Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah menciptakan manusia dari tiada menjadi ada, memberikan kehidupan, rezeki, petunjuk, serta berbagai nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh kehidupan manusia sesungguhnya dikelilingi oleh lautan nikmat. Setiap detik yang kita jalani merupakan karunia. Setiap hembusan napas adalah anugerah. Setiap denyut jantung adalah rahmat yang tidak pernah kita bayar.
Namun sayangnya, manusia sering kali lebih mudah menghitung kesulitan daripada mensyukuri nikmat. Ketika kehilangan sesuatu yang kecil, ia bersedih berhari-hari. Tetapi ketika menerima ribuan nikmat setiap hari, ia sering lupa mengucapkan syukur.
Di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan, para ulama menjelaskan bahwa ada tiga nikmat besar yang menjadi pondasi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Ketiga nikmat tersebut adalah nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, serta nikmat rasa aman.
Apabila ketiga nikmat ini berkumpul dalam diri seseorang, maka sesungguhnya ia telah memperoleh kekayaan yang jauh lebih berharga daripada harta benda, jabatan, dan kemewahan dunia.
Nikmat Pertama: Iman dan Islam, Cahaya Kehidupan yang Sesungguhnya
Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat iman dan Islam. Mengapa?
Karena iman adalah petunjuk yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Dengan iman, seseorang mengetahui tujuan hidupnya. Ia memahami dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Bayangkan jika seseorang memiliki kekayaan melimpah, rumah mewah, kendaraan mahal, dan kedudukan tinggi, tetapi tidak memiliki iman. Secara lahiriah ia tampak bahagia, tetapi batinnya kosong. Ia mungkin tertawa di hadapan manusia, namun menangis dalam kesendirian.
Iman memberikan makna kepada kehidupan. Ketika seorang mukmin mendapat nikmat, ia bersyukur.
Ketika mendapat ujian, ia bersabar. Ketika berbuat salah, ia bertaubat. Ketika kehilangan sesuatu, ia ridha. Ketika menghadapi kematian, ia memiliki harapan bertemu dengan Allah SWT.
Inilah keindahan iman. Banyak orang hidup dalam kemewahan tetapi tidak menemukan ketenangan. Sebaliknya, banyak hamba Allah yang hidup sederhana namun memiliki hati yang damai karena iman memenuhi dadanya.
Nikmat Islam juga merupakan anugerah yang luar biasa. Allah memilih kita menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Kita mengenal syahadat, mengenal Al-Qur’an, mengenal shalat, puasa, zakat, dan berbagai ibadah yang menjadi jalan keselamatan.
Tidak semua manusia mendapatkan hidayah ini. Karena itu, ketika kita masih mampu mengucapkan kalimat tauhid, masih mencintai Al-Qur’an, masih tergerak menuju masjid, sesungguhnya itu adalah tanda kasih sayang Allah kepada kita.
Nikmat Kedua: Kesehatan, Harta yang Sering Terlupakan
Rasulullah SAW bersabda bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Banyak orang baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika ia kehilangan kesehatan tersebut.
Ketika masih sehat, seseorang mampu berjalan ke mana saja. Ia bisa bekerja, beribadah, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati kehidupan.
Namun ketika sakit datang, semuanya berubah. Makanan yang dulu terasa biasa menjadi nikmat luar biasa.
Tidur yang dulu dianggap hal sepele menjadi kemewahan. Bahkan sekadar bernapas tanpa bantuan alat menjadi karunia yang sangat besar.
Kesehatan bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang melaksanakan ibadah dengan baik.
Pikiran yang sehat membuat seseorang mampu mengambil keputusan yang bijaksana. Hati yang sehat menjadikan seseorang mudah menerima nasihat dan dekat dengan Allah.
Karena itu, menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan pola hidup yang sehat melalui makanan yang halal dan baik, kebersihan, olahraga sederhana, serta menjaga keseimbangan hidup.
Jangan menunggu sakit untuk mensyukuri sehat. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilainya.
Nikmat Ketiga: Rasa Aman, Karunia yang Tak Ternilai
Nikmat ketiga adalah rasa aman. Sering kali manusia tidak menyadari betapa mahalnya keamanan hingga ia hidup dalam ketakutan.
Orang yang hidup dalam suasana perang akan merindukan kedamaian. Orang yang hidup dalam konflik akan merindukan ketenteraman.
Orang yang hidup dalam ancaman akan merindukan keamanan. Karena itu, rasa aman merupakan nikmat yang sangat besar.
Ketika seseorang dapat tidur nyenyak tanpa rasa takut, berjalan tanpa ancaman, beribadah dengan tenang, serta mencari nafkah dengan damai, sesungguhnya ia sedang menikmati karunia besar dari Allah SWT.
Keamanan bukan hanya kondisi lingkungan. Keamanan juga berarti ketenangan hati.
Ada orang yang tinggal di rumah megah tetapi hatinya gelisah. Ada pula orang yang tinggal sederhana tetapi hidupnya tenang. Ketenteraman hati lahir dari kedekatan dengan Allah SWT.
Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hadis tentang Tiga Nikmat Besar
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang bangun pagi dalam keadaan aman pada dirinya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya dunia seluruhnya.”
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebahagiaan tidak selalu terletak pada banyaknya harta.
Sering kali manusia mengejar sesuatu yang jauh sementara melupakan nikmat yang sudah ada di depan mata.
Jika hari ini kita masih bisa bangun dari tidur, masih sehat, masih aman, dan masih memiliki makanan, maka sesungguhnya kita termasuk orang yang sangat kaya di sisi Allah.
Ketika Allah Merindukan Hamba-Nya
Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya tidak pernah berhenti. Bahkan ketika seorang hamba menjauh, Allah tetap membuka pintu taubat.
Dalam kehidupan, ada saat-saat tertentu yang menunjukkan bahwa Allah sedang memanggil dan merindukan seorang hamba untuk kembali kepada-Nya.
Terbangun di Sepertiga Malam
Salah satu tanda yang sering dirasakan para hamba saleh adalah terbangun pada sepertiga malam terakhir.
Di saat manusia lain masih terlelap, Allah membangunkan sebagian hamba-Nya untuk bermunajat.
Waktu ini merupakan saat yang sangat istimewa. Doa-doa dipanjatkan. Air mata taubat mengalir.
Dosa-dosa diakui. Hati yang keras mulai melembut. Tidak semua orang memperoleh kesempatan ini.
Karena itu, jika suatu malam Allah membangunkan kita tanpa alarm, jangan sia-siakan kesempatan tersebut.
Ujian yang Mengingatkan
Sering kali manusia menjadi lalai ketika hidup terlalu nyaman. Karena kasih sayang-Nya, Allah terkadang memberikan ujian agar manusia kembali mengingat-Nya.
Kehilangan pekerjaan. Masalah keluarga. Kesulitan ekonomi. Penyakit. Kegagalan.
Semua itu bisa menjadi jalan yang mengantarkan seseorang kembali kepada Allah. Banyak orang justru menemukan hidayah setelah melewati masa-masa sulit.
Mereka menjadi lebih dekat dengan Allah dibandingkan ketika hidup mereka penuh kemewahan.
Mudah Mengingat Kematian
Salah satu tanda hati yang hidup adalah sering mengingat kematian. Mengingat kematian bukan berarti pesimis.
Sebaliknya, ia membuat manusia lebih bijaksana. Orang yang mengingat kematian akan berhati-hati dalam berbicara.
Ia menjaga perilaku. Ia memperbanyak amal saleh. Ia tidak mudah terjebak dalam kesombongan dunia.
Karena ia sadar bahwa suatu hari semua yang dimiliki akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal perbuatan.
Gelisah terhadap Amal Tanda berikutnya adalah selalu merasa amalnya belum cukup.
Para sahabat Nabi yang dijamin surga sekalipun tetap takut jika amal mereka tidak diterima. Mereka tidak pernah merasa suci.
Mereka tidak pernah bangga dengan ibadah mereka. Sebaliknya, mereka terus memperbaiki diri.
Perasaan inilah yang menjaga seorang mukmin dari kesombongan. Menemukan Kenikmatan dalam Ibadah
Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikan ibadah terasa nikmat. Shalat bukan lagi beban. Dzikir menjadi kebutuhan.
Membaca Al-Qur’an menjadi penyejuk hati. Mendengar adzan menimbulkan kerinduan. Inilah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan harta apa pun.
Tiga Amalan yang Paling Dicintai Allah
Suatu ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai amalan yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab:
1. Shalat pada Waktunya
Shalat adalah tiang agama. Shalat merupakan hubungan langsung antara hamba dan Rabb-nya. Orang yang menjaga shalat berarti menjaga agamanya.
Sebaliknya, orang yang meremehkan shalat sedang meruntuhkan pondasi kehidupannya sendiri. Shalat yang dilakukan tepat waktu menunjukkan bahwa Allah menjadi prioritas utama dalam hidup seorang mukmin.
2. Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Tidak ada pengorbanan yang mampu membalas jasa mereka.
Sejak dalam kandungan, seorang ibu telah menanggung kesulitan demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, berbakti kepada orang tua merupakan jalan besar menuju surga. Bahkan senyum kepada mereka bisa menjadi amal yang bernilai tinggi di sisi Allah.
3. Jihad di Jalan Allah
Jihad memiliki makna yang luas. Tidak hanya berperang.
Jihad juga berarti berjuang melawan hawa nafsu, menuntut ilmu, berdakwah, membantu sesama, menegakkan kebenaran, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk kemaslahatan umat.
Setiap muslim memiliki medan jihadnya masing-masing. Guru berjihad melalui pendidikan. Ulama berjihad melalui dakwah.
Orang tua berjihad melalui pengasuhan anak. Pemimpin berjihad melalui keadilan. Pedagang berjihad melalui kejujuran. Rahasia Istiqamah
Selain amalan besar, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.
Istiqamah lebih berat daripada memulai. Banyak orang bersemangat sesaat tetapi berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, orang yang istiqamah terus berjalan meskipun perlahan.
Satu halaman Al-Qur’an setiap hari lebih baik daripada satu juz yang hanya dibaca sesekali. Dua rakaat tahajud yang rutin lebih baik daripada banyak rakaat yang hanya dilakukan sekali.
Sedekah kecil yang konsisten lebih baik daripada sedekah besar yang tidak berkelanjutan.
Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur
Pada akhirnya, kehidupan adalah tentang bagaimana kita menyikapi nikmat yang Allah berikan. Iman dan Islam harus disyukuri dengan ketaatan.
Kesehatan harus disyukuri dengan ibadah dan menjaga tubuh. Keamanan harus disyukuri dengan memperbanyak amal saleh dan menjaga kedamaian.
Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Jangan menunggu sakit untuk menghargai sehat. Jangan menunggu kesulitan untuk mengingat Allah.
Karena kebahagiaan sejati bukanlah ketika manusia memiliki segala yang diinginkannya, tetapi ketika ia mampu mensyukuri segala yang telah Allah berikan kepadanya.
Semoga Allah SWT menjaga iman kita, melimpahkan kesehatan kepada kita, memberikan keamanan dalam kehidupan kita, menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, serta menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.






