Gejala Pemberontakan Kaum Muda dan Supremasi Golongan Oligarki

Agustus 2025, ditandai dengan kerusuhan yang menyebar secara nasional yang disulut kemarahan solidaritas akibat tewas terlindasnya Afan, seorang penarik Ojok Online (Ojol), oleh kenderaan Brimob, merupakan tanda yang tak terhapus bagi bangkitnya golongan atau kaum muda yang tersingkir, terkucilkan, terdiskriminasi dan terhilangdayakan oleh sistem ekonomi yang tidak demokratis dan cenderung hirarkis-eksploitatif yang dilindungi secara politik oleh sistem nasional yang beku dan korup.

Belum setahun berlalu, kini (Juni 2026) kembali kaum muda tereksploitasi ini mengalir ke jalan-jalan utama untuk menunjukkan ketidaksetujuan dan protes mereka terhadap sistem dan agenda politik dan ekonomi yang tengah berjalan yang sama sekali tidak menjawab problem krusial kaum muda ini, seperti MBG yang paling tersorot dan lain-lain.

Lewat kaum mahasiswa, sebagai bagian representasi kaum ini, mereka menyuarakan aspirasi yang terpendam itu, walaupun yang berkuasa mencoba mengabaikan dan bahkan mendiskreditkan, dan memang selalu saja mereka yang berkuasa berlakon semacam itu akibat kegagalan mereka mendeteksi detak jantung keresahan kaum yang tersingkir, terkucil, terdiskriminasi dan terhilangdayakan. Maklum, hal itu juga wajar akibat objektif melebarnya jarak kepentingan dan perhatian.

Terkucilkan, tersingkirkan dan terdiskriminasi secara akses ekonomi dan politik pada kalangan muda dari kelompok kelas menengah bawah dan kelas bawah, itulah masalah utama dan yang sebenarnya, di tengah sebagian kecil mereka yang menguasai akses ekonomi dan politik makin berjarak secara sosial dan makin gandrung berlakon hidup mewah dan selalu tak tersentuh hukum. Tentu saja hal ini menimbulkan konsekwensi kecemburuan sosial yang tebal.

Saya lihat, belum ada upaya kebijaksanaan dari pihak pemerintah untuk menjawab dan menyajikan solusi sistematis dan komprehensif terhadap kerentanan kalangan muda kelas menengah bawah dan kelas bawah ini dan adanya kesenjangan jarak dengan kelas atas. Masalahnya, kalangan muda dari kedua kelas ini, selain jumlahnya signifikan, juga terlanjur sudah banyak mengalami edukasi di Perguruan Tinggi yang mengakibatkannya lebih mengetahui banyak informasi keadaan yang sedang berkembang dan mampu berpikir rasional.

Kaum muda dari kedua kelas ini, menanggung masalah sempitnya peluang untuk sejahtera dan minimnya harapan yang lebih sejahtera bagi masa depan hidup mereka di dalam kondisi politik yang tengah berjalan. Itulah persepsi mereka.

Ketersebaran perguruan tinggi yang begitu banyak di berbagai daerah, memungkinkan kalangan muda well informed ini, mengalami hal yang sama: tahu masalah nasional dan dampaknya pada nasib mereka, namun menghadapi tembok besi sistem.

Hal ini tentu menciptakan kontradiksi yang akan menimbulkan tantangan bagi kekuasaan yang mencoba mengonsntrasikan sumberdaya ekonomi dan otoritas politik yang direpresentasikan kaumoligarki. Alhasil generasi muda yang terperguruantinggikan ini, hanya soal waktu akan segera menemukan faktor-faktor determinan dan objektif yang mengakibatkan posisi mereka tersingkirkan, terkucilkan, terdiskriminasikan dan terhilangdayakan (lose power). Faktor-faktor itu adalah bukan karena kompetensi mereka dan kekurangsiapan mereka, tapi lebih pada konsentrasi kekuasaan ekonomi dan politik pada segelintir orang-orang kaya oligarkh yang hidup secara ekslusif dan berjarak jauh dengan mereka.

Jika golongan muda yang tersingkir ini mulai timbul rasa kesadaran nasibnya itu, lalu berkembng menjadi dorongan untuk menuntut hak wajar mereka, ditambah dengan berseminya solidaritas dan perasaan nasib yang sama antar sesama mereka, sembari miningkatnya aktivisme dan pergerakan politik dari kalangan ini, di titik itu: Indonesia niscaya akan mengalami pergolakan, ketegangan hingga perbenturan horizontal dan vertikal yang tak terelakkan. Tanda-tanda tanya bukankah sudah dirasai?

Tak terbayangkan, jika arus internal domestik Indonesia ini bergolak penuh, bertemu momentum dengan arus sisi eksternal akibat kerentanan geopolitik dan rivalitas antar kekuatan global yang sedang membara, maka konsekwensinya tentu jauh lebih celaka ketimbang revolusi kapitalis 1966 dan reformasi 1998.

Menurut hemat saya, golongan muda yang tersingkirkan, terdiskriminasi, terkucilkan sekaligus terhilangdayakan ini, sudah waktunya mengorganisir partai politik alternatif yang memungkinkah mereka dapat mengorganisir diri secara politik dan berkelanjutan.

Sebab sebenarnya eksistensi dan kedudukan mereka yang rentan dan tidak menguntungkan ini, bukanlah kehendak mereka, tapi lebih akibat konsekwensi historis, dimana dinamika dan persaingan antar oligarki yang mengontrol sistem ekonomi dan politik Indonesia, telah melahirkan kelompok tersingkir dan terdiskualifikasi, yang sialnya jumlahnya signifikan. Mereka yang tersingkir ini, selama sistemnya tidak dikoreksi dan tidak diproyeksikan guna menolong kaum tersingkir ini, selamanya column ini akan terus diisi silih berganti dari generasi ke generasi. Untuk itulah penting mereka menolong diri dan nasibnya sendiri dengan memanfaatkan potensi kekuatan politik mereka.

Menunggu kemurahan hati rezim, misalnya mengalihkan gelontoran ratusan triliuan rupiah proyek MBG dan Kopdes, kepada proyek solusi sistematis dan komprehensif untuk kesejateraan kaum muda yang resah dan marah dari kelas menengah bawah dan kelas bawah ini, agaknya tidak masuk akal. Lebih baik mereka menolong diri dan kelas sosialnya sendiri dan membangunnya sebagai kekuatan alternatif.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku Penuntun Jalan Kaum Miskin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *