BALI – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali, I Nyoman Parta, menyoroti semakin sulitnya generasi muda Bali memiliki rumah dan lahan di daerahnya sendiri. Kondisi tersebut, menurutnya, dipicu oleh tingginya laju pembelian tanah oleh investor yang menyebabkan harga lahan terus meroket dan semakin jauh dari jangkauan masyarakat lokal.
Politikus PDI Perjuangan itu menilai fenomena komersialisasi dan industrialisasi tanah di Bali telah mengubah struktur kepemilikan lahan secara signifikan. Meningkatnya permintaan terhadap tanah dari kalangan investor membuat harga terus terdorong naik mengikuti mekanisme pasar.
Menurut Parta, situasi tersebut menimbulkan persoalan sosial yang serius karena masyarakat lokal, terutama generasi muda, semakin kesulitan memperoleh lahan untuk tempat tinggal. Dengan tingkat pendapatan yang relatif terbatas, banyak keluarga muda Bali tidak lagi mampu membeli tanah untuk membangun rumah sendiri.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan semakin banyak keluarga yang harus tinggal bersama orang tua dalam satu rumah dengan beberapa kepala keluarga sekaligus. Bahkan tidak sedikit pasangan muda yang terpaksa menyewa tempat tinggal di desa adatnya sendiri karena harga tanah sudah tidak lagi terjangkau.
Parta menilai pemerintah perlu memikirkan langkah-langkah strategis untuk menjamin akses masyarakat lokal terhadap hunian yang layak. Menurutnya, tanpa kebijakan yang berpihak kepada warga setempat, generasi muda Bali akan semakin sulit mempertahankan hak untuk tinggal di tanah kelahirannya sendiri.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Parta menggambarkan realitas yang ia temukan langsung di tengah masyarakat.
“Fakta ini saya temukan dilapangan banyak keluarga, tiga KK, Empat KK tinggal berdesakan dirumah tua,, bahkan pasangan muda memilih Kos di Desa adatnnya sendiri krn harga kapling tanah sudah tidak terjangkau 300 Jt sampai 1,M Bahkan di Desa Kami Guwang harga kapling sdh 500 jt per are , bagaimana mungkin bisa terbeli dengan gaji UMK tahun ini Apa kita perlu membangun rumah susun ala Bali ya ,? atau ada tawaran solusi lain , mari sumbang pendapat ya, diskusinya dg tenang jangan marah ya,” seperti dikutip di Instagram pribadinya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi atas persoalan tersebut. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pembangunan rumah susun dengan konsep yang tetap mengakomodasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Bali. Namun demikian, Parta menegaskan bahwa diperlukan diskusi yang matang dan keterlibatan berbagai pihak agar solusi yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, persoalan akses terhadap tanah dan hunian tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan sosial, budaya, dan identitas masyarakat Bali di masa depan. Karena itu, langkah nyata perlu segera dirumuskan agar generasi mendatang tetap memiliki kesempatan hidup dan berkembang di tanah leluhurnya sendiri.






