Mengapa Investor Belum Datang ke Bulukumba?

Oleh: Syafruddin Mualla, Ketua Umum FKPB (Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba)

Bulukumba memiliki hampir semua yang dicari investor. Daerah ini kaya akan sumber daya alam, memiliki posisi geografis yang strategis di kawasan selatan Sulawesi, serta didukung masyarakat yang produktif. Kelapa tumbuh hampir di seluruh wilayah, rumput laut menjadi komoditas unggulan masyarakat pesisir, sektor perikanan memiliki potensi besar, produksi padi menjadi penopang ketahanan pangan, dan industri perahu Pinisi telah mengharumkan nama Bulukumba hingga ke tingkat dunia.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, di tengah kekayaan tersebut, Bulukumba hingga kini belum mampu menarik investasi berskala besar yang dapat mengubah potensi menjadi industri, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Mengapa investor belum datang ke Bulukumba?

Jawabannya bukan karena Bulukumba kekurangan potensi. Persoalannya adalah potensi yang dimiliki belum sepenuhnya diubah menjadi peluang investasi yang nyata, siap ditawarkan, dan mampu bersaing dengan daerah lain.

Persoalan pertama adalah masih dominannya penjualan bahan baku. Kelapa, rumput laut, hasil perikanan, dan sebagian hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan. Selama kondisi ini berlangsung, Bulukumba akan tetap menjadi pemasok bahan baku, bukan pusat pertumbuhan industri.

Persoalan kedua adalah biaya logistik yang masih relatif tinggi. Sebagian besar komoditas unggulan Bulukumba masih harus melalui pelabuhan di daerah lain sebelum dipasarkan ke pasar nasional maupun ekspor. Rantai distribusi yang panjang meningkatkan biaya, mengurangi daya saing, dan menjadi pertimbangan penting bagi investor.

Karena itu, penguatan infrastruktur logistik, termasuk pengembangan pelabuhan niaga yang mampu menjadi gerbang distribusi dan ekspor kawasan selatan Sulawesi, perlu menjadi agenda strategis pembangunan daerah.

Selain logistik, infrastruktur ekonomi juga harus terus diperkuat. Ketersediaan listrik yang andal, air bersih, jalan, jaringan telekomunikasi, serta fasilitas pendukung lainnya merupakan kebutuhan dasar bagi setiap investasi.

Bulukumba sebenarnya telah menetapkan kawasan peruntukan industri dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Langkah ini patut diapresiasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan tersebut benar-benar siap menerima investasi melalui kepastian lahan, infrastruktur yang memadai, serta pelayanan investasi yang cepat, mudah, dan terintegrasi.

Investor juga membutuhkan kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, serta situasi daerah yang aman dan kondusif. Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia perlu terus ditingkatkan melalui pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan kemitraan antara dunia pendidikan dengan dunia usaha agar tenaga kerja lokal siap memenuhi kebutuhan industri.

Membangun iklim investasi bukan hanya tugas pemerintah. Dunia usaha, perbankan, akademisi, media, organisasi kemasyarakatan, LSM, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang kondusif. Investasi yang mematuhi hukum, menghormati hak masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan perlu didukung bersama. Jika muncul persoalan, penyelesaiannya harus mengedepankan dialog dan musyawarah sehingga kepastian berusaha tetap terjaga.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Bulukumba harus menjadikan hilirisasi sebagai strategi utama pembangunan ekonomi. Kelapa perlu diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Rumput laut harus masuk ke industri pengolahan. Sektor perikanan perlu didukung dengan pembangunan cold storage dan industri pengolahan hasil laut. Sementara itu, sektor pertanian perlu diperkuat melalui pembangunan Rice Milling Unit (RMU) modern, fasilitas pengering gabah, gudang penyimpanan, dan pengemasan beras bermerek sehingga nilai tambah tetap dinikmati oleh petani dan masyarakat Bulukumba.

Promosi investasi juga harus berubah. Daerah tidak cukup hanya menawarkan potensi, tetapi harus mampu menyajikan proyek-proyek investasi yang siap dijalankan, didukung data yang akurat, studi kelayakan, kepastian lahan, serta prospek bisnis yang jelas.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba tentu telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pembangunan dan iklim investasi. Namun, tantangan yang dihadapi masih cukup besar sehingga membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, akademisi, lembaga pendidikan, media, organisasi masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

FKPB (Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba) meyakini bahwa investasi adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, FKPB siap menjadi pusat kolaborasi bisnis, investasi, dan hilirisasi daerah yang mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan dunia pendidikan untuk melahirkan lebih banyak proyek investasi yang matang, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Investor tidak datang karena belas kasihan. Investor datang karena melihat peluang, kepastian, efisiensi, dan prospek keuntungan.

Bulukumba tidak kekurangan potensi. Yang perlu kita bangun adalah ekosistem investasi yang kuat. Ketika hilirisasi berkembang, logistik semakin efisien, kawasan industri semakin siap, pelayanan publik semakin profesional, dan seluruh elemen daerah bergerak dalam semangat kolaborasi.

Saya yakin Bulukumba akan bertransformasi dari daerah penghasil bahan baku menjadi pusat investasi, industri, dan pertumbuhan ekonomi baru di kawasan selatan Sulawesi. Itulah tantangan sekaligus peluang besar yang harus kita wujudkan bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *