JAKARTA – BELA RAKYAT – Memasuki usia 40 tahun, M. Arief Rosyid Hasan membuktikan kematangannya bukan hanya dengan perayaan, melainkan dengan karya dan gagasan besar untuk masa depan politik Indonesia.
Momentum tersebut ditandai melalui acara tasyakuran, peluncuran buku, dan diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam” di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 4 September 2026. Acara ini menjadi refleksi lebih dari dua dekade kiprahnya yang konsisten di jalur aktivisme, kepemudaan, dan politik.
Hadir sebagai pembicara cendekiawan Muslim Fachry Ali dan Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari, yang turut memberikan apresiasi atas konsistensi pemikiran Arief.
Bagi Arief, usia 40 adalah titik tolak untuk pengabdian yang lebih luas. Sosok yang mengawali karier dari tradisi intelektual Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum PB HMI 2013-2015 ini dikenal sebagai tokoh yang sangat menaruh perhatian pada pentingnya proses kaderisasi.
“Alhamdulillah, memasuki usia 40 tahun ini saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Perubahan tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan proses, pengalaman, kompetisi, dan yang paling penting, kaderisasi yang terus-menerus,” ujar Arief yang kini menjabat Sekretaris Akademi Partai Golkar dan Sekretaris Jenderal DPP AMPI.
Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh hanya diberi panggung seremonial. Mereka harus ditempa melalui kompetisi dan pengalaman langsung.
“Saya percaya demokrasi adalah kompetisi, dan kompetisi membutuhkan jam terbang. Orang muda harus memperoleh kesempatan untuk belajar, berproses, bertanding, menang, kalah, lalu kembali bertanding,” katanya.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan visionernya, yakni Rute Baru Politik Islam. Arief mengajak seluruh kader dan generasi muda untuk menggeser orientasi politik Islam dari sekadar perdebatan identitas, menuju politik yang lebih substantif: politik gagasan, karya, keadilan, dan kemaslahatan.
Menurutnya, ini adalah langkah progresif agar politik Islam tetap relevan dengan tantangan zaman.
“Politik Islam harus hadir dengan wajah yang relevan dengan zaman. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang kita wakili, tetapi apa yang kita perjuangkan, gagasan apa yang kita tawarkan, dan seberapa besar kekuasaan yang kita miliki dapat melahirkan karya, keadilan, dan kemaslahatan,” ucapnya.
“Rute baru politik Islam bukan tentang membawa Islam semakin dekat kepada kekuasaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membawa kekuasaan semakin dekat kepada amanah, keadilan, dan kemaslahatan rakyat,” tegas Arief.
Produktivitasnya pun patut diacungi jempol. Pada momentum yang sama, Arief meluncurkan delapan buku sekaligus sebagai dokumentasi pemikiran dan perjalanan pengabdiannya selama ini.
“Saya selalu percaya aktivisme tidak cukup hanya dengan bergerak, tetapi juga harus meninggalkan gagasan,” tuturnya.
Komitmen, konsistensi kaderisasi, dan gagasan segar yang ditawarkan Arief menjadi teladan bahwa politik masih bisa dijalankan dengan idealisme, karya nyata, dan orientasi kebermanfaatan yang luas bagi umat dan bangsa.






