Disusun oleh Kelompok 10:
– Nouvea Putri Kinanti (1714425027)
– Sarah Azzahrah Harahap (1714425033)
– Siti Nurfadilah (1714425001)
Dosen Pengampu: Erfi Firmansyah
PROGRAM STUDI PEMASARAN DIGITAL
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2026
Media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan mengakses informasi. Kehadiran platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun interaksi, membentuk komunitas, dan memperkuat hubungan antara pembuat konten dengan audiensnya.
Perkembangan ini menjadikan media sosial sebagai salah satu elemen penting dalam komunikasi digital, terutama bagi generasi muda yang menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di dunia maya (Bartoloni et al., 2024; Prasetya et al., 2025).
Di industri hiburan, media sosial telah mengubah pola komunikasi antara idola dan penggemarnya. Jika dahulu penggemar hanya memperoleh informasi melalui televisi atau media cetak, kini mereka dapat berinteraksi secara langsung melalui kolom komentar, siaran langsung (live streaming), hingga berbagai konten yang dibagikan setiap hari. Interaksi yang berlangsung secara konsisten tersebut mampu menciptakan hubungan yang lebih personal dan mendorong terbentuknya fan engagement, yaitu keterlibatan emosional serta partisipasi aktif penggemar terhadap idola yang mereka dukung.
Semakin tinggi tingkat interaksi yang tercipta, semakin besar pula peluang terbentuknya loyalitas dan komunitas penggemar yang kuat (Buckley, Ashman, & Haenlein, 2025; Kim, 2024).
Fenomena tersebut juga terlihat pada boy group CORTIS yang aktif memanfaatkan media sosial sebagai media komunikasi dengan para penggemarnya. Beragam konten, mulai dari aktivitas sehari-hari, video di balik layar (behind the scenes), hingga sesi live streaming, tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang interaksi yang membuat penggemar merasa lebih dekat dengan para anggota.
Respons berupa komentar, tanda suka, pembagian ulang konten, hingga partisipasi dalam berbagai aktivitas digital menunjukkan bahwa media sosial berperan lebih dari sekadar alat promosi. Media sosial telah menjadi jembatan yang memperkuat hubungan emosional antara idola dan penggemarnya.
Peran media sosial dalam membangun fan engagement juga menarik untuk dikaji pada kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Pemasaran Digital Universitas Negeri Jakarta angkatan 2025. Sebagai generasi yang akrab dengan teknologi digital, mereka tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga aktif menciptakan, menyebarkan, dan berinteraksi dengan berbagai konten di media sosial.
Karakteristik tersebut menjadikan mereka kelompok yang relevan untuk melihat bagaimana media sosial mampu mempengaruhi keterlibatan penggemar terhadap sebuah grup hiburan (Tewu et al., 2025).
Melalui pembahasan ini, penulis ingin menunjukkan bahwa keberhasilan membangun fan engagement tidak hanya bergantung pada popularitas seorang idola, tetapi juga pada bagaimana media sosial dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi yang interaktif, autentik, dan berkelanjutan.
Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya strategi komunikasi digital dalam membangun hubungan jangka panjang antara idola dan penggemarnya di era media sosial.
Media sosial kini telah menjadi pintu utama bagi masyarakat untuk mengenal berbagai grup musik, termasuk Boy Group CORTIS. Kehadiran platform seperti TikTok, Instagram, X, dan YouTube membuat informasi mengenai idola lebih mudah ditemukan tanpa harus dicari secara khusus. Berkat sistem algoritma yang mampu menampilkan konten sesuai minat pengguna, berbagai unggahan tentang CORTIS dapat muncul di beranda dan menjangkau calon penggemar secara lebih luas. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga telah berkembang sebagai media promosi yang efektif dalam memperkenalkan grup kepada khalayak yang lebih luas (Fitriani, 2017).
Meskipun demikian, kemudahan mengenal sebuah grup tidak serta-merta membuat seseorang menjadi penggemar. Ketertarikan terhadap CORTIS muncul melalui perpaduan antara konten yang menarik dan kualitas yang dimiliki grup itu sendiri. Berbagai unggahan, seperti penampilan di atas panggung, aktivitas di balik layar, hingga keseharian para anggota, memberikan kesempatan bagi audiens untuk melihat sisi lain yang tidak selalu terlihat dalam penampilan resmi. Konten-konten tersebut mampu membangun rasa penasaran sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih personal sehingga mendorong audiens untuk terus mengikuti perkembangan grup.
Di sisi lain, kualitas lagu, kemampuan para anggota, konsep yang diusung, dan preferensi musik masing-masing individu tetap menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang akan bertahan sebagai penggemar atau tidak. Artinya, media sosial berperan sebagai pintu masuk, sedangkan kualitas karya menjadi alasan utama seseorang untuk tetap memberikan perhatian.
Peran media sosial tidak berhenti pada tahap memperkenalkan dan menarik perhatian audiens. Platform digital juga menghadirkan ruang yang memungkinkan penggemar terlibat secara aktif dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan idola mereka. Memberikan tanda suka, menulis komentar, membagikan unggahan, hingga berdiskusi dengan sesama penggemar menjadi bentuk partisipasi yang kini semakin umum dilakukan. Aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki pengaruh yang besar terhadap penyebaran informasi di media sosial.
Setiap bentuk interaksi yang dilakukan pengguna akan dibaca oleh algoritma sebagai sinyal bahwa suatu konten menarik untuk ditampilkan kepada lebih banyak orang. Semakin tinggi tingkat interaksi yang diterima sebuah unggahan, semakin besar pula peluang konten tersebut menjangkau pengguna lain. Dengan demikian, penggemar tidak hanya berperan sebagai penikmat konten, tetapi juga ikut membantu memperluas eksposur CORTIS melalui berbagai bentuk dukungan digital yang mereka lakukan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi di era media sosial tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pihak manajemen, tetapi juga dipengaruhi oleh partisipasi aktif para penggemar.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa posisi penggemar di era digital telah berkembang. Jika sebelumnya penggemar lebih banyak menerima informasi secara pasif, kini mereka menjadi bagian dari proses penyebaran informasi itu sendiri. Berbagai bentuk interaksi yang dilakukan di media sosial mencerminkan adanya fan engagement, yaitu keterlibatan aktif penggemar dalam mendukung idola melalui berbagai aktivitas digital. Keterlibatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi penggemar sebagai bentuk ekspresi dukungan, tetapi juga membantu memperkuat keberadaan idola di ruang digital melalui peningkatan jangkauan dan interaksi pada setiap konten yang dipublikasikan (Dewi dkk., 2025).
Interaksi yang berlangsung secara konsisten juga mampu membangun hubungan yang lebih dekat antara idola dan penggemarnya. Melalui unggahan harian, siaran langsung, balasan komentar, maupun berbagai konten yang memperlihatkan aktivitas di balik layar, penggemar memperoleh akses yang lebih luas untuk mengikuti kehidupan para anggota CORTIS. Akses tersebut menciptakan kesan bahwa jarak antara idola dan penggemar menjadi semakin dekat, meskipun komunikasi yang terjadi tidak selalu berlangsung secara langsung.
Kedekatan tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah pola komunikasi dalam industri hiburan. Penggemar tidak lagi hanya mengenal idola melalui karya yang ditampilkan di atas panggung, tetapi juga melalui berbagai momen keseharian yang dibagikan secara rutin. Intensitas interaksi inilah yang kemudian membentuk kedekatan emosional sehingga penggemar merasa lebih terhubung dengan idola yang mereka ikuti. Fenomena tersebut sejalan dengan konsep interaksi parasosial yang menjelaskan bahwa paparan media yang berlangsung secara terus-menerus mampu membentuk hubungan emosional antara audiens dan figur publik meskipun hubungan tersebut tidak terjadi secara langsung (Mutiara, 2024).
Hubungan yang semakin erat antara idola dan penggemar kemudian mendorong munculnya partisipasi yang lebih besar dalam mendukung berbagai aktivitas CORTIS. Setiap unggahan yang dibagikan ulang, komentar yang ditulis, maupun konten kreatif yang dibuat oleh penggemar secara tidak langsung ikut memperluas penyebaran informasi mengenai grup tersebut. Semakin aktif penggemar berinteraksi, semakin besar pula peluang CORTIS dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Kondisi ini menunjukkan bahwa popularitas sebuah grup di era digital tidak hanya ditentukan oleh kualitas karya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi yang mampu mendorong partisipasi penggemarnya. Penggemar pun tidak lagi sekadar menjadi konsumen hiburan, melainkan telah berkembang sebagai agen yang ikut memperkuat eksistensi idola di media sosial (Nabila dkk., 2025).
Pada akhirnya, rangkaian proses tersebut berkontribusi terhadap terbentuknya loyalitas penggemar. Kemudahan memperoleh informasi, konsistensi unggahan, serta interaksi yang terus terjalin membuat hubungan antara CORTIS dan penggemarnya tetap terjaga dalam jangka panjang. Namun, loyalitas tidak hanya dibangun melalui media sosial. Kualitas karya, prestasi yang diraih, serta citra positif para anggota tetap menjadi faktor penting yang membuat penggemar memilih untuk terus memberikan dukungan.
Dengan kata lain, media sosial berfungsi sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antara idola dan penggemarnya, sedangkan kualitas grup menjadi fondasi yang membuat hubungan tersebut mampu bertahan. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa loyalitas penggemar terbentuk melalui kombinasi antara komunikasi digital yang konsisten, kualitas karya, serta citra positif yang dimiliki oleh idola (Maheswari dkk., 2024; Wendyanto & Utami, 2022).
Media sosial telah menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara Boy Group CORTIS dan para penggemarnya. Kehadiran berbagai platform digital tidak hanya memudahkan penyebaran informasi, tetapi juga membuka ruang interaksi yang membuat penggemar merasa lebih dekat dengan idola.
Berbagai bentuk partisipasi, seperti memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan konten, hingga mengikuti live streaming, menunjukkan bahwa penggemar kini tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi juga berperan dalam memperluas jangkauan dan popularitas grup. Meski demikian, loyalitas penggemar tetap tidak hanya bergantung pada aktivitas di media sosial, melainkan juga pada kualitas karya, kemampuan para anggota, dan citra positif yang terus dijaga (Maheswari dkk., 2024; Wendyanto & Utami, 2022). Oleh karena itu, media sosial perlu dimanfaatkan secara konsisten sebagai ruang komunikasi yang interaktif dan autentik, disertai upaya menjaga kualitas karya agar hubungan antara idola dan penggemar dapat terus tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang.






