Sepak Terjang Sang Jenderal: Menimbang Arah Indonesia di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Oleh: H. Nasarudin, SH, MH, Ketua Relawan Jarnas For Prabowo-Gibran

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar; setelah 81 tahun merdeka, ke mana sebenarnya kita ingin membawa Indonesia?

Bacaan Lainnya

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia tahun ini. Sebab kemerdekaan bukanlah garis akhir dari sebuah perjuangan. Kemerdekaan adalah titik awal bagi sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, membangun kedaulatannya, meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, serta memastikan bahwa Indonesia mampu berdiri tegak di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

Dalam konteks itulah perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto patut kita lihat secara lebih utuh. Memasuki tahun kedua kepemimpinannya, Presiden Prabowo menghadapi pekerjaan besar yakni memastikan Indonesia tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan pangan, ketahanan energi, pembangunan yang merata, serta posisi yang semakin kuat dalam percaturan global.

Bagi saya, perjalanan tersebut tidak dapat dilepaskan dari sosok Prabowo sebagai seorang prajurit dan jenderal. Puluhan tahun kehidupannya ditempa dalam tradisi pengabdian kepada negara. Karakter keprajuritan yang menempatkan disiplin, keberanian, loyalitas, dan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Namun, memimpin sebuah negara tentu berbeda dengan memimpin sebuah kesatuan. Jika dalam dunia militer keberhasilan dapat diukur melalui ketepatan menjalankan perintah dan pencapaian sasaran operasi, dalam pemerintahan keberhasilan harus diukur melalui sesuatu yang jauh lebih kompleks; apakah rakyat merasakan manfaatnya, apakah ekonomi bergerak, apakah lapangan pekerjaan tersedia, apakah pangan terjangkau, apakah pelayanan publik membaik dan apakah pembangunan benar-benar menghadirkan keadilan. Di sinilah tantangan terbesar Presiden Prabowo.

Mengembalikan Kepercayaan Diri Bangsa

Indonesia adalah negara besar. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis yang strategis, serta potensi ekonomi yang tidak kecil. Namun selama bertahun-tahun kita juga menghadapi persoalan mendasar berupa ketergantungan pada berbagai kebutuhan dari luar negeri.

Karena itu, gagasan mengenai kemandirian dan swasembada memiliki relevansi yang sangat penting.

Ketahanan pangan, misalnya, bukan semata-mata persoalan produksi beras atau komoditas pertanian. Pangan menyangkut kedaulatan. Bangsa yang tidak mampu memastikan kebutuhan pangannya sendiri akan selalu memiliki kerentanan ketika menghadapi gejolak global.

Upaya pemerintah mendorong swasembada pangan karena itu perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Petani harus memperoleh kepastian, produktivitas harus meningkat, distribusi harus diperbaiki, teknologi pertanian harus diperluas, dan tata niaga harus memberikan posisi yang lebih adil bagi produsen maupun konsumen.

Pada titik ini, kebijakan pemerintah tentu harus terus dikawal. Keberpihakan kepada petani tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Petani harus mendapatkan harga yang layak, akses terhadap pupuk dan teknologi, kepastian atas lahan, serta pasar yang memberikan insentif untuk terus berproduksi.

Inilah makna kedaulatan yang sesungguhnya yaitu negara hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi sejak dari proses produksi hingga hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

Asta Cita dan Pekerjaan Rumah yang Panjang

Pemerintahan Presiden Prabowo membawa Asta Cita sebagai arah besar pembangunan nasional. Di dalamnya terdapat agenda memperkokoh ideologi, demokrasi, dan hak asasi manusia. Memperkuat pertahanan dan keamanan, mendorong kemandirian ekonomi, meningkatkan pembangunan manusia, melanjutkan pembangunan infrastruktur, serta memperkuat reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi.

Arah tersebut tentu memiliki tujuan besar. Tetapi sebuah visi hanya akan menjadi berarti apabila diterjemahkan menjadi kebijakan yang efektif dan dirasakan masyarakat.

Karena itu, memasuki tahun kedua pemerintahan, kita tidak boleh hanya bertanya apa yang telah dilakukan pemerintah. Kita juga harus bertanya, apa yang belum selesai? Apa yang belum berhasil? Di mana kebijakan perlu diperbaiki? Dan apa yang harus diperkuat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Justru sebaliknya, pertanyaan kritis merupakan bagian dari tanggung jawab masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
Dukungan kepada pemerintah tidak harus berarti membenarkan seluruh kebijakan. Begitu pula kritik terhadap pemerintah tidak selalu berarti menolak seluruh agenda pemerintah.

Kita membutuhkan sikap yang lebih dewasa yakni mendukung apa yang benar, mengkritisi apa yang keliru, dan memberikan alternatif ketika menemukan kekurangan.

Patriotisme dalam Medan Perjuangan yang Berbeda

Ada satu hal yang menurut saya penting untuk direnungkan pada momentum 17 Agustus tahun ini.
Para pahlawan dahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan senjata dan pengorbanan jiwa. Generasi hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.

Musuh kita bukan lagi penjajah yang datang dengan kapal perang. Tantangan kita adalah kemiskinan, ketimpangan, korupsi, rendahnya produktivitas, ketergantungan ekonomi, keterbelakangan teknologi, serta persaingan global yang semakin keras.

Karena itu, patriotisme hari ini harus diterjemahkan dalam bentuk kerja. Petani yang bekerja meningkatkan produktivitas pangan adalah patriot. Guru yang mendidik generasi bangsa adalah patriot. Tenaga kesehatan yang melayani masyarakat adalah patriot. Pengusaha yang membuka lapangan kerja adalah patriot. Aparatur negara yang bekerja dengan integritas adalah patriot.

Dan pemimpin negara harus menjadi patriot yang mampu memastikan seluruh energi tersebut bergerak menuju tujuan yang sama.

Dalam konteks itu, perjalanan Presiden Prabowo sebagai seorang jenderal tentu memberikan warna tersendiri dalam kepemimpinannya. Semangat disiplin, ketegasan, keberanian mengambil keputusan, serta orientasi pada kepentingan nasional merupakan modal penting untuk menghadapi tantangan Indonesia yang semakin kompleks.

Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki keberanian.
Pemimpin juga membutuhkan kebijaksanaan. Membutuhkan kemampuan mendengar. Membutuhkan kesediaan menerima kritik. Dan yang paling penting, membutuhkan kemampuan mengubah visi menjadi hasil yang dapat dirasakan rakyat.

Negara Harus Hadir, Rakyat Harus Terlibat
Kita sering berbicara mengenai pembangunan seolah-olah pembangunan adalah pekerjaan pemerintah semata. Padahal negara bukan hanya pemerintah. Negara adalah kita semua.

Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan. Tetapi masyarakat memiliki peran untuk mengawasi, memberikan masukan, sekaligus ikut memastikan kebijakan tersebut berjalan dengan baik.

Karena itu, Asta Cita harus menjadi agenda bersama, bukan hanya agenda pemerintah.
Perguruan tinggi harus memberikan kritik dan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan. Dunia usaha harus ikut menciptakan lapangan kerja. Organisasi masyarakat harus menjadi jembatan aspirasi. Generasi muda harus mengambil peran dalam inovasi dan teknologi.

Dan masyarakat harus berani menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara konstruktif. Dengan cara itu, pembangunan tidak berlangsung dari atas ke bawah semata, tetapi menjadi proses bersama antara pemerintah dan rakyat. Indonesia tidak kekurangan gagasan. Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana memastikan gagasan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat.

81 Tahun Merdeka, Indonesia Harus Melangkah Lebih Jauh

Delapan puluh satu tahun bukan usia yang muda bagi sebuah negara. Kita telah melewati perang, krisis ekonomi, pergantian rezim, perubahan politik, dan berbagai tantangan global. Kita telah membuktikan bahwa demokrasi Indonesia mampu bertahan dan bahwa bangsa ini memiliki kemampuan untuk bangkit dari berbagai krisis.

Kini tantangannya adalah memastikan bahwa kemerdekaan tidak hanya menjadi kebanggaan simbolik. Kemerdekaan harus hadir dalam bentuk harga pangan yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang baik, pekerjaan yang layak, infrastruktur yang merata, lingkungan yang terjaga, serta kesempatan yang adil bagi setiap warga negara.
Itulah ukuran sesungguhnya dari kemerdekaan.

Maka memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo, kita perlu melihat perjalanan bangsa dengan optimisme sekaligus kewaspadaan. Optimisme diperlukan karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Kewaspadaan diperlukan karena perjalanan menuju Indonesia maju tidak pernah mudah.

Kita boleh bangga terhadap berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah. Tetapi kebanggaan itu harus berjalan bersama evaluasi. Kita boleh memberikan dukungan kepada Presiden Prabowo, tetapi dukungan tersebut harus tetap menempatkan kepentingan rakyat dan kepentingan nasional sebagai orientasi utama. Karena pada akhirnya, yang harus kita bela bukanlah seorang tokoh.
Yang harus kita bela adalah Indonesia.

Jika pemerintah benar, kita dukung. Jika ada kekurangan, kita beri masukan. Jika ada kebijakan yang perlu diperbaiki, kita sampaikan dengan cara yang konstruktif. Dan jika ada keberhasilan yang membawa manfaat bagi rakyat, kita apresiasi.

Melanjutkan Perjuangan
Pada 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan dengan satu keyakinan besar bahwa bangsa Indonesia berhak menentukan masa depannya sendiri. Delapan puluh satu tahun kemudian, keyakinan itu harus kita lanjutkan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang hanya bangga dengan masa lalu, tetapi tidak berani membangun masa depan. Kita harus menjadi bangsa yang percaya pada kemampuan sendiri, berani berdiri sejajar dengan bangsa lain, mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya, dan memiliki kepemimpinan yang bekerja untuk kepentingan nasional.

Di situlah saya melihat relevansi perjalanan seorang jenderal dalam memimpin bangsa hari ini.

Dari medan perjuangan mempertahankan negara, menuju medan perjuangan membangun negara.

Dari perjuangan menjaga kedaulatan, menuju perjuangan mewujudkan kesejahteraan.

Dan dari semangat seorang prajurit, menuju pengabdian seorang negarawan.

Perjalanan itu masih panjang. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Banyak kebijakan yang perlu diperbaiki. Banyak aspirasi masyarakat yang harus didengar.

Tetapi selama kita menjaga persatuan, bekerja dengan sungguh-sungguh, berani melakukan koreksi, dan menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan kelompok, saya percaya bangsa ini memiliki masa depan yang besar.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

81 tahun Indonesia merdeka bukan akhir dari perjuangan. Ini adalah momentum untuk melanjutkan perjuangan menuju Indonesia yang berdaulat, mandiri, maju, dan sejahtera.
Merdeka!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *