MARAUKE – BELA RAKYAT – Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) menggelar diskusi bersama masyarakat adat Kalai Woyu Maklew di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa (15/9/2026). Diskusi ini membahas pentingnya legalitas Masyarakat Hukum Adat (MHA) sekaligus kepastian terhadap tanah ulayat.
Pertemuan yang digelar bersama MPSI itu mendapat sambutan positif dari masyarakat Kampung Wanam. Warga telah berkumpul sejak pagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan hingga diskusi berlangsung.
Kegiatan diawali dengan doa adat yang dipimpin oleh tetua setempat. Prosesi tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan restu kepada Sang Pencipta dan leluhur agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Kampung Wanam, Kosmas Sirilius Dawi, kemudian menyampaikan sambutan sekaligus menyambut baik kedatangan tim MPSI. Ia mengapresiasi perhatian yang diberikan terhadap keberadaan dan kepentingan masyarakat di wilayahnya.
“Pentingnya menjaga keseimbangan tiga unsur dalam kehidupan masyarakat, yakni aturan adat, ajaran agama, serta kebijakan pemerintah,” kata Kosmas.
Menurutnya, ketiga unsur tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya harus saling melengkapi agar kehidupan masyarakat tetap berjalan secara tertib dan harmonis.
“Konsep tersebut, sejalan dengan nilai lokal yang dikenal sebagai “tiga tungku”. Dalam kehidupan masyarakat, tiga tungku menjadi gambaran tiga pilar kepemimpinan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan, ketenteraman dan ketertiban kampung,” tuturnya.
Kosmas menggunakan gambaran tungku tradisional untuk menjelaskan pentingnya keseimbangan tersebut. Ia mengibaratkan tiga unsur kehidupan masyarakat sebagai batu penyangga yang menopang sebuah kuali.
“Ketiga batu itu harus memiliki posisi yang kokoh dan seimbang. Apabila salah satu penyangga rusak atau tidak lagi berada pada tempatnya, maka tungku tidak akan mampu menopang kuali dengan baik,” terang Kosmas.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat kuali menjadi miring hingga jatuh dan menumpahkan seluruh isinya. Bagi Kosmas, gambaran sederhana itu menunjukkan bahwa ketidakseimbangan salah satu unsur dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Ia pun menilai keberadaan adat, agama dan pemerintah perlu terus diperkuat dalam kehidupan masyarakat Kampung Wanam. Sinergi ketiganya menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial sekaligus menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Diskusi kemudian menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya legalitas Masyarakat Hukum Adat serta kepastian administrasi atas tanah ulayat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adat Kalai Woyu Maklew.






