Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Masjid tumbuh di setiap sudut kota, kajian Islam semakin semarak, semangat hijrah semakin menguat, dan istilah ekonomi syariah semakin akrab di telinga masyarakat. Namun di balik geliat itu, tersimpan sebuah ironi yang patut menjadi bahan muhasabah bersama: mengapa ekonomi syariah belum menjadi pilihan utama umatnya sendiri?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengajak kita bercermin. Sebab jika produk yang diyakini membawa keberkahan masih kalah diminati dibandingkan produk konvensional, berarti ada pekerjaan besar yang belum selesai.
Persoalannya bukan semata-mata karena masyarakat tidak mencintai syariah. Banyak orang justru ingin bertransaksi sesuai ajaran agama. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari mereka juga menginginkan sesuatu yang mudah, cepat, efisien, terjangkau, dan memberikan kepastian layanan. Ketika produk syariah belum mampu memenuhi harapan tersebut secara optimal, sebagian masyarakat memilih jalan yang menurut mereka lebih praktis.
Inilah tantangan terbesar ekonomi syariah pada era digital, keberkahan harus berjalan seiring dengan kualitas pelayanan. Nilai-nilai Islam tidak boleh hanya unggul dalam konsep, tetapi juga harus unggul dalam inovasi, teknologi, kemudahan akses, dan pengalaman pengguna.
Di sisi lain, dunia perbankan syariah juga menghadapi tantangan internal. Sebagian masyarakat masih sulit memahami perbedaan antara produk syariah dan konvensional. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa perbedaannya hanya pada istilah, sementara mekanisme dan manfaatnya dirasakan hampir sama. Benar atau tidak persepsi itu, kenyataannya persepsi publik sangat memengaruhi pilihan mereka. Karena itu, transparansi akad, edukasi, dan komunikasi yang sederhana menjadi sangat penting.
Literasi keuangan syariah juga masih perlu diperkuat. Selama ini pembahasan tentang riba sering berhenti pada penjelasan mengenai hukum halal dan haram, padahal masyarakat juga membutuhkan jawaban yang praktis: bagaimana mengelola keuangan keluarga, memilih produk yang sesuai syariah, dan membangun kebiasaan ekonomi yang sehat di tengah perkembangan teknologi finansial.
Ekonomi syariah tidak cukup berkembang hanya dengan ceramah. Ia membutuhkan ekosistem yang kuat. Dunia pendidikan, pesantren, perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah, pelaku usaha, regulator, dan masyarakat harus berjalan dalam satu visi yang sama. Keberkahan tidak akan tumbuh jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Pemerintah juga memiliki peran strategis dalam memperkuat industri keuangan syariah melalui regulasi yang mendorong inovasi, peningkatan literasi, penguatan sumber daya manusia, serta penciptaan iklim usaha yang sehat dan kompetitif. Sementara itu, lembaga keuangan syariah dituntut menghadirkan layanan yang semakin profesional, cepat, transparan, dan mudah diakses, sehingga masyarakat memilihnya bukan hanya karena alasan agama, tetapi juga karena kualitasnya.
Bagi umat Islam sendiri, hijrah ekonomi tidak cukup diwujudkan dengan mengganti nama produk keuangan. Hijrah yang sesungguhnya dimulai dari perubahan cara berpikir, yakni meninggalkan budaya konsumtif, menghindari utang yang tidak produktif, membangun etos kerja, hidup sesuai kemampuan, serta menjadikan kejujuran dan amanah sebagai fondasi setiap transaksi.
Pada akhirnya, ekonomi syariah tidak boleh hanya menjadi identitas, slogan, atau simbol religius. Ia harus hadir sebagai sistem yang memberikan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Produk yang halal seharusnya juga menjadi produk yang paling mudah diakses, paling profesional pelayanannya, paling inovatif teknologinya, dan paling besar manfaatnya.
Sebab keberkahan bukanlah alasan untuk tertinggal. Justru keberkahan seharusnya menjadi energi untuk melahirkan keunggulan. Ketika nilai-nilai syariah berpadu dengan inovasi, profesionalisme, dan pelayanan yang berkualitas, maka ekonomi syariah tidak hanya akan menjadi pilihan umat Islam, tetapi juga menjadi pilihan siapa pun yang mendambakan sistem ekonomi yang adil, bermartabat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏






