Abdullah Hehamahua, Simbol Etik Umat yang Masih Hidup dan Belum Redup

Harus kita akui, di zaman serba motif cuan, komersial dan mengejar keuntungan pribadi ini, orang-orang yang kukuh dengan komitmen etik, menjadi figur langka dan antik. Kelangkaan ini bukan saja karena sulitnya menjalani tantangan hidup secara etis itu, tapi hilangnya minat orang banyak untuk menempuh jalan hidup semacam itu. Mengapa orang banyak kehilangan minat untuk menempuh jalan hidup etik?

Dan kenapa jalan hidup etik, zuhud dan saleh, tidak populer bagi khalayak? Padahal bukankah agama mereka nyatanya mendorong dan mengajak untuk hidup semacam itu? Bukankah Nabi Muhammad Saw sendiri, seorang teladan yang etik, saleh, zuhud dan bersahaja. Di sinilah kontradiksi keberagamaan itu terjadi di level publik.

Bacaan Lainnya

Model hidup yang dijalani oleh Abdullah Hehamahua bukanlah model hidup yang asing. Model itu merupakan konsekwensi yang jujur dari pantulan ketaatan terhadap tuntutan agama, dalam hal ini Islam. Jadi yang asing sebenarnya, gaya hidup komersil, glamour, dan menyukai gaya hidup mewah, bila dilihat dari sudut agama. Tapi malah yang bersabar menggigit gaya hidup bersahaja, zuhud, etik dan saleh di zaman ini kebalik dipandang antik dan asing.

Namun kenyataan ini dapat dimengerti. Karena memang praktik beragama lebih tebal lip service dan hipokrisi saja. Otoritas penentu ukuran dan kriteria kepantasan beragama telah diserobot mereka yang lebih meletakkan agama sekedar warisan budaya dan komoditas politik saja. Dan di dalam suasana dan realitas jungkir balik inilah kehadiran dan eksistensi figur-figur etik seperti Abdullah Hehamahua dipandang ngilu dan tidak populer bagi publik.

Orang banyak lebih mengelu-elukan dan mengidolakan orang-orang kaya dan berpengaruh dengan polesan rapuh kesalehan yang banal dan semu. Apakah kita harus menyalahkan khalayak? Tidak perlu. Mereka hanya mengikuti gelombang yang lebih kuat saja. Sandaran dan tongkat penuntun mereka hanya tentang apa yang tampak nyata dan dirasa logis, enak dan cocok bagi jangkauan kesadaran sensasi mereka, walau sebenarnya semu dan ilusif.

Kita memang sudah lama tidak berada di era guru-guru ummat seperti Mohammad Natsir. Kita berada di era setiap orang berlomba tenar merebut panggung berorientasi viral untuk monetisasi dengan bumbu-bumbu bombastis dan citra palsu. Tapi bagaimana lagi, yang memakan umpan palsu itu, ternyata juga orang kebanyakan yang sehari-hari berjuang bertahan dalam kehidupan serba palsu. Maka agama pun hadir penuh dengan kepalsuan. Kepakaran palsu, kesalehan palsu, kedermawanan palsu hingga kepahlawanan palsu.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *