TEGUH DI TENGAH BISING: Cara Menjaga Hati di Zaman Scrolling

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Ada satu fenomena yang diam-diam sedang mengubah wajah manusia modern. Jarinya semakin aktif, tetapi hatinya semakin pasif. Matanya semakin banyak melihat, tetapi jiwanya semakin sedikit memahami. Hari ini dunia tidak lagi berada di luar rumah. Dunia telah berpindah ke dalam genggaman tangan. Melalui sebuah layar kecil, manusia dapat melihat ribuan wajah, mendengar ribuan pendapat, dan menyaksikan ribuan peristiwa dalam satu hari.

Fenomena itu disebut scrolling. Pada awalnya, scrolling hanyalah aktivitas menggulir layar untuk membaca informasi. Namun perlahan ia berubah menjadi kebiasaan, bahkan menjadi gaya hidup. Bangun tidur scrolling, menunggu scrolling, istirahat scrolling, menjelang tidur scrolling. Tanpa disadari, waktu habis, energi terkuras, dan perhatian tercerai-berai.

Masalahnya bukan karena manusia melihat terlalu banyak, melainkan karena tidak semua yang dilihat layak masuk ke dalam hati. Setiap informasi yang dibaca meninggalkan bekas. Setiap gambar yang dilihat meninggalkan jejak. Setiap tontonan yang dinikmati perlahan membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara memandang kehidupan. Karena itu, scrolling sebenarnya bukan sekadar aktivitas jari, melainkan aktivitas hati.

Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini seakan berbicara kepada manusia modern. Sebab salah satu penyakit terbesar zaman ini bukan kurang informasi, melainkan berlimpahnya informasi yang membuat manusia lalai dari Allah. Ironisnya, semakin banyak yang diketahui tentang dunia, semakin sedikit yang diketahui tentang dirinya sendiri. Banyak yang memahami kehidupan orang lain, tetapi tidak memahami keadaan hatinya sendiri. Banyak yang mengikuti perkembangan zaman, tetapi kehilangan arah perjalanan menuju Tuhan.

Allah Swt. kembali mengingatkan:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, tetapi terhadap akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Betapa relevannya ayat ini. Manusia mengetahui tren terbaru, aplikasi terbaru, dan berita terbaru, tetapi tidak mengetahui sejauh mana hatinya masih hidup. Bahaya terbesar scrolling bukanlah habisnya waktu, melainkan hilangnya kesadaran. Ketika hati terlalu sibuk melihat ke luar, ia kehilangan kemampuan melihat ke dalam.

Hasan Al-Bashri berkata:
مَا زَالَ التَّقِيُّ بِخَيْرٍ مَا كَانَ لَهُ وَاعِظٌ مِنْ نَفْسِه
“Seorang yang bertakwa akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih memiliki hati yang mampu menasihati dirinya sendiri.”

Masalahnya, bagaimana hati akan menasihati jika setiap saat ditenggelamkan oleh suara-suara dari luar? Kita hidup di zaman ketika semua ingin dilihat, semua ingin didengar, dan semua ingin menjadi pusat perhatian. Padahal Allah tidak memerintahkan kita menjadi manusia yang paling terkenal. Allah memerintahkan kita menjadi manusia yang paling bertakwa.

Rasulullah SAW.bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Karena itu, teguh di tengah bising bukan berarti meninggalkan teknologi. Yang diperlukan adalah menjaga agar hati tetap menjadi pemimpin, bukan tawanan. Gunakan media sosial, tetapi jangan biarkan media sosial menggunakan hati kita. Lihat dunia, tetapi jangan kehilangan diri sendiri. Ikuti perkembangan zaman, tetapi jangan kehilangan arah menuju Allah.

Sesekali berhentilah menggulir layar, lalu mulailah menggulir hati. Tanyakan kepada diri sendiri, “Sudah sejauh mana aku mengenal dunia?” Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting, “Sudah sejauh mana aku mengenal Allah?”

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukan apa yang pernah dilihat oleh matanya, melainkan apa yang berhasil dijaga di dalam hatinya.
> يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

Di zaman scrolling, kemenangan terbesar bukanlah menjadi yang paling viral, paling banyak pengikutnya, atau paling sering dibicarakan. Kemenangan terbesar adalah tetap memiliki hati yang hidup ketika banyak hati telah kehilangan arah, tetap memiliki nurani yang jernih ketika banyak manusia tenggelam dalam kebisingan, dan tetap dekat dengan Allah ketika dunia berlomba-lomba menjauhkan manusia dari-Nya.
Sebab keteguhan hati tidak lahir dari dunia yang tenang, tetapi lahir dari hati yang selalu terhubung dengan Allah di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *