Ansor DKI akan Gerakan Massa ke Balai Kota Minta Anies Baswedan Mundur

JAKARTA – Banjir yang melanda Jakarta beberapa kali beberapa bulan terakhir ini jadi bola panas yang menyerang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beserta jajarannya termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah. 

Bagi Pemprov DKI, banjir tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tapi juga terjadi di beberapa wilayah pulau Jawa. Yang jadi masalah, saat Saefullah berujar bahwa kondisi banjir tersebut dinikmati saja. 

“Jadi dinikmati saja, itu soal manajemen, tubuh kita dua per tiga persen air, sering keluar air, di kepala di mata, harus ada manajemennya,” ujar  Saefullah yang juga pria asli Betawi itu berseloroh.

Dengar tanggapan Sekda terkait bajir Jakarta itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor DKI Jakarta geram. Ketua Ansor DKI Jakarta Abdul Azis angkat suara dan meminta Pemprov DKI tidak hanya melakukan pencitraan. Menurut Abdul bahwa Pemprov DKI tak melakukan antisipasi sehingga banjir kembali terjadi.

Ansor pun berjanji akan seruduk Balai Kota untuk meminta Anies Baswedan dan Saefullah mundur. Karena keduanya tak memperlihatkan kinerja yang baik. 

“Dari banjir di Jakarta GP ANSOR DKI meminta Gubernur DKI dan Sekda fokus penanganan banjir bukan pencitraan, ” kata Abdul Azis pada Lintas Parlemen, Selasa (3/3/2020).

Abdul Azis meminta Pemprov DKI, dalam penangan pasca banjir harus lebih serius dilakukan. Mengingat Gubernur dan Sekda belum ada keseriusan menangani dan mengantisipasi banjir. 

“Daerah-daerah banjir dari hasil pantauan darr Ansor DKI belum ada yang menyentuh langsung ke masyarakat DKI,” ujarnya. 

Abdul Azis memcontohkan, banyak warga yang terjangkit penyakit pasca banjir. Kali belum Dinormalisasi. Dan anggaran untuk penanganan banjir juga tidak maksimal padahal sangat penting.

“Banjir kemarin membuktikan Pemprov DKI tidak melakukan apa-apa dalam mengantispasi banjir,” tegasnya.

Untuk itu, Ansor memimta Pemprov DKI mampu menyiapkan sarana dan prasarana pasca banjir.

Abdul Azis juga berjanji,  akan melakukan seruduk ke Balai Kota bersama-sama semua Cabang Ansor se-DKI untuk meminta mundur Gubernur dan Sekda.

“Kami akan demo untuk meminta mundur Gubernur dan Sekda,” pungkasnya. (Jodira) 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

29 Komentar

  1. Sejak kapan GP Ansor jadi budak politik, kok hanya gegara banjir yg bukan kemauan manusia, Ansor ikut2 mau nurunin Gubernur, apakah kalau Gubernur Anies udah lemgser tak akan ada lagi banjir di Jakarta…? hehe…. jangan mimpi di siang bolong, ya…!

    Betapa hebatnya Jokowi dan Ahok menurut kelompok anda, tetapi banjir juga tetap ada dan banyak korban.

    Bedanya pemerintahan Jokowi/Ahok dengan Anies hanya masalah tatakrama, kemanusiaan dan sopan santun, Jokowi Gubernur bagus kerja2 sampai turun God diikuti Camera ( penciteaan ) terhadap Mitra kerja semacam DPRD cuwek, Ahok Gubernur paling ribut, penggusuran Warga secara massif hingga tak sedikit mengucurkan air mata, korupsinya banyak, Anggota DPRD dianggapnya sebagai musuh dan tukang korup padahal Maling teriak maling.

    Tiba giliran Anies, bagi pendukung Jokowi dan Ahok, Anies dianggao tak bekerja bahkan dianggap merusak Jakarta yg telah dibangun Ahok, tetapi anehnya masyarakat DKI nampaknya udah tenang dan tak ada lagi yg menangis bahkan terasa nikmat karena adanya saling menghargai, DPRD dianggapnya sebagai Mitra kerja membangung Jakarta dan kata2 ” maling lu Tai lu ” udah nggak pernah lagi kedengaran.

    Meski Anies dipuji oleh masyarakat DKI di atas 65 % namun tetap saja masih ada yg belum sembuh dari sakit hati karena junjungannya kalah dan masuk Bui setelah ludahnya keseleo menista Agama.

  2. Sejak kapan GP Ansor jadi budak politik, kok hanya gegara banjir yg bukan kemauan manusia, Ansor ikut2 mau nurunin Gubernur, apakah kalau Gubernur Anies udah lemgser tak akan ada lagi banjir di Jakarta…? hehe…. jangan mimpi di siang bolong, ya…!

    Betapa hebatnya Jokowi dan Ahok menurut kelompok anda, tetapi banjir juga tetap ada dan banyak korban.

    Bedanya pemerintahan Jokowi/Ahok dengan Anies hanya masalah tatakrama, kemanusiaan dan sopan santun, Jokowi Gubernur bagus kerja2 sampai turun God diikuti Camera ( penciteaan ) terhadap Mitra kerja semacam DPRD cuwek, Ahok Gubernur paling ribut, penggusuran Warga secara massif hingga tak sedikit mengucurkan air mata, korupsinya banyak, Anggota DPRD dianggapnya sebagai musuh dan tukang korup padahal Maling teriak maling.

    Tiba giliran Anies, bagi pendukung Jokowi dan Ahok, Anies dianggap tak bekerja bahkan dianggap merusak Jakarta yg telah dibangun Ahok, tetapi anehnya masyarakat DKI nampaknya udah tenang dan tak ada lagi yg menangis bahkan terasa nikmat karena adanya saling menghargai, DPRD dianggapnya sebagai Mitra kerja membangung Jakarta dan kata2 ” maling lu Tai lu ” udah nggak pernah lagi kedengaran.

    Meski Anies dipuji oleh masyarakat DKI di atas 65 % namun tetap saja masih ada yg belum sembuh dari sakit hati karena junjungannya kalah dan masuk Bui setelah lidahnya keseleo menista Agama.

  3. Demo anda nggak akan menyelesaikan masalah,malah kalian nambah masalah,rakyat pemilih Anies dan mendukung Anies tidak tinggal diam,sebaiknya Ansor bisa meniru FPI membantu pemerintah Tampa disuruh

  4. ulah pemprov DKI Jakarta terkesan sengaja membiarkan banjir berjilid-jilid terjadi di wilayahnya, itu sebagai upaya balas dendam kepada pemerintah pusat(Jokowi).itu terlihat dari pemotongan anggaran banjir dua tahun berturut-turut dan menolak program penanggulangan banjir dari gubernur sebelumnya serta tdk terlihat adanya upaya mengatasi banjir yg akan terjadi dikala musim penghujan tiba.
    pernyataan sekda DKI yg mengatakan; banjir yg terjadi merupakan manajemen air, dan dinikmati saja. pernyataan tsb membuat kepedihan dihati masyarakat yg telah terkena musibah banjir dan mengakibatkan korban jiwa serta kerugian materi yg ditaksir mencapai trilyunan rupiah. kami menyesali kenapa ada pejabat publik seperti itu, yg tidak mempunyai hati nurani, iblis berwujud manusia.
    kiranya Allah yg akan memberikan azab kpd orang2 yg telah menzolimi umatnnya.

  5. INI ANSYOR DKI SDH TERPENGARUH DG CEBONG DAN AHOKER. KLO ANDA DEMO PA 212 JUGA AKAN MENGAWAL ANIES.I EMANG KAU BELUM DAPAT NASI BUNGKUS TIAP HARI DARI AHOK DAN KONGLOCIN?

  6. Awesome…ini baru Ansor …!
    Walaupun agak terlambat, tapi ini adalah suatu keputusan yg bijaksana.
    Ha ha ha Lanjutkan.🇮🇩👍👍👍

  7. INILAH KELICIKKAN KAUM PEMBENCI ANIES

    Anies Baswedan Tidak Boleh
    dan Jangan Sampai Jadi Presiden
    —————————————————————–
    Apapun dan bagaimanapun caranya, berapapun biayanya, Anies Baswedan tidak boleh dan jangan sampai jadi Presiden.
    Alasannya cukup banyak. Mulai dari idiologis, politis dan tentu saja yang paling penting dari aspek bisnis.

    Agenda terselubung itu sebenarnya sudah banyak yang tahu. Ada juga yang sekedar menduga-duga. Namun dugaan-dugaan itu mendapat pembenaran setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) buka kartu.

    Mereka mengajak parpol dan masyarakat untuk menjegal —begitu media menyebutnya— Anies Baswedan. Jangan sampai pada Tahun 2024 jadi presiden!

    Anies gagal menjadi Presiden Indonesia adalah harga mati. Tak ada tawar menawar.

    “Saya ingin mengajak teman-teman partai, maupun masyarakat yang masih pro dengan nasionalisme kita, saya kira harus ada barisan nasional yang secara serius mengadang figur yang terfokus isu populisme ini,” kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni dalam jumpa pers Indo Barometer di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu (23/2).

    Clear sudah, terang benderang mengapa selama ini beberapa parpol, khususnya PSI, PDIP dan buzzer pendukung pemerintah habis-habisan mem-bully Anies. Ini urusannya berkaitan dengan Pilpres 2024.

    Tidak ada urusannya dengan kinerja, prestasi dan berbagai penghargaan internasional yang sudah diraih Anies.

    Mau Anies kerja benar seperti apapun. Mau Anies mendapat penghargaan dari dunia, termasuk penghargaan dari akhirat sekalipun, tidak ada urusannya.

    Mereka akan terus mem-bully. Hajar habissss……..

    Mau ada skandal Jiwasraya, penggelapan dana Asabri triliunan rupiah, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, utang BUMN dan utang negara membengkak, mereka akan tutup mata. Abaikan. Alihkan isunya.

    Fokus cari kesalahan Anies! Kecilkan keberhasilan Anies memimpin Jakarta. Hilangkan beritanya dari media agar masyarakat tidak mengetahuinya.

    Kalau ada kesalahan Anies, besar-besarkan kesalahannya. Ramaikan di media sosial dan media konvensional. Kerahkan buzzer habis-habisan. Pastikan infonya menyebar di masyarakat.

    Bila tidak bisa ditemukan kesalahannya, cari terus sampai ketemu. Kalau tidak juga ketemu, bikin kesalahannya.

    “Tugas utama” semacam itu lah yang menjelaskan mengapa tiada hari tanpa bully atas Anies.

    Mereka mendapat momentum dengan datangnya musim hujan tahun ini. Kebetulan pula curah hujannya sangat ekstrem.

    Pasukan pembully ini tutup mata bahwa berdasarkan data BMKG curah hujan tahun ini paling ekstrem dalam 150 tahun terakhir.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan ekstrem dengan intensitas lebih dari 150 mm/hari dengan durasi panjang dari Selasa (31/12/2019) sore hingga Rabu (1/1/2020) yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta menyebabkan banjir besar.

    Curah hujan tertinggi tercatat di Bandara Halim Perdana Kusuma yaitu 377 mm/hari, di TMII: 335 mm/hari, Kembangan: 265 mm/hari; Pulo Gadung: 260 mm/hari, Jatiasih: 260 mm/hari, Cikeas: 246 mm/hari, dan di Tomang: 226 mm/hari.

    Data-data itu buat mereka tidak penting. Fokus pada fakta bahwa Jakarta terendam banjir. Abaikan data dan fakta lainnya.

    Abaikan juga fakta bahwa daerah lain di Jawa, termasuk di Bekasi yang notabene berada di Provinsi Jawa Barat juga banjir gila-gilaan.

    Tugas utama mereka adalah mengabarkan kepada publik sak-Indonesia bahwa Jakarta kebanjiran terus selama Anies jadi gubernur. Anggota Fraksi PSI dan PDIP di DPRD DKI beramai-ramai menyanyikan koor “Anies tidak becus memimpin Jakarta.”

    Tak perlu kaget bila di sejumlah media muncul judul berita “Jakarta Dikepung Banjir.” Foto-foto lama banjir Jakarta juga bermunculan kembali.

    Buat survei yang menyebutkan elektabilitas Anies tiba-tiba melorot karena gagal menangani banjir!

    Tak punya calon

    Mengapa mereka begitu khawatir Anies akan menjadi presiden? Padahal perhelatan Pilpres 2024 masih cukup lama.

    Alasannya cukup jelas. Sampai sejauh ini mereka belum punya calon yang cukup kuat untuk menandingi popularitas dan elektabilitas Anies.

    Tak perlu kaget kalau sekarang Prabowo didorong-dorong menjadi lawan Anies. Muncul survei bahwa keduanya merupakan kandidat paling kuat dan akan bersaing pada Pilpres 2024. Mereka coba diadu domba.

    Jadi ngeh kan sekarang mengapa beberapa waktu lalu muncul wacana agar Jokowi bisa menjabat sampai tiga periode.

    Anies adalah ancaman yang membahayakan estabilisme penguasa dan para pendukungnya. Apalagi sebagai Gubernur DKI Anies sangat berprestasi.

    Gagasannya memperbaiki kota Jakarta sangat inovatif. Sesuai dengan motto kampanyenya bersama Sandiaga Uno : Maju Kotanya, Bahagia Warganya!

    Dalam waktu dua tahun terakhir DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies telah meraih 40 penghargaan, termasuk beberapa penghargaan internasional dan dunia.

    Sebagai Gubernur pada tahun 2019 Anies terpilih sebagai gubernur terbaik versi Majalah Warta Ekonomi dan Rakyat Merdeka.

    Andai saja Anies tidak berprestasi, atau setidaknya prestasinya biasa-biasa saja, dijamin dia tidak akan ada yang mengusik. Toh tidak akan ada orang yang akan meliriknya. Aman.

    Setidaknya ada tiga alasan besar mengapa mereka bekerja keras memastikan Anies jangan sampai jadi presiden.

    1. Alasan idiologis.

    Alasan ini merupakan residu dari Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019. Anies diposisikan sebagai figur yang dekat dengan kalangan Islam.

    Kelompok Islam lah yang menjadi biang gagalnya Ahok menjadi Gubernur DKI. Kelompok Islam perkotaan lah yang menjadi lawan berat Jokowi pada pilpres lalu.

    Karenanya Islam dalam beberapa tahun terakhir sangat terkesan dimusuhi dan muncul berbagai stigma radikal. Kegaduhan yang diciptakan oleh ucapan Menag, dan pernyataan-pernyataan kepala BPIP menjadi indikator yang sangat jelas.

    “Pemerintah saat ini mengalami Islamophobia,” kata Putri Proklamator Rachmawati Soekarnoputri.

    2. Alasan politis.

    Anies saat ini diposisikan berada dalam kubu berseberangan dengan pemerintah. Posisinya pada Pilpres 2019 lalu mempertegas hal itu.

    Bagi PSI selain musuh idiologis, Anies juga musuh politis. Sementara bagi PDIP kehadiran Anies bisa memupuskan ambisi mereka untuk terus menguasai Indonesia, pasca Jokowi.

    3. Alasan ekonomis.

    Anies adalah musuh berbahaya bagi kelompok oligarki yang dikendalikan oleh kelompok bisnis, khususnya taipan. Dia adalah musuh bebuyutan —meminjam istilah Ketua MPR Bambang Soesatyo—para cukong politik.

    Tindakannya menghentikan proses reklamasi di Pantai Utara Jakarta sangat merugikan para taipan. Ribuan triliun keuntungan di depan mata, untuk sementara terpaksa mengendap di dasar lautan.

    Perbedaan dalam soal reklamasi inilah menurut pengakuan Ahok kepada Tempo menjadi salah satu penyebab pecahnya kongsi dengan PSI. Padahal PSI semula didirikan untuk menjadi kendaraan politik Ahok.

    Baru menjadi Gubernur DKI saja sudah sangat merugikan para taipan. Apalagi kalau sampai terpilih menjadi Gubernur Indonesia!

    Sampai disini paham khan?

    26/02/2020

    (Oleh Hersubeno Arief)

  8. Peran anda sebagai ketua Ansor apa?. Apakah anda sudah merasa banyak membantu saat musibah banjir sehingga anda berani akan mengerahkan anggotanya. Gubernur sekarang jauh lebih santun dari gubernur sebelumnya yang suka marah². Jangan namanya musibah lalu menyalahkan seseorang.

  9. Dari zama Jokowi jd gubernur sampai sekarang Anies .baru kali ini ANSOR demo ke balaikota perihal banjir..di bayar berapa MAS aziz,

    Jakarta dari zaman kompeni udah kebanjiran,
    Jawabarat,Jawa tengah dan Jawa timur kebanjiran lu lu orang pada diem saja

  10. yang bener aja , kok suka amat usil, beri solosinya dong, dari gubernur ” sebelumnya juga banjir, gak ribut, mengapa ke goodbener selalu ribut mencari cari kesalahannya.

  11. Lebih cepat lebih baik untuk mundur, agar warga DKI tidak berlarut larut dilanda banjir… anies lebih baik kembali kekampus beretorika n bertata kata…

  12. Ansor. Lucu aja, sekarang sudah tidak murni lagi untuk kemaslahatan ummat. Tapi lebih ke tunggangan politik dan di manfaatkan kelompok tertentu. Kok mereka mau ya mengorbankan agama demi uang.

  13. Hey Bung yang banjir bukan cuma jakarta kenapa gak protes juga kedaerah lain, mestinya minta janji sama junjunanmu mantan guberbur yang dulu janji kalau dia jdi persiden lebih mudah atasi banjir,
    Cuma karena disogok uang recehan otak lu jadi error

  14. Memang sudah seharuanya Anis Baswedan Mundur, karena tidak tau apa yg dikerjakan dan banyak menghambur-hamburkan uang yg tidak jelas.
    Malau dia benar ngak mungkin di berhentikan dari menteri oleh Jokowi.
    Dia menang DKI karena tidak ada pilihan lain, itu waktu kalau Ahok diadu sama sendal jepit pun pasti sendal jepit nya menamg. Ganti lebih baik dan usut setiap oengeluaran yg dia buat.