Oleh : Tamsil Linrung | Wakil Ketua DPD RI
Nabi Ibrahim adalah bapak monoteisme yang mengemban nubuwat agama-agama samawi. Ia mewariskan gerakan teologis yang kemudian menjelma menjadi pilar-pilar peradaban-peradaban besar dunia. Idul Adha yang kita rayakan merefleksikan ajaran Nabi Ibrahim yang lestari. Ajaran itu terus hidup, membentuk peradaban umat manusia hingga saat ini.
Di balik jejak spiritual Nabi Ibrahim dalam hari raya Idul Adha, tersimpan pesan tentang bagaimana tauhid dapat menjelma menjadi energi sosial, energi politik, dan energi kebangsaan yang hidup. Di titik inilah kita memahami bahwa tauhid dalam Islam bukan sekadar doktrin teologis yang dingin. Tauhid bukan berarti terjebak pada ritual personal di mihrab dan sajadah.
Tauhid adalah revolusi kesadaran yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, membebaskan manusia dari ketundukan kepada materi, kekuasaan, keserakahan, dan egoisme yang merusak kemanusiaan. Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai keyakinan individual yang sunyi.
Tauhid harus menjelma menjadi keberpihakan sosial, menjadi etika kepemimpinan, menjadi fondasi keadilan, dan menjadi energi moral dalam membangun kehidupan kebangsaan. Tauhid harus melahirkan solidaritas, menghadirkan rasa aman, menjaga martabat manusia, serta memastikan bahwa kekuasaan dan kekayaan tidak berubah menjadi berhala baru yang menindas rakyat kecil.
Inilah pelajaran terbesar Ibrahim. Ia menghancurkan berhala bukan hanya dengan kapak di tangannya, melainkan dengan kejernihan akal, keberanian iman, dan keteguhan moral. Ibrahim menghancurkan seluruh bentuk penghambaan yang membelenggu manusia kepada selain Allah, berhala materi, berhala kekuasaan, berhala keserakahan, bahkan berhala ego dirinya sendiri.
Maka pesan terbesar Ibrahim pada momentum Idul Adha bukan hanya tentang ibadah individual, melainkan tentang transformasi tauhid menjadi fondasi peradaban. Dan di sinilah relevansi paling penting kisah Ibrahim bagi kehidupan kebangsaan Indonesia hari ini.
Ketika Ibrahim menempatkan keluarganya di lembah tandus Makkah, beliau tidak hanya berdoa tentang ibadah. Ibrahim juga memikirkan masa depan sebuah negeri. Doanya sangat menarik. Yang pertama kali beliau minta bukan kekayaan, bukan kemewahan, melainkan keamanan. “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman…” (QS. Al-Baqarah: 126). Padahal ketika itu Makkah belum menjadi kota. Belum ada pasar. Belum ada pusat perdagangan. Bahkan belum layak disebut sebuah negeri dalam pengertian sosial-politik modern.
Namun intuisi kenabian Ibrahim melihat jauh melampaui zamannya. Ibrahim memahami satu hukum besar sejarah, tanpa rasa aman, peradaban tidak mungkin tumbuh. Tanpa stabilitas, manusia tidak dapat beribadah dengan tenang. Tanpa ketentraman dan harmoni sosial, ilmu pengetahuan tidak berkembang. Tanpa solidaritas, kemakmuran hanya melahirkan perebutan dan kehancuran. Karena itu setelah memohon keamanan, Ibrahim melanjutkan doanya dengan permohonan rezeki dan kemakmuran bagi masyarakatnya.
Visi Profetik Manifestasi Tauhid
Di sinilah letak kedalaman visi kepemimpinan profetik Ibrahim. Tauhid tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Ia menerjemahkan tauhid dalam tatanan sosial yang menjamin rasa aman, keadilan, dan kesejahteraan. Dengan kata lain, Ibrahim sedang mengajarkan kepada umat manusia bahwa spiritualitas sejati harus melahirkan tanggung jawab sosial. Sesuatu yang hari ini sering hilang dalam kehidupan modern.
Banyak orang rajin beribadah, tetapi gagal menciptakan rasa nyaman dalam kehidupan sosial. Banyak yang fasih berbicara agama, tetapi individualistik. Padahal Ibrahim mengajarkan hal yang sebaliknya. Tauhid harus jadi manifestasi kehidupan sehari-hari.
Namun sebelum memulai proses rekayasa sosial yang tercantum dalam do’anya, Ibrahim terlebih dahulu membebaskan manusia dari berhala. Hari ini, pembentukan masyarakat melalui agenda pembangunan banyak mengalami kendala karena banyaknya berhala. Meski hidup di era modern, berhala ternyata tidak pernah benar-benar hilang dari sejarah manusia. Ia hanya berubah bentuk.
Jika pada masa Ibrahim berhala dipahat dari kayu dan diukir dari batu, maka di era modern berhala menjelma jauh lebih halus dan menggoda. Ia bisa bernama uang, jabatan, popularitas, kekuasaan politik, hingga penguasaan terhadap lahan dan sumber daya alam. Berhala-berhala itu membuat manusia tunduk, alih-alih berpegang pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Karena itu, ketika keserakahan ekonomi dibiarkan menguasai sistem sosial, sesungguhnya masyarakat sedang dibelenggu oleh berhala baru. Kita menyaksikan bagaimana ketimpangan tumbuh di banyak negara. Kekayaan menumpuk pada segelintir elite, sementara sebagian besar rakyat hidup dalam kecemasan. Dalam situasi seperti itu, pembangunan fisik tidak cukup menyelamatkan sebuah bangsa. Peradaban hanya bisa berdiri kokoh apabila ditopang solidaritas sosial.
Ibnu Khaldun menyebutnya asabiyyah, yaitu solidaritas kolektif yang menjadi perekat sebuah bangsa. Dan sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa bangsa besar runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan solidaritas. Yang kaya membiarkan yang miskin. Yang kuat meninggalkan yang lemah. Yang berkuasa menjauh dari rakyatnya.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar harta “tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja” (Q.S. Al Hasyr : 7). Islam memandang sumber daya ekonomi bukan semata soal pertumbuhan, melainkan distribusi kemaslahatan. Maka Islam merancang sistem distribusi yang berjenjang dan sangat kuat. Ada zakat mal yang wajib ditunaikan sebagai instrumen pemerataan dan pembersihan harta. Ada infaq dan shadaqah yang memperkuat solidaritas sosial.
Ada wakaf yang menjadi investasi peradaban lintas generasi. Semua itu menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan kekayaan hanya menjadi alat akumulasi pribadi, tetapi harus menjadi energi sosial yang menghidupkan masyarakat.
Islam memahami, ketika kekayaan hanya berputar di lingkaran elite, maka yang lahir bukan keberkahan, tetapi ketimpangan. Yang tumbuh bukan solidaritas, tetapi kecemburuan sosial. Dan ketika ketimpangan dibiarkan terlalu jauh, maka stabilitas sebuah bangsa perlahan akan rapuh. Karena itu dimensi sosial dari syariat inilah yang sesungguhnya sedang diupayakan negara melalui tata kelola perbendaharaan dan kebijakan fiskal.
Negara hadir agar anggaran tidak hanya berputar di pusat-pusat kekuatan ekonomi, tetapi mengalir kepada rakyat kecil, kepada petani, nelayan, buruh, pelaku UMKM, dan kelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling bawah struktur ekonomi.
Negara yang dibangun di atas spirit tauhid sosial tidak boleh membiarkan kemakmuran menjadi milik segelintir orang, sementara sebagian rakyat hidup di bawah bayang-bayang kecemasan. Di sinilah kita memahami bahwa distribusi keadilan bukan sekadar agenda ekonomi. Ia adalah eksaminasi tauhid.
Spirit Tauhid Kebangsaan
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Bangsa ini membutuhkan fondasi moral yang mampu menjaga persatuan di tengah ketimpangan global, disrupsi teknologi, dan polarisasi sosial-politik. Di sinilah warisan Ibrahim menemukan relevansinya. Tauhid harus menjelma sebagai energi kebangsaan.
Tauhid harus melahirkan kepemimpinan yang amanah. Tauhid harus melahirkan keberpihakan kepada yang lemah. Tauhid harus melahirkan rasa keadilan sosial. Sebab ketika manusia benar-benar meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Tinggi, maka tidak boleh ada manusia yang merasa paling berhak menindas manusia lain. Ketika semua manusia sama-sama hamba Allah, maka keadilan menjadi konsekuensi logis dari tauhid tersebut.
Menghancurkan berhala dalam konteks kebangsaan hari ini berarti melawan kerakusan ekonomi, melawan penyalahgunaan kekuasaan, melawan korupsi, melawan eksploitasi sumber daya alam yang merampas hak generasi mendatang, dan melawan sistem yang membiarkan rakyat kecil tersingkir.
Kita sedang menyaksikan transformasi itu dengan mata kepala sendiri. Program makan bergizi bukan sekadar kebijakan teknokratis, ia adalah manifestasi tauhid. Solidaritas kepada anak-anak Indonesia yang esok akan memimpin negeri. Survei Universitas Gadjah Mada mencatat jika hanya 60 persen anak berangkat sekolah dengan perut kosong, dan hanya 32 persen yang mengonsumsi gizi seimbang. Artinya, ini masalah sosial yang harus dipecahkan.
Reformasi penyelenggaraan haji pun menjadi bukti keberpihakan negara. Pembangunan Kampung Haji dan perbaikan tata kelola antrean bukan sekadar fasilitas fisik. Ia adalah penghormatan terhadap martabat jutaan jamaah, agar doa Ibrahim yang lirih di padang pasir ribuan tahun lalu terus dijawab oleh hati umat Islam dari Indonesia tanpa dibebani birokrasi yang menyiksa.
Lebih mendasar lagi adalah revolusi ekonomi yang sedang digerakkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Untuk pertama kalinya, Pasal 33 UUD 1945 diimplementasikan tanpa kompromi. Cukup sudah kekayaan sumber daya alam yang bocor Rp15.000 triliun akibat praktik mafia korporasi, under-invoicing, dan transfer pricing. Kini semua dalam pengawasan negara.
Demikian pula manifestasi tauhid melalui penertiban tambang ilegal, penyitaan 5,8 juta hektar hutan, serta denda Rp370 triliun. Ini adalah perlawanan frontal terhadap berhala ekonomi, konglomerat hitam yang selama ini merampas hak rakyat. Pada saat yang sama, kita menyaksikan capaian stok beras nasional mencapai rekor 5,3 juta ton.
Tingkat pengangguran turun ke 4,6 persen yang merupakan titik terendah dalam sejarah modern. Dalam pidatonya, Presiden juga mendorong agar bank-bank BUMN tak lagi hanya melayani konglomerat, melainkan menjadi lokomotif ekonomi bagi UMKM dan rakyat kecil.
Berbagai kebijakan itu, harus dibaca dengan kacamata spiritual, bahwa di bawah komado Presiden Prabowo pemerintah tengah menegakkan tauhid dalam manifestasi kehidupan berbangsa. Indonesia tidak boleh menjadi negeri yang megah secara statistik tetapi rapuh secara moral. Kita membutuhkan pembangunan yang tidak hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun solidaritas sosial, rasa keadilan, dan harapan kolektif.
Nabi Ibrahim telah menunjukkan kepada kita bahwa peradaban besar lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari visi spiritual yang melahirkan keberanian moral. Dari sebuah lembah tandus bernama Makkah, Ibrahim menyalakan api tauhid yang hingga hari ini masih menggerakkan jutaan manusia.
Artinya, kekuatan terbesar sebuah bangsa sesungguhnya bukan terletak pada sumber daya alamnya, melainkan pada nilai yang menghidupkan jiwa kolektif rakyatnya. Dan bagi Indonesia, nilai itu adalah tauhid yang menjelma menjadi keadilan sosial, solidaritas, persatuan, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Itulah pelajaran terbesar Idul Adha. Bahwa agama harus melahirkan rahmat. Bahwa kekuasaan harus melahirkan keadilan. Dan bahwa kepemimpinan sejati adalah pengorbanan demi kemuliaan hidup sesama manusia. Wallahu a’lam bishshawab






