HBD Doli Kurnia di Usia 55 Tahun: Aktivis Harus Tetap Berani Dikritik dan DPR Tidak Boleh Kehilangan Suara Rakyat!

JAKARTA – BELA RAKYAT – Suasana hangat, penuh canda, sekaligus sarat refleksi mewarnai Reuni Aktivis dalam ADK Show (Arena Demokrasi dan Kritik) yang digelar di Auditorium Siaran Langsung Luar Negeri RRI Pusat, Jalan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Ahad (26/7/2026). Acara tersebut menjadi ruang temu lintas generasi aktivis, akademisi, politisi, hingga tokoh nasional yang pernah mewarnai perjalanan demokrasi Indonesia.

Momentum itu sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-55 Wakil Ketua Baleg sekaligus Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung. Namun berbeda dari perayaan ulang tahun pada umumnya, Doli memilih menjadikan momen tersebut sebagai ajang “roasting“, kritik terbuka, dan reuni para aktivis yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Bacaan Lainnya

Usai menerima berbagai testimoni, candaan, hingga kritik dari para sahabat dan seniornya, Doli naik ke podium menyampaikan sambutan yang disambut tepuk tangan para tamu undangan.

Reuni Aktivis, Bukan Sekadar Perayaan Ulang Tahun

Dalam pidatonya, Doli mengaku sejak kecil tidak pernah terbiasa merayakan ulang tahun. Namun, pada usia yang ke-55 ini, para sahabat mendorongnya agar membuat sebuah kegiatan yang memiliki makna lebih besar.

“Teman-teman bilang, usia 55 tahun sayang kalau tidak dibuat acara. Maka kemudian dikemas menjadi reuni aktivis, karena saya merasa besar, sampai sekarang tetap merasa, dan ke depan harus tetap menjadi aktivis,” ujar Doli.

Karena itu, ia sengaja mengundang berbagai tokoh lintas generasi, mulai dari aktivis senior, mantan pimpinan organisasi mahasiswa, tokoh Kelompok Cipayung, para mantan Ketua Umum PB HMI, hingga tokoh-tokoh KNPI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan organisasinya.

Menurut Doli, perjalanan hidup yang ia jalani hingga kini tidak bisa dipisahkan dari dunia aktivisme yang telah membentuk karakter, idealisme, dan kepemimpinannya.

Kritik Adalah Vitamin Demokrasi

Salah satu pesan utama yang disampaikan Doli adalah pentingnya membangun budaya menerima kritik, terlebih bagi siapa pun yang dipercaya menjadi pemimpin.

Baginya, setiap manusia pasti memiliki kekurangan sehingga kritik dan masukan harus dipandang sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

“Sebagai manusia, apalagi sebagai pejabat publik, kita tidak bisa lepas dari salah dan khilaf. Karena itu kita harus bersedia dikritik, diberi saran dan masukan. Acara ini menjadi latihan bagi saya agar tidak sensitif dan tidak anti terhadap kritik,” katanya.

Ia menilai tradisi saling mengingatkan merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi.

DPR RI Harus Tetap Berani Bicara

Dalam kesempatan tersebut, Doli juga menyinggung kondisi demokrasi yang menurut sejumlah pembicara mulai menghadapi tantangan.

Ia mengaku sejumlah sahabatnya sempat menyampaikan bahwa ruang berbicara kini terasa semakin sempit. Karena itu, melalui forum tersebut ia justru mendapat pengingat untuk terus menjalankan fungsi parlemen secara maksimal.

“Kalau tadi ada yang mengatakan sekarang bicara saja mulai agak susah, maka mudah-mudahan acara ini menjadi dorongan bagi saya untuk tetap menjalankan fungsi sebagai anggota DPR, untuk tetap berbicara. Karena berbicara itu penting, tentu berbicara yang benar,” tegasnya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi auditorium.

Refleksi 55 Tahun Perjalanan Hidup

Doli mengaku seluruh kritik, candaan, bahkan hal-hal kecil yang disampaikan para sahabat menjadi bahan evaluasi bagi dirinya.

Ia bahkan menanggapi dengan ringan berbagai “roasting” yang menyinggung kebiasaannya membalas pesan WhatsApp yang sering terlambat.

“Kalaupun selama ini WA saya agak lama dibalas, saya mohon maaf. Itu menjadi koreksi juga buat saya dan mungkin juga teman-teman yang sekarang menjadi anggota DPR maupun pejabat publik,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, usia 55 tahun bukanlah titik pencapaian, melainkan momentum untuk terus memperbaiki diri agar semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Terima Kasih untuk Keluarga dan Dunia Aktivis

Pada bagian akhir pidatonya, Doli menyampaikan rasa syukur kepada kedua orang tuanya yang menurutnya juga merupakan aktivis sehingga mengenalkannya sejak kecil pada dunia organisasi.

Dengan nada penuh haru, ia bahkan berkelakar bahwa dirinya lahir karena kedua orang tuanya dipertemukan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

“Ayah dan umi saya bertemunya di HMI. Jadi saya sering bilang, kalau tidak ada HMI mungkin tidak ada saya,” katanya yang langsung disambut tawa para hadirin.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada sang istri, anak-anak, serta seluruh keluarga besar aktivis yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Saya mungkin belum bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa, negara, dan rakyat Indonesia sampai usia 55 tahun ini. Insya Allah saya akan terus memperbaiki diri agar semakin bermanfaat bagi kita semua,” tutup Doli.

Ditantang Unjuk Bakat Bermusik

Suasana serius yang sebelumnya menyelimuti auditorium berubah menjadi penuh gelak tawa ketika pembawa acara menantang Doli menunjukkan kemampuan bermusiknya.

Pembawa acara menyebut Doli bukan hanya politisi, tetapi juga pencipta lagu dan pencinta musik.

Tantangan itu semakin meriah ketika musisi legendaris Pay Burman dipanggil ke atas panggung untuk menemani Doli tampil. Dengan senyum khasnya, Doli sempat berseloroh bahwa dirinya sebelumnya bahkan sempat disebut sebagai “ustaz”, sebelum akhirnya bersiap menikmati sesi hiburan yang menjadi penutup hangat Reuni Aktivis ADK Show malam itu.

Di akhir acara, Doli bermain musik bersama Pay Burman. Doli sukses sebagai dramer handal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *