Sejak Iran sukses mengerahkan burung-burung “ababil*nya membom markas-markas militer AS dan Israel, dunia terperangah. Bagaimana mungkin harga “burung bunuh diri” semurah itu dapat menghancurkan aset-aset militer dan sipil milyaran dollar?
Tiba-tiba logika Elang Tempur (pesawat canggih berpilot) kehilangan relevansi. Selain tidak praktis, mahal dan juga sangat bergantung pada kemahiran pilot dan sistem komunikasi terintegrasinya yang rumit. Belum gendongan bom-bomnya yang tidak murah dan praktis.
Lain dengan drone syahid atau nama resminya Drone Shahed 136, cukup dikendalikan dua orang paling banyak, tamatan SD, juga bisa. Ngapain harus tamatan akademi angkatan udara yang makan waktu bertahun-tahun dan biaya mahal hanya untuk menyupiri alat terbang yang bisa ngebom, padahal tujuan esensialnya: supaya aset musuh rusak dari jarak jauh.
Sudah itu, drone syahid ini bila diterbangkan mencari makanannya, dia tidak membawa risiko ada pengendali yang akan mati, karena dia auto terbang dan nyari sasarannya sendiri.
Dari peristiwa drone syahid ini, sekarang paradigma dan logika pesawat tempur yang canggih dan kapal-kapal laut yang berat, seperti kapal induk, makin kehilangan relevansinya. Usaha menakut-nakuti bangsa lain dengan pesawat canggih generasi berapapun, kalau masih pakai pilot, atau kapal induk sekeren apa pun, seperti Garibaldi yang dioper Italia ke Indonesia, dengan majunya perkembangan rudal balistik, drone, pesawat tanpa awak, dan kecerdasan buatan, akhirnya seperti memandang alat-alat perang zaman abad ke – 19. Jangan-jangan karena Italia menyadari gaya perang masa depan, yang serba remote, robotik, tanpa banyak mengerahkan prajurit yang berbiaya mahal (makan, pakaian, alat mandi, hingga rokok), maka negara pusat mode itu melepas kapal-kapal perangnya ke Indonesia. China saja sudah mengubah pesawat-pesawat era 60-annya menjadi drone kamikaze.
Tapi bagaimana sebenarnya riwayat drone syahid Iran ini berawal?
Tersebutlah di sebuah bengkel kecil Universitas Isfahan tahun 1980-an, tiga pemuda sedang bermain-main dengan mimpi gila. Farshid, pilot sipil. Saeed, mahasiswa fisika. Masoud Zahedi, pengrajin emas. Mereka merangkai potongan plastik, papan, kantong infus rumah sakit sebagai tangki bensin, dan baling-baling yang dibuat manual. Hasilnya? Sebuah “mainan” yang diketawakan para jenderal saat pertama kali dipresentasikan.
Mainan itu kemudian terbang. Diam-diam. 40 kilometer di atas kepala musuh Irak. Pulang membawa foto-foto yang jernih.
Dan dunia militer Iran berubah selamanya.
Bayangkan sebuah negara yang ditinggalkan begitu saja oleh teknologi Barat. Shah pergi, teknisi Amerika kabur, pesawat F-14 Tomcat yang mahal jadi besi tua menganggur. Sanksi mengepung seperti ular boa. Perang delapan tahun dengan Irak datang seperti badai. Iran buta. Tidak bisa terbang, tidak bisa beli, hampir tidak bisa melihat.
Lalu muncul ide sederhana yang jenius: kalau tidak bisa beli elang, buat saja seribu burung pipit yang murah dan bandel.
Drone pertama mereka lahir dari keputusasaan yang dipaksa jadi kreativitas. Dari bengkel mahasiswa ke Batalion Thunder, dari purwarupa konyol ke Shahed-136 yang kini membuat Kyiv gelap dan Riyadh ketar-ketir. Mereka membalikkan logika perang modern: bukan presisi yang mahal, tapi jumlah yang murah. Bukan satu rudal dua juta dolar yang akurat, tapi seratus drone dua puluh ribu dolar yang membanjiri radar lawan.
Israel dan Amerika, yang dulu mempelopori drone untuk mengintai dan menyerang, kini harus berjaga-jaga dari drone buatan negara yang mereka embargo selama puluhan tahun. Teknologi yang mereka tinggalkan, justru dipaksa berkembang oleh musuh mereka sendiri. Sanksi yang dimaksudkan untuk melemahkan, malah memaksa Iran belajar berdiri di kaki sendiri dengan tangan yang penuh luka, tapi mata yang semakin tajam.
Drone Iran kini bukan lagi mainan dari kantong infus. Ia sudah bisa terbang jauh, menembus pertahanan, dan membuat perhitungan ekonomi musuh kacau balau. Satu serangan ke Aramco: kerugian puluhan miliar dolar di pihak korban, hanya jutaan dolar di pihak penyerang. Itu bukan perang senjata. Itu perang dompet.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku






