Haul ke-6 Ust Hilmi Aminuddin: Habib Aboe Sebut Warisan Dakwah Harus Tetap Menjadi Penuntun Perjuangan

JAKARTA: BELA RAKYAT – Peringatan Haul ke-6 almarhum K.H. Hilmi Aminuddin, Lc., menjadi momentum refleksi bagi keluarga besar gerakan dakwah dan para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di tengah dinamika politik nasional yang terus berubah, sosok Ust Hilmi dinilai tetap menjadi rujukan moral, spiritual, sekaligus teladan kepemimpinan yang membangun karakter kader.

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menilai enam tahun kepergian Ust Hilmi tidak mengurangi besarnya pengaruh nilai-nilai yang telah beliau tanamkan kepada ribuan kader dakwah di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Menurut Habib Aboe, haul bukan sekadar agenda mengenang tokoh, tetapi menjadi ruang evaluasi untuk memastikan perjuangan dakwah tetap berjalan di atas fondasi keikhlasan, ukhuwah, dan pengabdian kepada umat.

Sosok Ayah bagi Para Kader Dakwah

Habib Aboe menuturkan bahwa bagi kader-kader yang tumbuh dalam lingkungan pembinaan dakwah, Ust Hilmi bukan hanya seorang guru atau murabbi.

“Enam tahun sudah waktu berjalan meninggalkan kita dalam kesunyian sejak kepulangan guru, murabbi, dan ayah tercinta kita, almarhum K.H. Hilmi Aminuddin, Lc. Menjelang haul keenam ini, rasa rindu kembali membuncah, membawa ingatan pada masa-masa awal ketika benih-benih dakwah disemaikan dengan penuh kesabaran dan keteguhan oleh beliau,” ujar Habib Aboe Bakar.

Ia menegaskan, sosok Ust Hilmi telah menjadi kompas moral bagi perjalanan dakwah di Indonesia.

“Bagi kita yang dibesarkan dalam rahim pergerakan ini, Ustadz Hilmi adalah kompas moral, ruh pergerakan, sekaligus pelindung yang selalu hadir saat badai ujian datang menerpa. Beliau mengajarkan bahwa perjuangan harus dilandasi keikhlasan dan orientasi kepada ridha Allah,” katanya.

Politik sebagai Sarana, Dakwah Tetap Tujuan

Dalam pandangan Habib Aboe, salah satu warisan terbesar Ust Hilmi adalah cara memandang politik sebagai instrumen dakwah, bukan tujuan akhir.

Ia mengatakan, pemikiran tersebut menjadi fondasi yang terus dijaga oleh kader hingga saat ini.

“Beliau selalu menanamkan keyakinan bahwa dakwah harus mewarnai seluruh ruang kebijakan publik, sedangkan politik hanyalah sarana kecil untuk mencapai ridha Allah yang jauh lebih besar. Cara pandang inilah yang harus terus kita jaga,” ungkapnya.

Baginya, prinsip tersebut menjadi pembeda antara politik yang sekadar mengejar kekuasaan dengan politik yang berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

Kepemimpinan yang Mengedepankan Kasih Sayang

Habib Aboe Bakar juga mengenang sisi personal Ust Hilmi yang begitu dekat dengan para kader.

Menurutnya, setiap kader yang datang membawa persoalan tidak pernah diperlakukan sebagai bawahan, melainkan sebagai anak sendiri.

“Ketika kita datang dengan beban dakwah yang berat, beliau tidak pernah menyambut dengan wajah yang kaku. Beliau selalu hadir dengan basyarah, senyum yang tulus, dan tatapan yang teduh. Beliau mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati seorang ayah,” tutur Habib Aboe.

Ia menambahkan bahwa pendekatan seperti itulah yang membuat ikatan emosional antara murabbi dan kader tetap terjaga hingga kini.

Menjadi Penyejuk Saat Badai Menerpa

Habib Aboe mengingat berbagai fase berat yang pernah dilalui gerakan dakwah maupun partai.

Di tengah berbagai ujian, menurutnya, Ust Hilmi selalu mampu menghadirkan ketenangan yang menguatkan seluruh kader.

“Di saat partai diguncang berbagai badai fitnah dan ujian eksternal, ketenangan beliau menjadi jangkar bagi seluruh kader. Kata-kata beliau selalu menghadirkan optimisme bahwa bahtera perjuangan tidak akan karam selama niat tetap lurus dan ikhlas,” ujarnya.

Ia menilai kepemimpinan seperti itu lahir bukan hanya dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari kedalaman spiritual yang dimiliki almarhum.

Warisan Nilai Dakwah Harus Tetap Hidup

Pada haul keenam ini, Habib Aboe mengajak seluruh kader untuk menjaga keaslian nilai-nilai dakwah yang telah diwariskan Ust Hilmi.

Habib Ahoe menjelaskan, perjuangan sesungguhnya adalah memastikan semangat keikhlasan, ukhuwah, dan pelayanan kepada umat tidak luntur oleh perubahan zaman.

“Kini sosok beliau memang telah tiada secara fisik. Namun legasi keaslian nilai dakwah yang beliau ajarkan harus tetap hidup dalam setiap helaan napas perjuangan kita. Beliau telah mencontohkan bagaimana menjadi singa di medan dakwah, tetapi tetap menjadi hamba Allah yang lembut dan penuh kasih dalam membina para kader,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tugas generasi penerus adalah menjaga api perjuangan tersebut agar terus menyala.

“Tugas kita hari ini, esok, dan seterusnya adalah memastikan api perjuangan, keikhlasan bekerja untuk umat, dan kehangatan persaudaraan yang telah beliau wariskan tidak pernah meredup di tangan kita,” katanya.

Menutup refleksinya, Habib Aboe mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk menghadiahkan doa terbaik bagi almarhum.

“Kita hantarkan doa-doa terbaik di malam-malam sepi, berharap Allah SWT melapangkan kubur beliau, mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal perjuangannya, serta mempertemukan kita kembali dalam reuni akbar di jannah-Nya kelak,” pungkas Habib Aboe.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *