Ketum IKA Darul Istiqamah Kembali Angkat Suara Sikapi Konflik di Pesantren Maccopa

MAROS – BELA RAKYAT – Ketua Umum Ikatan Keluarga Dan Alumni Darul Istiqamah (HIKADI), Prof. Dr. H. Munawir Kamaluddin, M.A., M.H., angkat bicara menyikapi konflik yang berkepanjangan di lingkungan Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, Maros. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara jernih dan proporsional, bukan semata-mata dari siapa yang dianggap benar atau salah, tetapi dari pola perilaku yang menyebabkan konflik terus berlangsung dan sulit menemukan jalan keluar.

Munawir menilai, konflik pada dasarnya merupakan sesuatu yang dapat terjadi dalam setiap komunitas. Perbedaan kepentingan, pandangan, interpretasi, maupun cara mengelola lembaga adalah hal yang wajar. Namun, konflik menjadi destruktif ketika tidak lagi diarahkan pada penyelesaian, melainkan berubah menjadi pertarungan ego, perang narasi, dan saling serang.

Bacaan Lainnya

“Yang perlu kita khawatirkan bukan hanya adanya konflik, tetapi ketika konflik mulai dipelihara, diperpanjang, dan bahkan dijadikan ruang untuk membangun pengaruh. Pada kondisi seperti itu, konflik tidak lagi menjadi persoalan yang ingin diselesaikan, tetapi berubah menjadi sebuah siklus,” ujar Munawir.

Ia menyebut sedikitnya terdapat sejumlah pola perilaku yang dapat membuat konflik semakin sulit berakhir.

Pertama, perang narasi dan pembalikan fakta. Menurut Munawir, salah satu persoalan serius dalam konflik adalah ketika masing-masing pihak membangun narasi untuk meyakinkan publik bahwa dirinya berada pada posisi yang paling benar. Fakta kemudian dapat bercampur dengan opini, persepsi, kepentingan, dan emosi.

“Dalam situasi seperti ini, yang menang belum tentu yang paling benar, tetapi bisa saja yang paling kuat membangun persepsi. Karena itu, fakta harus dipisahkan dari opini dan klaim harus diuji dengan bukti. Jangan sampai publik justru menjadi korban dari perang narasi,” katanya.

Kedua, munculnya pola Manusia Toxic. Munawir menjelaskan bahwa istilah Manusia Toxic dalam konteks konflik dapat digunakan untuk menggambarkan pola perilaku yang cenderung mempertahankan ketegangan, sulit berdamai, menghindari dialog, menutup ruang rekonsiliasi, dan menjadikan konflik sebagai sumber perhatian atau eksistensi.

“Orang yang sungguh-sungguh ingin menyelesaikan konflik akan mencari pintu dialog. Sebaliknya, ketika dialog terus dihindari, rekonsiliasi ditutup, dan pertentangan justru dipelihara, maka konflik akan semakin sulit berakhir. Apalagi jika konflik telah menjadi panggung untuk memperoleh popularitas atau pengaruh,” jelasnya.

Menurutnya, seseorang tidak disebut toxic hanya karena pernah berbeda pendapat atau terlibat konflik. Yang perlu diperhatikan adalah pola perilakunya: apakah ia terus memperbesar konflik, menolak penyelesaian, dan menjadikan pertentangan sebagai bagian dari cara mempertahankan eksistensi.

Ketiga, Karakter Antagonis. Munawir menyebut karakter antagonis dalam konflik sebagai kecenderungan untuk berhadapan secara keras, ingin menang sendiri, dan melihat pihak lain terutama sebagai lawan yang harus dikalahkan.

“Karakter antagonis membuat kritik mudah berubah menjadi serangan, perbedaan berubah menjadi permusuhan, dan keberanian berbicara kehilangan keseimbangan dengan tanggung jawab moral. Keinginan untuk menang sendiri sering membuat seseorang tidak lagi menghitung dampak sosial, moral, bahkan psikologis dari tindakannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mempertahankan prinsip tidak identik dengan menyerang pihak lain. Prinsip dapat tetap teguh, tetapi cara memperjuangkannya harus mempertimbangkan kemaslahatan dan masa depan bersama.

“Dalam penyelesaian konflik dibutuhkan take and give: kesediaan mendengar, memberi ruang, menerima koreksi, dan mencari titik temu. Dialog bukan kekalahan, dan rekonsiliasi bukan berarti mengorbankan prinsip,” katanya.

Keempat, Playing Victim. Munawir juga menyoroti kecenderungan Playing Victim, yaitu ketika seseorang terus menempatkan dirinya sebagai korban untuk memperoleh simpati atau legitimasi, tetapi kurang bersedia melihat kontribusi dirinya sendiri terhadap muncul atau berkembangnya konflik.

“Dalam konflik, kita tidak cukup hanya bertanya: ‘Apa yang dilakukan orang lain kepada saya?’ Kita juga harus bertanya: ‘Apa yang telah saya lakukan kepada orang lain?’ Kalau pertanyaan kedua tidak pernah muncul, maka seseorang akan selalu melihat dirinya sebagai korban dan selalu menempatkan pihak lain sebagai penyebab,” tuturnya.

Menurutnya, keberanian melakukan introspeksi merupakan salah satu syarat penting untuk mengakhiri konflik. Tanpa introspeksi, setiap pihak akan terus menemukan kesalahan di luar dirinya dan semakin sulit menemukan titik temu.

Kelima, Belligerent Attitude. Ia juga mengingatkan tentang Belligerent Attitude, yakni sikap yang cenderung agresif, konfrontatif, dan gemar menyerang. Pola ini membuat seseorang sangat mudah mengkritik pihak lain, tetapi kesulitan melakukan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri.

“Belligerent Attitude membuat kritik mengalir deras ke luar, tetapi introspeksi hampir tidak pernah diarahkan ke dalam. Orang menjadi sangat tajam melihat kesalahan pihak lain, tetapi tumpul ketika harus bercermin,” ungkapnya.

Menurut Munawir, kritik tetap diperlukan karena merupakan bagian dari mekanisme perbaikan. Namun, kritik yang tidak disertai tanggung jawab, data, dan introspeksi dapat berubah menjadi instrumen untuk memperpanjang pertentangan.

“Kritik tanpa introspeksi mudah berubah menjadi kesombongan moral. Kita boleh kritis, tetapi harus siap menerima kritik. Kita boleh menuntut perbaikan dari orang lain, tetapi juga harus bersedia memperbaiki diri,” tegasnya.

Menurut Munawir, kelima pola tersebut dengan perang narasi, Manusia Toxic, Karakter Antagonis, Playing Victim, dan Belligerent Attitude, dapat saling memperkuat. Jika tidak dikendalikan, konflik akan membentuk lingkaran: serangan melahirkan serangan, narasi melahirkan kontra-narasi, korban melahirkan korban baru, dan ego terus mencari pembenaran.

Pada titik tertentu, kata Munawir, seseorang atau kelompok dapat berubah menjadi Episentrum Konflik.

“Episentrum Konflik adalah keadaan ketika seseorang atau kelompok bukan lagi sekadar berada dalam konflik, tetapi menjadi titik tempat konflik terus berkumpul, membesar, dan menyebar. Inilah yang harus kita hindari,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama penyelesaian bukan menentukan siapa yang paling hebat dalam berdebat, tetapi bagaimana menghentikan siklus konflik dan menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.

Karena itu, Munawir menawarkan perubahan orientasi: dari Episentrum Konflik menjadi Pusat Solusi.

Pusat solusi, menurutnya, bukan berarti orang yang selalu memiliki jawaban paling benar. Pusat solusi adalah mereka yang mau mendengar sebelum menyimpulkan, memeriksa fakta sebelum menyebarkan informasi, berdialog sebelum menghakimi, dan membuka ruang rekonsiliasi ketika hubungan mulai retak.

“Kalau ada masalah, mari duduk bersama. Kalau ada perbedaan, mari berdialog. Kalau ada kesalahan, mari koreksi. Kalau ada hak yang harus diselesaikan, mari selesaikan secara adil. Dan kalau ada luka, jangan terus digaruk,” ujarnya.

Munawir mengingatkan bahwa konflik di lingkungan pesantren tidak hanya berdampak kepada pihak yang sedang berselisih. Dampaknya dapat dirasakan oleh keluarga besar, alumni, santri, masyarakat, dan terutama generasi yang akan datang.

“Darul Istiqamah memiliki sejarah perjuangan dan nilai pendidikan yang jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Jangan sampai generasi berikutnya mewarisi pertikaian yang tidak mereka mulai. Yang harus diwariskan adalah ilmu, nilai, keteladanan, persaudaraan, dan semangat perjuangan,” katanya.

Ia berharap seluruh pihak memiliki keberanian untuk menurunkan ego dan membuka kembali ruang dialog serta rekonsiliasi.

“Tidak ada kehormatan yang hilang karena berdamai. Tidak ada harga diri yang runtuh karena meminta maaf. Dan tidak ada prinsip yang otomatis gugur hanya karena kita bersedia berdialog. Justru kedewasaan terlihat ketika kita mampu mempertahankan prinsip tanpa menghancurkan persaudaraan,” tutur Munawir.

Ia pun mengajak seluruh keluarga besar Darul Istiqamah Maccopa menjadikan persoalan tersebut sebagai momentum untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki cara mengelola perbedaan.

“Jangan menjadi Episentrum Konflik. Jadilah Pusat Solusi. Jangan menjadi sumber kegaduhan. Jadilah penjernih, peneduh, dan jembatan. Yang harus kita selamatkan bukan sekadar posisi masing-masing, tetapi persaudaraan dan masa depan Darul Istiqamah,” pungkas Munawir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *