Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Di tengah berkembangnya budaya individualisme modern, muncul satu cara pandang yang semakin sering terdengar: “Saya tidak suka organisasi.” Sebagian menganggap organisasi hanya membatasi kebebasan, menghambat kreativitas, memperpanjang proses, dan sering kali melahirkan konflik yang melelahkan. Karena itu, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berjalan sendiri. Mereka ingin berkontribusi tanpa terikat, ingin berjuang tanpa struktur, dan ingin didengar tanpa harus mendengar orang lain.
Sekilas, cara pandang ini tampak rasional. Bahkan bagi sebagian kalangan terdidik, sikap anti-organisasi sering dipersepsikan sebagai simbol kemandirian berpikir. Namun jika direnungkan lebih dalam, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah organisasi memiliki kekurangan, melainkan apakah manusia memang diciptakan untuk hidup dan berjuang sendirian?
Menariknya, ketika kita memperhatikan alam semesta, hampir tidak ada satu pun ciptaan Allah yang bergerak tanpa sistem. Bintang-bintang beredar pada orbitnya, siang dan malam datang silih berganti dengan keteraturan yang menakjubkan, burung-burung terbang dalam formasi, dan semut-semut bekerja dalam koloni yang terorganisasi. Al-Qur’an menggambarkan keteraturan itu dalam firman-Nya:
وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُون
“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”(QS. Yasin: 40)
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang benda-benda langit. Ia mengajarkan bahwa keteraturan adalah bagian dari sunnatullah. Alam tidak dibangun oleh kesendirian, tetapi oleh keterhubungan. Tidak oleh ego yang berjalan sendiri, tetapi oleh sistem yang saling menopang. Karena itu, menjadi aneh ketika manusia yang diciptakan sebagai makhluk paling sempurna justru merasa dapat tumbuh tanpa kebersamaan.
Sejak awal penciptaannya, manusia diperkenalkan dengan konsep relasi dan komunitas. Allah tidak membiarkan Nabi Adam hidup sendiri. Allah menciptakan pasangan, keluarga, dan masyarakat sebagai ruang bertumbuh bagi manusia. Firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa.”(QS. An-Nisa’: 1)
Pesan ayat ini sangat mendalam. Manusia berasal dari sumber yang sama dan karena itu tidak ditakdirkan untuk hidup dalam keterasingan. Kebersamaan bukan sekadar kebutuhan sosial, tetapi bagian dari desain penciptaan manusia itu sendiri.
Salah satu sebab mengapa sebagian orang menjauhi organisasi adalah karena mereka pernah kecewa oleh manusia di dalamnya. Mereka menemukan perbedaan pendapat, konflik kepentingan, persaingan, atau bahkan pengkhianatan. Namun justru di sinilah letak pelajaran yang sering luput dipahami. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ
“Kami jadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?”
(QS. Al-Furqan: 20)
Ayat ini seolah menjelaskan bahwa perbedaan karakter manusia bukanlah kecelakaan sosial, melainkan bagian dari proses pendidikan Ilahi. Organisasi mempertemukan orang-orang dengan latar belakang, watak, dan cara berpikir yang berbeda. Di sanalah seseorang belajar mengendalikan ego, menerima kritik, menghargai perbedaan, dan membangun kedewasaan. Sebab kedewasaan tidak lahir ketika seseorang selalu bersama orang-orang yang sepakat dengannya. Kedewasaan justru lahir ketika ia mampu hidup bersama mereka yang berbeda.
Karena itu Rasulullah SAW. memberikan ukuran yang sangat menarik tentang kualitas seorang mukmin:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini mengandung pesan yang sangat relevan bagi zaman sekarang. Kesalehan tidak diukur dari kemampuan menghindari manusia, tetapi dari kemampuan tetap berbuat baik di tengah kompleksitas hubungan manusia.
Pada saat yang sama, teknologi modern telah melahirkan ilusi baru: ilusi bahwa manusia tidak lagi membutuhkan orang lain. Kita dapat belajar sendiri, bekerja sendiri, berbelanja sendiri, bahkan membangun citra diri sendiri melalui media sosial. Namun semakin mudah manusia hidup sendiri, semakin besar pula risiko kehilangan kemampuan bekerja bersama. Padahal peradaban besar tidak pernah lahir dari kerja individual semata. Allah mengingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Perhatikan kata جَمِيعًا (semuanya). Allah tidak hanya memerintahkan berpegang pada kebenaran, tetapi juga melakukannya secara kolektif. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial dan peradaban kolektif.
Karena itulah Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan:
لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
“Tidak sempurna kehidupan Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.”
Ungkapan ini bukan sekadar berbicara tentang struktur organisasi. Ia berbicara tentang pentingnya keteraturan dalam membangun kehidupan bersama. Sebab energi besar yang tidak terorganisasi sering kali hanya menjadi potensi yang tercecer.
Lebih jauh lagi, Allah memberikan gambaran yang sangat indah tentang kekuatan kolektif:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka bangunan yang kokoh.”(QS. Ash-Shaff: 4)
Allah tidak mengumpamakan orang beriman sebagai batu-batu yang berserakan. Allah mengumpamakannya sebagai bangunan yang kokoh. Sebab satu batu, betapa pun kuatnya, tidak akan mampu menjadi rumah. Namun ketika batu-batu itu disusun, saling menopang, dan menyatu dalam satu konstruksi, lahirlah kekuatan yang mampu melindungi banyak orang.
Mungkin di sinilah letak kesalahpahaman terbesar tentang organisasi. Organisasi bukanlah tempat mencari kesempurnaan manusia, melainkan tempat belajar menghadapi ketidaksempurnaan manusia. Hasan Al-Bashri pernah berkata:
مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلَا عَيْبٍ بَقِيَ بِلَا أَخٍ
“Siapa yang mencari saudara tanpa kekurangan, maka ia akan hidup tanpa saudara.”
Kalimat singkat ini seakan menjadi cermin bagi mereka yang terlalu mudah meninggalkan organisasi hanya karena menemukan kekurangan. Sebab organisasi yang sempurna tidak pernah ada, sebagaimana manusia yang sempurna juga tidak pernah ada.
Pada akhirnya, organisasi bukan sekadar wadah berkumpul. Ia adalah sekolah kehidupan. Di dalamnya seseorang belajar memimpin dan dipimpin, berbicara dan mendengar, mengoreksi dan dikoreksi, memberi dan menerima. Organisasi mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu tentang menjadi tokoh utama, tetapi sering kali tentang kesediaan menjadi bagian dari sebuah karya besar yang manfaatnya melampaui diri sendiri.
Karena itu, sebelum seseorang menyebut dirinya anti-organisasi, mungkin ada baiknya ia bertanya kepada dirinya sendiri: apakah yang sedang ia cari benar-benar kebebasan, atau sebenarnya ia sedang menghindari proses panjang yang diperlukan untuk bertumbuh bersama orang lain?
Sebab sejarah menunjukkan bahwa mereka yang berjalan sendiri mungkin dapat bergerak lebih cepat. Namun mereka yang berjalan bersama sering kali melangkah lebih jauh. Dan peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya sibuk memperjuangkan dirinya sendiri, tetapi oleh mereka yang bersedia menyatukan tenaga, pikiran, dan pengorbanannya demi cita-cita yang lebih besar daripada kepentingan pribadinya.
Maka anti-organisasi bukan sekadar pilihan sikap. Ia adalah pilihan cara pandang terhadap kehidupan. Dan sering kali, jalan yang tampak paling bebas justru berakhir pada kesepian, sementara jalan yang penuh dinamika, perbedaan, dan pengorbanan justru mengantarkan manusia menjadi bagian dari sejarah yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏






