Lewat Sagu Sep, Mahasiswa dan Pelajar Kalai Anim Bangun Kemandirian Organisasi

MERAUKE – BELA RAKYAT –  Mahasiswa dan pelajar Kalai Anim di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, memanfaatkan sagu sep, makanan tradisional masyarakat Malind, untuk mengembangkan kegiatan produktif berbasis budaya. Melalui inisiatif tersebut, Ikatan Mahasiswa Pelajar Kalai Anim (IMPKA) menyiapkan bazar guna memperkuat pendanaan organisasi sekaligus melestarikan tradisi masyarakat adat.

Kegiatan pembuatan sagu sep yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) itu melibatkan anggota IMPKA sebagai bagian dari upaya mengembangkan kemampuan berorganisasi melalui pemanfaatan potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Ketua IMPKA, Emanuel Talpia Yolmen, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan pelajar untuk membangun kemandirian melalui aktivitas yang mereka rencanakan dan kerjakan bersama.

“Kami bisa belajar kemandirian dari sebuah wadah atau organisasi yang kami punya,” ujar Emanuel di Merauke, Senin.

Emanuel menjelaskan, sagu sep yang diolah para anggota direncanakan untuk dipasarkan melalui kegiatan bazar. Hasil penjualannya diharapkan dapat menambah kas IMPKA untuk mendukung berbagai kegiatan mahasiswa dan pelajar Kalai Anim.

Selain memiliki potensi ekonomi, sagu sep juga menyimpan nilai budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Malind. Menurut Emanuel, pengolahan makanan tradisional tersebut dikenal dalam sejumlah kegiatan adat, termasuk tradisi kedukaan dan peringatan 40 hari.

Namun, pembuatan sagu sep kali ini memiliki tujuan berbeda. IMPKA mengembangkan pemanfaatannya untuk kegiatan bazar tanpa melepaskan nilai budaya yang melekat pada tradisi tersebut.

Emanuel menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Malind, khususnya tradisi masyarakat Kalai Anim. Keterlibatan mahasiswa dan pelajar dalam proses pengolahan sagu sep memungkinkan pengetahuan budaya terus dipraktikkan oleh generasi muda.

Inisiatif tersebut memperlihatkan peluang pengembangan kegiatan ekonomi organisasi yang bertumpu pada kekayaan budaya masyarakat adat. Melalui keterlibatan langsung para anggotanya, IMPKA menghubungkan pembelajaran kemandirian dengan upaya menjaga keberlanjutan tradisi lokal.

Rencana bazar sagu sep menjadi salah satu bentuk pemanfaatan warisan budaya untuk mendukung aktivitas organisasi mahasiswa dan pelajar Kalai Anim. Dengan demikian, tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai identitas masyarakat, tetapi juga dikembangkan melalui kegiatan yang memiliki manfaat bagi komunitasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *