Investasi Masuk Bulukumba, FKPB: Pengusaha Lokal Harus Jadi Pemain

MAKASSAR – BELA RAKYAT – Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB) mendorong agar investasi yang masuk ke Kabupaten Bulukumba tidak hanya meningkatkan nilai investasi daerah, tetapi juga memperkuat kapasitas pengusaha lokal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta membangun rantai ekonomi baru di masyarakat.

Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB) yang juga Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Selatan, Syafruddin Mualla,** mengatakan Bulukumba membutuhkan investasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membangun industri, mengembangkan perdagangan, serta mengolah berbagai potensi daerah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Bacaan Lainnya

Namun, menurutnya, investasi yang masuk harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan dunia usaha lokal.

“Kita membutuhkan investor. Tetapi pengusaha lokal juga harus menjadi bagian dari pertumbuhan investasi tersebut. Jangan sampai investasi masuk, sementara pengusaha lokal hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” ujar Syafruddin Mualla kepada Bela Rakyat, Makassar, Sulsel, Senin (10/8/2026).

Ekonomi Bulukumba Memiliki Basis yang Kuat

Menurut Syafruddin, Bulukumba memiliki basis ekonomi yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi daerah industri dan perdagangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bulukumba pada 2024 mencapai sekitar Rp20,22 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,60 persen.

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi salah satu penopang utama perekonomian Bulukumba, dengan kontribusi sekitar 34,97 persen terhadap PDRB.

Besarnya kontribusi sektor tersebut menunjukkan bahwa Bulukumba memiliki basis sumber daya alam dan bahan baku yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekuatan tersebut menjadi industri pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.

“Kita harus bergerak dari daerah penghasil menjadi daerah pengolah. Kelapa jangan hanya dijual sebagai kelapa, ikan jangan hanya dijual sebagai ikan segar, dan rumput laut jangan berhenti sebagai bahan baku. Kita harus menciptakan industri yang menghasilkan nilai tambah,” katanya.

Menurut Syafruddin, investasi harus diarahkan untuk membangun industri yang terintegrasi dengan sumber daya lokal sehingga manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi menyebar ke sektor perdagangan, transportasi, jasa, konstruksi, UMKM dan tenaga kerja.

Potensi Kelautan Harus Naik Kelas

Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar adalah ekonomi kelautan dan perikanan.

Bulukumba memiliki garis pantai sekitar 128 kilometer dengan produksi perikanan tangkap yang mencapai sekitar 58.965 ton pada 2024.

Potensi tersebut, kata Syafruddin, harus dikembangkan dari sekadar perdagangan hasil tangkapan menjadi industri perikanan yang memiliki rantai nilai lebih panjang.

Pengembangan dapat dilakukan melalui pembangunan cold storage, industri pengolahan hasil laut, pengemasan, distribusi, logistik hingga pasar ekspor.

“Kalau hasil laut hanya dijual sebagai ikan segar, nilai tambah yang kita dapatkan terbatas. Tetapi kalau masuk ke industri pengolahan, akan muncul banyak kegiatan ekonomi baru, mulai dari pengadaan bahan baku, transportasi, cold storage, packaging sampai distribusi,” jelasnya.

Menurutnya, pola industrialisasi tersebut juga dapat diterapkan terhadap komoditas strategis lainnya seperti kelapa, kakao, rumput laut dan berbagai hasil pertanian.

Dengan demikian, investasi tidak hanya membangun pabrik, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha yang melibatkan banyak perusahaan dan pelaku ekonomi lokal.

55.811 UMKM Harus Naik Kelas

Selain menarik investasi, FKPB mendorong peningkatan kapasitas pengusaha dan UMKM lokal.

Data Sistem Informasi Data Tunggal UMKM yang disampaikan Kementerian UMKM mencatat sekitar 55.811 UMKM di Bulukumba.

Syafruddin menilai jumlah tersebut merupakan kekuatan ekonomi yang sangat besar. Namun, tantangannya bukan sekadar mempertahankan jumlah UMKM, melainkan mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk naik kelas.

“Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak UMKM. Kita membutuhkan lebih banyak UMKM yang naik kelas menjadi perusahaan. Dari mikro menjadi kecil, dari kecil menjadi menengah, kemudian menjadi perusahaan besar yang mampu masuk pasar regional, nasional bahkan ekspor,” ujarnya.

Karena itu, menurut Syafruddin, penguatan UMKM harus mencakup akses pembiayaan, legalitas usaha, peningkatan manajemen, teknologi, pemasaran, peningkatan kualitas produk serta akses terhadap rantai pasok industri.

Investasi yang masuk ke Bulukumba harus menjadi salah satu pintu bagi UMKM lokal untuk mendapatkan pasar baru.

Investor dan Pengusaha Lokal Harus Menjadi Mitra

Syafruddin menegaskan bahwa FKPB tidak berada pada posisi menolak investor.

Sebaliknya, dunia usaha daerah membutuhkan lebih banyak investasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Bulukumba. Namun, pola investasi harus diarahkan agar menciptakan efek berganda atau multiplier effect agi perekonomian lokal.

Investor dapat menjadi lokomotif, sementara pengusaha lokal mengambil posisi sebagai bagian dari rantai pasok dan ekosistem bisnis yang terbentuk.

“Investor membangun industri, pengusaha lokal harus bisa menjadi supplier. Investor membangun kawasan, pengusaha lokal bisa menjadi kontraktor. Industri membutuhkan logistik, transportasi, packaging dan berbagai jasa lainnya. Di situlah pengusaha lokal harus mengambil posisi,” katanya.

Keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai pasok akan membuat manfaat investasi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan pemodal, tetapi juga menggerakkan perdagangan, konstruksi, transportasi, jasa, UMKM dan tenaga kerja di daerah.

“Kita tidak boleh mempertentangkan investor dengan pengusaha lokal. Keduanya harus menjadi mitra. Investor membawa modal, teknologi dan jaringan pasar, sementara pengusaha lokal memiliki pengetahuan tentang daerah, jaringan usaha dan sumber daya lokal. Kalau disinergikan, dampaknya akan jauh lebih besar,” jelas Syafruddin.

Dorong Investment–Business Matching Bulukumba

Untuk memperkuat hubungan antara investor dan pengusaha lokal, FKPB mendorong pengembangan Investment–Business Matching Bulukumba.

Konsep ini diarahkan untuk mempertemukan investor dengan perusahaan dan pelaku usaha lokal yang memiliki kapasitas untuk menjadi mitra bisnis.

Pengusaha lokal dapat mengambil peran sebagai supplier, kontraktor, distributor, perusahaan logistik, penyedia jasa, mitra produksi hingga mitra investasi.

“Ketika investor datang, kita jangan hanya menunjukkan potensi Bulukumba. Kita juga harus mampu menunjukkan perusahaan-perusahaan Bulukumba yang siap menjadi partner mereka,” kata Syafruddin.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar investasi tidak berjalan sendiri, tetapi langsung terhubung dengan rantai ekonomi lokal.

Dalam konteks ini, KADIN dan organisasi dunia usaha dapat memainkan peran sebagai jembatan antara pemerintah, investor dan pengusaha daerah, sehingga peluang kerja sama bisnis dapat dipetakan sejak awal.

Sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan, Syafruddin melihat konektivitas dunia usaha daerah dengan investor dari luar daerah maupun nasional sebagai salah satu kunci memperbesar skala ekonomi Bulukumba.

Keberhasilan Investasi Jangan Hanya Diukur dari Nilai Modal

FKPB juga mendorong agar keberhasilan investasi daerah tidak hanya diukur berdasarkan besarnya nilai modal yang masuk.

Menurut Syafruddin, terdapat sejumlah indikator yang tidak kalah penting, antara lain:

* jumlah perusahaan lokal yang menjadi supplier;
* jumlah UMKM yang masuk dalam rantai pasok industri;
* jumlah tenaga kerja lokal yang terserap;
* nilai kontrak yang diperoleh pengusaha daerah;
* besarnya bahan baku lokal yang diserap industri;
* jumlah perusahaan lokal yang naik kelas;
* serta besarnya nilai tambah ekonomi yang tetap berputar di Bulukumba.

“Pertanyaan kita bukan hanya berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak pengusaha lokal yang tumbuh karena investasi tersebut dan berapa besar nilai tambah yang tetap berputar di Bulukumba,” ujarnya.

Dengan ukuran tersebut, investasi tidak hanya dilihat dari nilai kapital yang masuk, tetapi dari seberapa besar investasi mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru.

Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen atau tenaga kerja, tetapi juga dapat menjadi pelaku usaha, pemasok, kontraktor, distributor, mitra produksi dan bahkan investor.

Bulukumba Harus Menjadi Basis Industri dan Perdagangan

Syafruddin berharap sinergi antara pemerintah daerah, KADIN, FKPB, investor dan seluruh pelaku usaha dapat mempercepat transformasi ekonomi Bulukumba.

Menurutnya, Bulukumba memiliki peluang besar untuk bergerak dari daerah penghasil komoditas menjadi daerah industri, perdagangan dan jasa yang lebih kuat di kawasan Selatan Sulawesi.

Potensi kelautan, pertanian, perkebunan, industri maritim, perdagangan serta posisi strategis Bulukumba harus dikembangkan dalam satu ekosistem investasi yang saling terhubung.

Investasi juga harus diarahkan untuk membangun industri yang memanfaatkan bahan baku lokal, menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha baru, memperkuat UMKM dan meningkatkan kemampuan perusahaan daerah untuk masuk ke pasar regional, nasional maupun ekspor.

“Bulukumba tidak cukup hanya menjadi tempat investor menanam modal. Bulukumba harus menjadi tempat lahir dan tumbuhnya para pengusaha besar. Investor datang membawa modal dan teknologi, pengusaha lokal membawa pengetahuan, jaringan dan kekuatan ekonomi daerah. Kalau keduanya bersinergi, investasi akan menjadi kekuatan besar bagi Bulukumba,” pungkas Syafruddin Mualla.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *