Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Tidak semua orang ingin dikenang karena kemuliaannya. Sebagian justru rela diingat karena kehinaannya, asalkan namanya terus diperbincangkan.
Di era media sosial, perhatian publik telah menjelma menjadi mata uang baru. Ukuran keberhasilan tidak lagi selalu ditentukan oleh integritas, prestasi, atau manfaat, tetapi oleh seberapa viral seseorang. Akibatnya, lahirlah budaya sensasi, yang berefek semakin kontroversial, semakin besar peluang menjadi terkenal.
Fenomena ini sesungguhnya telah lama dikenal dalam tradisi Arab melalui ungkapan satiris:
بَالَ عَلَى زَمْزَمَ فَتُعْرَفْ
“Kencingilah sumur Zamzam, niscaya engkau akan dikenal.”
Ungkapan ini berawal dari kisah seorang Badui yang sengaja mengencingi Sumur Zamzam pada musim haji. Ketika ditanya mengapa melakukan perbuatan sehina itu, ia menjawab, “Agar semua orang mengenal saya.” Ia memang menjadi terkenal, tetapi bukan karena kemuliaannya, melainkan karena kebodohannya. Namanya hilang ditelan sejarah, sementara aibnya tetap dikenang.
Ada pula ungkapan Arab yang populer:
مَنْ يُخَالِفِ النَّاسَ يُعْرَفْ
“Barang siapa berani berbeda dari kebanyakan orang, niscaya ia akan dikenal.”
Ungkapan ini pada dasarnya bersifat netral. Berbeda bukanlah kesalahan apabila perbedaan itu lahir dari ilmu, inovasi, keberanian menegakkan kebenaran, atau melahirkan kemaslahatan. Namun ketika “berbeda” dilakukan hanya demi mencari perhatian melalui tindakan yang merusak norma, menghina nilai agama, menebar kebencian, atau menciptakan kegaduhan, maka yang lahir bukan kemuliaan, melainkan popularitas yang murahan.
Sayangnya, inilah yang semakin sering kita saksikan. Sebagian orang menjadikan kontroversi sebagai strategi untuk mendongkrak popularitas, elektabilitas politik, keuntungan ekonomi, atau sekadar memuaskan dahaga akan pengakuan. Prestasi membutuhkan proses, sedangkan sensasi hanya membutuhkan keberanian melanggar batas.
Dalam politik, kegaduhan sering mengalahkan gagasan. Dalam bisnis, kontroversi dijadikan strategi pemasaran. Dalam kehidupan sosial, citra lebih dipoles daripada karakter. Seolah-olah dikenal lebih penting daripada dihormati.
Padahal Allah mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatatnya.” (QS. Qaf: 18).
Rasulullah SAW. juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, jangan mengejar ketenaran dengan cara yang mengorbankan kehormatan. Tidak semua yang viral layak diteladani, dan tidak semua yang terkenal pantas dihormati. Popularitas dapat diraih dalam semalam, tetapi kehormatan hanya dibangun oleh akhlak, ilmu, dan pengabdian sepanjang hayat. Sejarah tidak memuliakan orang yang paling banyak dibicarakan, melainkan mereka yang paling banyak memberi manfaat.
#Wallahu A’lam Bishawab






