Migrasi Tidak Teratur di Negara Spanyol dan Dampaknya Pada Perubahan Sosial

Spanyol merupakan salah satu negara Eropa yang sering menjadi tujuan para migran yang masuk ke Eropa secara tidak teratur. Letak geografis Spanyol yang berada dekat dengan Afrika Utara membuat negara ini menjadi salah satu pintu masuk utama menuju Uni Eropa. Jalur migrasi yang paling banyak digunakan adalah melalui laut, terutama menuju Kepulauan Canary, Semenanjung Spanyol, dan Kepulauan Balearic. Selain itu, terdapat pula jalur darat menuju Ceuta dan Melilla, dua wilayah Spanyol yang berada di Afrika Utara.

Istilah imigrasi ilegal sering digunakan untuk menggambarkan masuk atau tinggalnya seseorang di suatu negara tanpa memenuhi persyaratan hukum keimigrasian. Dalam konteks Spanyol, istilah yang lebih sering digunakan oleh pemerintah adalah imigrasi tidak teratur (irregular immigration). Fenomena ini menjadi persoalan penting karena berkaitan dengan keamanan perbatasan, keselamatan manusia, penyelundupan migran, penanganan pencari suaka, serta kemampuan pemerintah menyediakan tempat tinggal dan layanan dasar bagi para pendatang.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Spanyol, pada tahun 2024 terdapat sekitar 63.970 orang yang masuk ke Spanyol secara tidak teratur. Jumlah tersebut meningkat sekitar 12,5% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 56.852 orang. Sebagian besar kedatangan terjadi melalui jalur laut, yaitu 61.323 orang, sedangkan 2.647 orang masuk melalui jalur darat. Kepulauan Canary menjadi wilayah yang paling banyak menerima kedatangan migran tidak teratur. Pada 2024, sebanyak 46.843 orang mencapai Kepulauan Canary, meningkat 17,4% dibandingkan 2023 yang berjumlah 39.910 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa jalur Atlantik menuju Kepulauan Canary menjadi salah satu jalur migrasi paling penting menuju Spanyol. Selain Kepulauan Canary, jalur menuju Semenanjung Spanyol dan Kepulauan Balearic juga digunakan oleh para migran. Pada 2024, terdapat sekitar 14.431 kedatangan melalui laut ke Semenanjung dan Balearic, lebih rendah dibandingkan 15.435 orang pada 2023. Sementara itu, kedatangan melalui jalur darat ke Ceuta dan Melilla mencapai 2.647 orang, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2023.

Perkembangan pada 2025 menunjukkan adanya perubahan pola. Data Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 36.775 migran masuk secara tidak teratur sepanjang 2025, turun sekitar 42,6% dibandingkan 2024. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya kedatangan ke Kepulauan Canary. Pada 2025, sekitar 17.788 orang tiba di Kepulauan Canary, turun sekitar 62% dibandingkan 2024.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memilih melakukan perjalanan migrasi secara tidak teratur menuju Spanyol. Fakor ekonomi, karena sebagian migran berasal dari negara yang memiliki tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi. Sehingga mereka berhadap mendapatkan pendapatan yang tinggi dan baik di Negara eropa. Selanjutnya faktor ketidak stabilan politik, hampir sebagian orang meninggalkan negara asalnya karena ada terjadinya perang, kekerasan, penganiayaan, atau ketidakamanan. Sehingga migrasi dapat menjadi pilihan untuk mencari perlindungan dan keselamatan bagi masyarakat.

Oleh karena itu, tidak semua orang yang datang secara tidak teratur dapat langsung dianggap sebagai pelaku kejahatan. Melanikan sebagian masyarakat memiliki kebutuhan untuk mengajukan perlindungan internasional atau suaka. Faktor terakhir yaitu faktor kedekatan geografis Spanyol dengan Afrika. Letak kepulauan Canary di Samudra Atlantik yang relative dekat dengan Pantai Afrika menjadikan wilayah tersebut salah satu jalur yang digunakan dalam migrasi menuju ke Negara Spanyol.

Kondisi geografis ini turut dapat menjadikan Spanyol sebagai salah satu pintu masuk migrasi ke Eropa.
Selanjutnya, imigrasi tidak teratur memberikan sejumlah tantangan bagi pemerintah Spanyol. Salah satunya adalah kebutuhan untuk menyediakan tempat penampungan, makanan, layanan kesehatan, penerjemah, dan bantuan hukum bagi para pendatang. Masuknya ribuan orang dalam waktu singkat dapat menyebabkan fasilitas penerimaan migran mengalami tekanan.

Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemerintah. Tetapi para migran juga menghadapi berbagai risiko selama perjalanan. Perjalanan menggunakan kapal kecil di laut dapat menyebabkan kecelakaan, kekurangan makanan dan air, serta kematian. Mereka juga dapat menjadi korban jaringan penyelundupan manusia yang mengambil keuntungan dari kondisi sulit para migran.

Jika kita lihat dari perspektif sosiologi, migras tidak teratur merupakan salah satu faktor yang mendorong perubahan sosial di Spanyol. Kedatangan migran dari berbagai banyak negera membawa perubahan mulai dari budaya, agama, serta pola kehidupan yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat lokal. Selain itu kehadiran migran dapat mempengaruhi kebutuhan pada bidang Pendidikan, tempat tinggal, aktivitas kerja, dan Lembaga-lembaga sosial perlu menyesuaikan diri dengan kondisis masyarakat yang semakin beraneka ragam.

Berdasarkan fenomena tersebut, menurut penulis dapat di analisis melalui teori Willian F Ogburn tentang perubahan sosial khususnya konsep cultural lag atau ketidaksimetrisan budaya. Adapun perubahan yang terjadi yaitu komposisi maupun jumlah penduduk dapat berubah lebih cepat di bandingkan kebijakan, lembaga sehingga mau tidak mau masyarakat harus dapat menyesuaikan situasi tersebut, sehingga kondisi tersebut menimbulkan berbagai problem sosial diantaranya diskriminasi, ketegangan sosial, serta kesulitan dalam proses integrasi.

Namun faktanya ternyata migrasi tidak hanya menimbulkan negatif saja tetapi ada hal positif di antaranya mendorong masyarakat menjadi lebih terbuka pada keberagaman dan menciptakan bentuk interaksi sosial yang baru. Sehingg migrasi tidak teratur bukan hanya persoalan perbatasan melainkan dapat mempengaruhi dinamika dan perubahan kehidupan sosial yang ada di Spanyol. Akan tetapi di sisi lain, Spanyol juga perlu menjaga keseimbangan antara pengawasan perbatasan dan perlindungan hak asasi manusia.

Berdasarkan uraian di atas menurut penulis perlunya Pemerintah bukan hanya mencegah penyelundupan manusia dan masuknya orang secara tidak teratur, tetapi juga harus memastikan bahwa orang yang membutuhkan perlindungan dapat memperoleh proses pemeriksaan dan suaka sesuai hukum yang berlaku. Oleh karena itu fenomena tersebut tidak hanya dapat diselesaikan dengan memperketat perbatasan. Spanyol dan negara-negara Eropa juga perlu bekerja sama dengan negara asal dan negara transit untuk mengurangi penyebab migrasi tidak teratur, tujuannya agar dapat memberantas jaringan penyelundupan manusia, dan menyediakan jalur migrasi yang aman dan legal. Dengan pendekatan tersebut, keamanan perbatasan dapat tetap dijaga sekaligus melindungi keselamatan dan hak dasar para migran di Spanyol.

Tim Penulis:

Yumiriyah Abdullah | Political Scinece – Universitas Nasional Jakarta

Sekolah SMA Al-Karim Bandar Lampung:

Ahmad Ramadhan
Alif Abdurrahman Ayubi
Daffyan Alfaro
Farrel Azka Prabowo
Hamasah Faqih Rezar
Hanief Ishamuddin Zulfa
Muhammad Ammar Anadwin
Muhammad Wildan Alfarisi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *