Ayah Para Kader Dakwah: Haul ke-6 alm Ust Hilmi Aminudin

Enam tahun sudah waktu berjalan meninggalkan kita dalam kesunyian sejak kepulangan guru, murabbi, dan ayah tercinta kita, almarhum K.H. Hilmi Aminuddin, Lc. Waktu boleh saja terus melaju, zaman boleh saja berubah dengan segala riak dinamika politiknya.

Menjelang haul keenam ini, rasa rindu itu kembali membuncah, membawa ingatan kita pada masa-masa awal saat benih-benih dakwah ini disemaikan di bumi pertiwi melalui keteguhan tangan dingin beliau.

Bagi kita insan yang membesarkan diri dan dibesarkan di rahim pergerakan ini, Ustadz Hilmi adalah kompas moral, ruh pergerakan, sekaligus pelindung yang selalu hadir di saat badai ujian datang menerpa.

Sebagai kader yang rindu akan keteduhan nasihat-nasihatnya, haul keenam ini menjadi momentum bagi kita untuk merefleksikan kembali warisan terbesar yang beliau tinggalkan, yaitu sebuah keteladanan sebagai seorang arsitek penggerak dakwah yang visioner, sekaligus potret seorang orang tua yang penuh cinta bagi anak-anak ideologisnya.

Beliau selalu menanamkan keyakinan di dada kita bahwa dakwah harus mewarnai seluruh ruang kebijakan publik, dan politik hanyalah sarana kecil untuk mencapai rida Allah yang besar.

Namun, kehebatan Ustaz Hilmi tidak hanya pada ketajaman strateginya di atas panggung pergerakan. Sisi lain yang paling membekas di relung hati para kader adalah jiwanya yang penuh keayahan. Ketika kita melangkah masuk ke kediaman beliau dengan beban pundak yang berat akibat dinamika dakwah yang pelik, kita tidak pernah disambut oleh seorang teoretikus yang kaku.

Ustadz Hilmi selalu menyambut kita dengan basyarah, wajah yang senantiasa berseri-seri, senyum khas yang tulus, dan tatapan mata yang sangat teduh. Beliau adalah seorang pendengar yang luar biasa. Di hadapan beliau, keluh kesah kita luruh karena beliau mendengarkan bukan hanya dengan telinga, melainkan dengan hati seorang ayah kandung.

Di saat-saat paling kritis ketika partai ini diguncang badai fitnah dan ujian eksternal yang hebat, ketenangan keayahan beliaulah yang menjadi jangkar penguat. Kata-katanya yang tenang laksana air di padang gersang, meyakinkan kita semua bahwa bahtera ini tidak akan karam selama niat kita tetap lurus dan ikhlas.

Kini, di peringatan haul yang keenam, sosoknya memang telah tiada di antara kita secara fisik, namun legasi asholah atau keaslian nilai dakwah yang beliau ajarkan harus tetap hidup dalam setiap helaan napas perjuangan kita. Beliau telah mencontohkan bagaimana menjadi singa di medan dakwah namun menjadi hamba yang lumat dalam kelembutan kasih sayang saat membina para kadernya.

Tugas kita hari ini, esok, dan seterusnya adalah memastikan bahwa api perjuangan, keikhlasan bekerja untuk umat, dan kehangatan persaudaraan yang telah beliau wariskan tidak meredup di tangan kita.

Kita hantarkan doa-doa terbaik kita di malam-malam sepi, berharap agar Allah Swt. meluangkan kubur beliau, mengampuni segala khilafnya, dan mempertemukan kita kembali dalam reuni akbar di jannah-Nya kelak.

Depok, 29 Juni 2026
Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *