Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Tidak semua musuh datang dengan wajah garang. Ada yang tersenyum paling manis, berbicara paling lembut, bahkan memuji paling tinggi. Namun di balik senyumnya, ia menyimpan luka yang bukan karena disakiti, melainkan karena tidak rela melihat orang lain memperoleh nikmat. Itulah hasad, yakni penyakit hati yang diam-diam membakar pemiliknya sebelum membakar orang yang didengkinya.
Para ulama salaf berkata:
لِلْحَاسِدِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: يَغْتَابُ إِذَا غَابَ الْمَحْسُودُ، وَيَتَمَلَّقُ إِذَا شَهِدَ، وَيَشْمَتُ بِالْمُصِيبَةِ.
“Orang yang hasad memiliki tiga tanda: ia menggunjing ketika orang yang didengkinya tidak ada, berpura-pura manis ketika berhadapan dengannya, dan bergembira ketika musibah menimpanya.”
(Hilyatul Auliya’, Juz 4, hlm. 47).
Betapa telanjang penyakit ini dibongkar oleh para ulama. Ketika orang yang didengki tidak hadir, lisannya berubah menjadi pisau yang mengiris kehormatan saudaranya. Ketika mereka bertemu, wajahnya berubah menjadi topeng yang penuh pujian dan keramahan. Namun ketika saudaranya tertimpa musibah, hatinya diam-diam bersorak. Inilah ironi paling menyedihkan, yakni mulutnya mengucapkan doa, tetapi hatinya merayakan derita.
Hasad adalah satu-satunya penyakit yang membuat seseorang lebih menderita oleh kebahagiaan orang lain daripada oleh kesulitannya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar menikmati nikmat yang Allah berikan kepadanya, karena matanya terus sibuk menghitung nikmat yang diberikan kepada orang lain. Akibatnya, hidupnya dipenuhi perbandingan, bukan rasa syukur, dipenuhi kegelisahan, bukan ketenangan.
Yang lebih berbahaya, hasad sering menyamar sebagai kritik, nasihat, atau kepedulian. Padahal yang berbicara bukan akal sehat, melainkan hati yang terluka oleh iri. Karena itu, tidak semua kritik lahir dari cinta kepada kebenaran, sebagian lahir karena tidak sanggup melihat orang lain lebih berhasil.
Di era media sosial, penyakit ini menemukan panggungnya. Kita mudah tersenyum di kolom komentar, tetapi diam-diam berharap orang yang kita puji tersandung. Kita mudah menekan tombol “suka”, tetapi hati terasa sempit ketika melihat orang lain diberi keberhasilan. Bahkan tidak sedikit yang lebih cepat menyebarkan kegagalan seseorang daripada mendoakan kesuksesannya. Hasad telah berubah menjadi budaya yang dibungkus dengan kesopanan.
Padahal setiap nikmat adalah keputusan Allah, bukan hasil rebutan manusia. Ketika kita iri kepada nikmat saudara kita, sesungguhnya kita sedang mempertanyakan kebijaksanaan Allah dalam membagi karunia-Nya. Orang yang hasad bukan hanya bermasalah dengan sesamanya, tetapi juga belum berdamai dengan ketetapan Tuhannya.
Karena itu, obat hasad bukanlah menjatuhkan orang lain, melainkan meninggikan kualitas diri sendiri. Belajarlah bersyukur atas apa yang Allah titipkan kepada kita, mendoakan kebaikan bagi orang lain, dan bergembira atas kebahagiaan saudara kita. Sebab hati yang dipenuhi syukur tidak memiliki ruang untuk menumbuhkan kedengkian.
Karena itu, Jika kita sedih melihat orang lain bahagia, mungkin yang perlu diperbaiki bukan nasib mereka, melainkan hati kita. Dan jika kita bahagia melihat orang lain menderita, mungkin musibah yang paling besar sesungguhnya bukan yang menimpa mereka, tetapi penyakit yang sedang menggerogoti jiwa kita.
Karena Hasad tidak pernah mengurangi nikmat orang lain, tetapi selalu mengurangi ketenangan pemiliknya. Ia adalah api yang mula-mula membakar hati pendengki sebelum berusaha membakar orang yang didengkinya. Maka, jangan sibuk memadamkan cahaya orang lain; nyalakanlah cahaya dalam hatimu sendiri.
#Wallahu A’lam Bishawab






