani, Yeremias menyoroti persoalan pemasaran pangan tradisional. Menurutnya, masyarakat Kanum memiliki sumber pangan lokal yang telah lama dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi belum memiliki akses pasar yang memadai untuk menghasilkan pendapatan.

Karena itu, pengembangan pertanian diharapkan dapat memperluas pilihan mata pencaharian sekaligus membuka kesempatan bagi komoditas tradisional untuk memiliki nilai ekonomi. Peningkatan produksi dinilai perlu disertai perhatian terhadap potensi pangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Yeremias juga mengingatkan pentingnya memperhatikan karakteristik lingkungan dalam menentukan lokasi pertanian. Ia menyoroti ketentuan zonasi Taman Nasional Wasur yang membedakan kawasan pemanfaatan dengan zona inti yang harus tetap dilindungi.

Menurutnya, tidak seluruh wilayah dapat dibuka untuk kegiatan pertanian. Pertimbangan terhadap fungsi kawasan dan sumber air diperlukan agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu keberlanjutan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.

Pertemuan bersama MPSI dan mahasiswa IMPKA turut menjadi ruang pembelajaran mengenai perubahan mata pencaharian, potensi pangan lokal, serta kebutuhan pemberdayaan masyarakat adat dalam menghadapi pengembangan pertanian.

Yeremias berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait memberikan perhatian pada pembinaan petani dan pengembangan akses pasar. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Kanum meningkatkan pendapatan keluarga tanpa mengesampingkan sumber pangan tradisional dan kelestarian lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *