JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap penanganan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita, anak-anak, dan lansia sebagai kelompok yang paling rentan.
Menurut Netty, peningkatan kasus ISPA perlu dilihat secara komprehensif karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan cuaca, kualitas udara, polusi, hingga mobilitas masyarakat.
“Ketika kasus ISPA meningkat, kita tidak cukup hanya meminta masyarakat berobat. Faktor lingkungan dan kualitas udara juga harus menjadi perhatian. Pelindungan kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan dari hulu sampai hilir,” ujar Netty dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026).
Netty mendorong penguatan layanan kesehatan primer, khususnya Puskesmas, agar mampu melakukan deteksi dan penanganan ISPA secara cepat. Edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat mengenai tanda-tanda ISPA yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, terutama pada balita.
“Jangan anggap semua batuk dan sesak sebagai keluhan ringan. Pada anak, ISPA dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Orang tua perlu mengetahui tanda bahayanya dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika kondisi memburuk,” katanya.
Selain itu, Netty mendorong langkah preventif seperti penggunaan masker ketika kualitas udara buruk, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi tinggi, menjaga kebersihan tangan, menghindari asap rokok, serta memastikan asupan gizi dan imunisasi anak sesuai anjuran.
Netty menilai pengendalian kualitas udara juga perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan.
“Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat pemantauan kualitas udara serta mendorong pengendalian sumber polusi, terutama di kawasan dengan kepadatan kendaraan dan aktivitas industri tinggi,” katanya.
“Menjaga kesehatan pernapasan masyarakat bukan hanya tugas sektor kesehatan. Ini membutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor lingkungan, dunia usaha, sekolah, keluarga, dan masyarakat,” tegasnya.
Netty berharap peningkatan kasus ISPA dapat menjadi momentum untuk memperkuat sistem pencegahan dan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan pengobatan ketika sakit, tetapi juga terlindungi dari faktor risiko yang dapat dicegah.
“Yang kita inginkan bukan sekadar menangani pasien ISPA sebanyak-banyaknya, tetapi mencegah agar masyarakat tidak jatuh sakit dan memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan yang optimal,” pungkas Netty.






